Saat ini Boeing 737-800 NG dioperasikan Garuda Indonesia sebanyak 73 pesawat, Lion Air sebanyak 102 pesawat, Batik Air sebanyak 14 pesawat, dan Sriwijaya Air sebanyak 24 pesawat.

Kementerian Perhubungan mengungkapkan ada lima pesawat jenis Boeing 737-800 New Generation yang beroperasi di Indonesia mengalami keretakan. Lima pesawat itu dimiliki maskapai Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air.

Direktur Kelaikudaran dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kemenhub, Avirianto, mengungkapkan, hal tersebut diketahui dari hasil pemeriksaan yang dilakukan pihaknya pada 10 Oktober 2019.

"Terdapat crack pada salah satu dari 3 pesawat B737NG milik Garuda Indonesia yang berumur melebihi 30.000 FCN dan terdapat crack pada’ 2 pesawat B737NG milik Sriwijaya Air dari 5 pesawat yang berumur lebih dari 30.000 FCN. Sedangkan Batik Air dan Lion Air tidak memiliki pesawat yang berumur melebihi 30.000 FCN," kata Avirianto dalam keterangan tertulisnya, Rabu (16/10/2019).

Penemuan ini merupakan tindak lanjut implementasi DGCA Indonesia Airworthiness Directives (AD) dan FAA Airworthiness Directives terhadap pesawat Boeing B737NG perihal Unsafe Condition. AD ini dipicu oleh laporan retak yang ditemukan pada frame fitting outboard chords and failsafe straps adjacent to the stringer S-18A straps.

Kemenhub menjelaskan, kondisi pesawat yang mengalami keretakan itu bisa mengakibatkan kegagalan Principal Structural Element (PSE) untuk mempertahankan batas beban. "Kondisi ini dapat mempengaruhi integritas struktural pesawat dan mengakibatkan hilangnya kontrol pesawat," terang Kemenhub.

Avirianto menjelaskan, saat ini Boeing 737-800 NG dioperasikan Garuda Indonesia sebanyak 73 pesawat, Lion Air sebanyak 102 pesawat, Batik Air sebanyak 14 pesawat, dan Sriwijaya Air sebanyak 24 pesawat.

Atas temuan itu, Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air sudah memutuskan mengandangkan pesawat jenis Boeing 737-800 NG miliknya.

Dari 73 pesawat Boeing 737-800 NG yang dimiliki Garuda, maskapai nasional itu hanya mengandangkan 3 pesawat saja. Hal itu karena hanya tiga pesawat itu yang sudah mencapai 30 ribu cycle atau siklus terbang. "Dari tiga itu kami temukan ada dua yang retak. Lalu kami grounded," kata VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, M Ikhsan Rosan.

Sementara Sriwijaya Air mengandangkan dua unit pesawatnya. Direktur Kualitas, Keselamatan, dan Keamanan Sriwijaya Air, Toto Soebandoro, menyatakan kondisi dua unit pesawat tersebut dalam masa perawatan atau sedang tidak dipergunakan untuk operasional penerbangan. Jadi, prosedur grounded tidak mengganggu layanan penerbangan maskapai kepada pelanggan.