Hingga ulasan ini disunting, harga saham Uber di sesi perdagangan after hours telah ambruk hingga 5,5% akibat rilis kinerja keuangan yang masih suram itu.

Sesi perdagangan awal pekan ini di bursa saham Wall Street akhirnya diwarnai dengan rilis kinerja kuartalan salah satu perusahaan yang sedang naik daun, Uber.  Perusahaan transportasi online tersebut dengan menyedihkan kembali melaporkan kinerja yang jauh dari mengesankan bagi investor di kuartal ke tiga tahun ini.

Laporan lebih jauh menyebutkan, kinerja pendapatan Uber yang memang telah mampu melampauai ekspektasi pelaku pasar. Namun kinerja perolehan laba operasional justru masih terjebak dalam kerugian yang cukup besar.

Pada sepanjang kuartal yang berakhir September lalu, perusahaan yang dipimpin oleh Dara Khosrowshasi tersebut membukukan kerugian sebesar $1,16 milar atau setara dengan Rp16 triliun.  Laporan menyebutkan bahwa kinerja yang meugi tersebut  yang telah diyakini investor sebelumnya.

Laporan terkait sebelumnya juga menyebutkan, di kuartal sebelumnya kinerja keuangan Uber yang juga masih tekor, hingga membuat gerak harga saham perusahaan teknologi yang terkenal di dunia itu semakin terpangkas dalam.

Pantauan terkini dari sesi perdagangan after hours menunjukkan, gerak harga saham Uber yang kembali terperosok tragis hingga 5,5% untuk bertengger di kisaran $29,37. Sementara di sesi perdagangan reguler, saham Uber terpantau telah turun terlebih dulu sebesar 0,9% di $31,08.

Kinerja harga saham Uber menjadi lebih tragis ketika dibandingkan dengan posisi penutupan di 30 Oktober lalu yang berada di $33,71, yang berarti telah mengalami  keruntuhan ekstrim sebesar 12,9%.

Rilis kinerja Uber yang masih jauh dari harapan dan ekspektasi pelaku pasar ini, sekaligus memberikan peringatan bagi banyak pihak yang akhir-akhir ini sibuk mengunggulkan atau mengandalkan perusahaan Unicorn.