Berdasarkan data histori, suhu maksimum di Indonesia belum pernah mencapai 40 derajat Celsius.

Beredar pesan di media sosial yang menyebutkan cuaca panas ekstrem akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Bahkan suhu akan mencapai 45 derajat Celcius.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasi bahwa pesan tersebut tidak benar.

"Sepertinya kurang tepat dan tidak benar," ujar Kepala Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Hary Djatmiko.

Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa beberapa wilayah seperti Tangerang Selatan, Banten dan Malang akan memiliki suhu hingga 44 derajat Celcius, bahkan di Pekanbaru mencapai 45 derajat Celcius dalam tiga hari ke depan. Termasuk di Papua Nugini nyaris 50 derajat Celsius yang diklaim dipantau oleh satelit NASA.

"Dear all, mulai besok sampai 3 hari ke depan di harapkan kurangi aktivitas di luar rumah karena cuaca panas extreme melanda Indonesia untuk 3 hari ke depan," demikian tertulis dalam pesan tersebut.

Pada 20 Oktober terdapat tiga stasiun pengamatan BMKG di Sulawesi yang mencatat suhu maksimum tertinggi yaitu, Stasiun Meteorologi Hasanuddin (Makassar) 38,8 derajat celcius, diikuti Stasiun Klimatologi Maros 38,3 derajat celcius, dan Stasiun Meteorologi Sangia Ni Bandera 37,8 derajat celciua.

Suhu tersebut merupakan catatan suhu tertinggi dalam satu tahun terakhir, di mana pada periode Oktober di tahun 2018 tercatat suhu maksimum mencapai 37 derajat celcius. Stasiun-stasiun meteorologi di pulau Jawa hingga Nusa Tenggara mencatatkan suhu udara maksimum terukur berkisar antara 35 derajat Celcius sampai 36,5 derajat Celcius pada periode 19 - 20 Oktober 2019.

"Berdasarkan persebaran suhu panas yang dominan berada di selatan khatulistiwa, hal ini erat kaitannya dengan gerak semu Matahari," kata Deputi Bidang Meteorologi R. Mulyono R. Prabowo, dalam keterangannya.

"Seperti diketahui pada September, Matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa dan akan terus bergerak ke belahan Bumi selatan hingga Desember."

Prabowo menjelaskan, suhu panas yang melanda Indonesia bukan gelombang panas. Sehingga dengan demikian fenomena gelombang panas tidak terjadi di Indonesia.

"Berdasarkan data histori, suhu maksimum di Indonesia belum pernah mencapai 40 derajat Celsius. Data BMKG menyebut suhu tertinggi yang pernah terjadi di Indonesia sebesar 39,5 derajat celcius pada tahun 2015 di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, " kata Mulyono R Prabowo.

Karena itu, menurut dia pesan berantai yang beredar di berbagai media sosial mengenai gelombang panas yang akan melanda wilayah Indonesia adalah hoaks.

Gelombang panas terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator yang secara sistem dinamika cuaca tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas.

BMKG mengimbau masyarakat yang terdampak suhu udara panas ini untuk minum air putih yang cukup untuk menghindari dehidrasi, mengenakan pakaian yang melindungi kulit dari sinar matahari jika beraktivitas di luar ruangan, serta mewaspadai aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi karhutla.