Presiden Joko Widodo juga pernah dilaporkan atas dugaan korupsi pengadaan bus Transjakarta.

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan buka suara terkait fitnah mengamankan kasus Anies Baswedan yang disebar di media sosial. Katanya, tidak ada perkara di KPK yang terkait dengan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

"Tidak pernah ada penyelidikan terkait dengan hal yang berhubungan dengan Pak Anies. Saya bertemu dengan Pak Anies sebagai saudara," kata Novel di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu, (9/10). Karenanya, mengenai pertemuannya dengan Anies tidak melanggar kode etik. 

Novel menambahkan, ada banyak sekali orang yang dilaporkan ke KPK. Namun, tak semua laporan masuk proses penyelidikan hingga penyidikan. Novel mencontohkan, Presiden Joko Widodo juga pernah dilaporkan atas dugaan korupsi pengadaan bus Transjakarta. Laporan itu dibuat pada 2014 tatkala Jokowi masih menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Menurut Novel, saat itu KPK tak menemukan indikasi adanya korupsi dalam pengadaan bus. Sehingga, KPK tak menaikan kasus itu ke tahap penyelidikan.

Menurut Novel, tidak ada larangan untuk bertemu seseorang yang sedang dilaporkan. Ia mengatakan hal yang dilarang ialah bertemu dengan orang yang berkasus di KPK.

Novel membenarkan pertemuannya dengan Anies seperti foto yang beredar. Ia mengatakan pertemuan itu terjadi di Singapura pada 2017. Saat itu, Anies menengok Novel yang sedang dirawat karena disiram air keras. Pelaku penyiraman hingga kini belum ditangkap.

Novel meyakini penyebar foto tersebut sebenarnya sudah tahu bahwa Anies tidak pernah berperkara di KPK. Namun, foto itu sengaja disebarkan untuk tujuan tertentu. "Yang bikin itu terpublikasi sebenarnya tahu, tapi sengaja," pungkasnya.

Fitnah tudingan ada kongkalikong Novel dan Anies tersebar di media sosial. Konten tersebut menyertakan foto Novel dan Anies tengah berbincang di masjid. Foto hitam putih itu kemudian dikaitkan pada foto lainnya yang berisi laporan dugaan tindak pidana korupsi ke KPK. Terlapor dalam surat tersebut ialah Anies. Anies dilaporkan atas dugaan korupsi dana Frankfurt Book Fair sebesar Rp 146 miliar, semasa menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.