Kata Erick Thohir, investasi yang hanya dari China itu justru membuat Indonesia dicap penanaman modal dari negara Tirai Bambu saja.

Menteri BUMN, Erick Thohir, menegaskan Indonesia harusnya tidak hanya mengandalkan investasi dari China. Padahal, negara-negara lain seperti Korea Selatan, Jepang, hingga Arab Saudi sebenarnya juga memiliki potensi untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Kata Erick Thohir, investasi yang hanya dari China itu justru membuat Indonesia dicap penanaman modal dari negara Tirai Bambu saja.

"Ketika ada investasi dari sahabat kita, dari negara Arab Saudi mau masuk kok tidak terjadi? Nanti selalu bahasnya 'oh investasi kok dari China saja'. Nah sebenarnya kan ada investasi dari Jepang, dan Korea juga tidak terdengar. Apalagi Arab Saudi," ujar Erick di Jakarta, Sabtu (26/10).

Diketahui, perusahaan minyak raksasa asal Arab, Saudi Aramco, misalnya telah menjalin kerja sama dengan PT Pertamina (Persero) dalam jual beli minyak mentah jenis Arabian Light Crude.

Selain itu, Saudi Aramco juga kemungkinan menjadi rekan bisnis Pertamina dalam pengembangan Kilang Cilacap. Namun, kedua pihak belum menandatangani Joint Venture Development Agreement (JVDA).

Baca Juga:  Dahlan Iskan Berdoa Agar Menteri BUMN Erick Thohir Selamat dari Jerat Birokrasi

Lobi investasi kilang Cilacap sudah berjalan selama 5 tahun. Indonesia sendiri sebenarnya sudah melakukan pendekatan ke Saudi Aramco sejak 2014 untuk berinvestasi di Kilang Cilacap.

"Apalagi dari Arab Saudi sekarang. Ini ada sahabat mau investasi, malah sudah 5 tahun tidak jadi, akhirnya keluarlah isu [investasi China], ini hal yang saya rasa harus dihindari," kata Erick.

Baca Juga:  Baru Kerja 2 Hari, Erick Thohir Sudah Dilaporkan ke Polisi

Pada awal kepemimpinan Jokowi pada 2015 lalu, nilai perdagangan China-Indonesia melejit menjadi US$48,2 miliar jika dibandingkan pada 2005 lalu yang hanya mencapai US$8,7 miliar.

Kini, China juga menggantikan Jepang sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. Pada era Jokowi, pemerintah menggandeng China untuk berinvestasi di sejumlah proyek infrastruktur besar negara, salah satunya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.