Melesatnya karir Idham Azis ini tak lepas dari peranan Tito Karnavian.

Jalan Idham Azis menjadi Kepala Kepolisian RI atau Kapolri mulus. Setelah dicalonkan Presiden Joko Widodo sebagai pengganti Tito Karnavian, yang ditarik menjadi Menteri Dalam Negeri, langkah Idham Azis pun lancar di DPR. Secara aklamasi, DPR setuju Idham Azis menjadi Kapolri.

Kini, Idham Azis resmi menjadi Kapolri. Pangkat jenderal penuh alias bintang empat kini resmi disandang Idham Azis.

Profil dan Jejak Idham Azis sebelum Jadi Kapolri

Idham Azis lahir di Kendari, Sulawesi Tenggara, 30 Januari 1963. Dia merupakan polisi lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1988.

Dia mengawali karir sebagai polisi sebagai Pamapta Polres Bandung, Jawa Barat. Sebulan kemudian, dia diangkat menjadi Kepala Urusan Bina Operasi Lalu Lintas Polres Bandung. Jabatan terakhir Idham saat ini Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri.

Idham sangat berpengalaman dalam bidang reserse dan anti-teror. Ia tercatat pernah terlibat dalam penanganan kasus terorisme, di antaranya: Bom Bali II, Operasi Camar Maleo untuk menangkap kelompok Santoso, hingga Operasi Tinombala di Poso.

Pada Juli 1999, Idham diangkat sebagai Kepala Unit VC Satuan Serse UM Direktorat Serse Polda Metro Jaya. Setahun menjabat, ia dipercaya menjadi wakil kepala Satuan Serse UM Direktorat Serse Polda Metro Jaya.

Nama Idham terus bersinar. Dia dipercaya sebagai perwira menengah Sekolah Staf dan Kepemimpinan Dediklat Polri dan kepala Satuan I Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah metro Jaya di tahun yang sama, yakni 2002.

Melesatnya karir Idham Azis ini tak lepas dari peranan Tito Karnavian. Pada tahun 2000, dia pernah terlibat bersama Tim Kobra bentukan Tito Karnavian saat memburu putra bungsu presiden RI kedua Soeharto Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto. Kala itu, Tommy terlibat kasus pembunuhan terhadap hakim agung Syafiuddin Kartasasmita.

Tim Kobra berhasil menangkap Tommy pada 28 November 2001.

Usai kasus Tommy, Idham dan Tito kembali berada dalam satu tim saat terlibat dalam penanganan kasus terorisme, di antaranya: Bom Bali II, Operasi Camar Maleo untuk menangkap kelompok Santoso, hingga Operasi Tinombala di Poso.

Salah satu prestasi Idham Azis dalam penanganan anti-teror saat ia terlibat dalam operasi melumpuhkan “gembong” Jamaah Islamiyah, Dr Azhari dan kelompoknya di Batu, Jawa Timur, pada November 2005. Idham saat itu menjabat Kepala Unit Riksa Subden Investigasi Densus Polri.

Atas prestasi itu, suami dari Fitri Handari itu bersama kolega dia, seperti Tito Karnavian, Petrus Reinhard Golose, Rycko Amelza Dahniel mendapat penghargaan dari Kapolri Jenderal Polisi Sutanto. Idham bersama Tito, Golose, Rycko, dan M. Syafei kemudian mendapat kenaikan pangkat luar biasa dari Kapolri. Saat itu, Idham dan empat anggota Densus 88 lainnya berpangkat AKBP menjadi Komisari Besar Polisi (Kombes Pol).

Saat Tito menjabat Kapolri, karir Idham terus menanjak. Dari Kapolda Sulteng pada periode 2014-2016, Inspektur Wilayah II Inspektorat Pengawasan Umum Polri (Maret-September 2016), Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri (September 2016-Juli 2017).

Pada 20 Juli 2017, ia menjadi Kapolda Metro Jaya ke-37 menggantikan Komjen Mochamad Iriawan. Dia berhasil mengungkap kasus penyelundupan narkotika jenis ganja seberat 1,3 ton dari Aceh ke Jakarta serta penyelundupan 1 ton sabu-sabu dari Taiwan di Anyer, Banten.

Pada 22 Januari 2019, Idham ditunjuk untuk menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri menggantikan Komjen Pol. Arief Sulistyanto yang ditugaskan menjadi kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri.

Selain itu, Idham juga turut ikut dalam tim investigasi penanganan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan sebagai penanggung jawab tim teknis. Tim mulai bekerja pada 19 Juli 2019.

Namun, hingga batas waktu yang ditentukan, tim masih belum bisa mengungkap pelaku penyerangan Novel Baswedan. Tenggat waktu yang diberikan Presiden Jokowi yakni pada 19 Oktober lalu. Kasus Novel menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Idham Azis.