Sederet menteri tersebut terlibat skandal Panama Papers saat mereka menduduki posisi penting dalam perusahaan yang dipimpinnya.

Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat ada empat menteri di Kabinet Indonesia Maju yang diduga tersangkut skandal Panama Papers. Mereka yakni, Luhut Binsar Pandjaitan, Erick Thohir, Prabowo Subianto dan Jhonny Plate.

Peneliti ICW Egi Primayoga mengatakan sederet menteri tersebut terlibat skandal Panama Papers saat mereka menduduki posisi penting dalam perusahaan yang dipimpinnya.

"Ini sebetulnya hanya reminder bahwa terdapat orang-orang di Indonesia yang tersangkut dalam kasus panama papers dan paradise papers. Saat ini ada empat orang di antaranya yang menjabat sebagai menteri," kata Egi di kantor ICW, Jakarta, Senin (28/10).

Egi menjelaskan, Luhut yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, saat itu tercatat sebagai Direktur Mayfair International Ltd. Perusahaan offshore ini didirikan pada 29 Juni 2006.

Sementara Erick Thohir yang saat ini menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) disebut-sebut terkait transaksi keuangan Astra Internasional selama 40 tahun (1977-2015).

Baca Juga:  8 Menteri dan Wamen Tutupi Harta Kekayaan, ICW Soroti Tito Karnavian

Kemudian, Egi menyebut nama Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto. Ketua Umum Partai Gerindra itu disebutkan pernah menjadi direktur dan wakil pimpinan Nusantara Energy Resources yang berkantor di Bermuda.

Perusahaan yang terdaftar pada 2001 ini tercatat sebagai penunggak utang, dan ditutup pada 2004. Perusahaan di Singapura yang namanya juga Nusantara Energy Resources kini adalah bagian dari Nusantara Group, dan sebagian dimiliki oleh Prabowo.

Tak hanya itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Jhonny Plate pun disebut-sebut masuk dalam daftar skanda Panama Papers. Nama Johnny dihubungkan dengan perusahaan di British Virgin Islands. Diketahui sebelum menjadi politikus Johnny merupakan petinggi di sejumlah perusahaan di antaranya Komisaris PT Air Asia, Komisaris Utama PT Aryan Indonesia, dan Direktur Utama PT Air Asia Investama.

Egi melanjutkan, kasus Panama Papers sempat menjadi perhatian dunia. Pasalnya mereka yang masuk dalam skandal tersebut diduga menggelapkan harta kekayaannya ke luar negeri. Jika itu benar terjadi, maka bisa disebut dengan cacat etik.

"Sedangkan di sini dianggap angin lalu saja tidak ada kelanjutannya, ada nama-nama menteri yang tersangkut di panama papers atau paradise papers. Yang dikhawatirkan adalah penuntasan kasus paradise papers dan panama papers di Indonesia tidak akan tuntas begitu," ujarnya.