Dalam jangka yang tidak lama, harga minyak untuk jenis WTI hampir dipastikan segera menembus ke bawah $50 per barel.

Gerak harga minyak di oasar komoditas dunia akhirnya benar-benar berada dalam kesuraman.  Dalam sesi perdagangan awal pekan ini, Senin (8/10) yang baru ditutup beberapa jam lalu menunjukkan, harga minyak yang kembali merosot untuk bertengger di kisaran $52,54 per barel (untuk jenis WTI).

Penurunan yang mendera memang masih dalam taraf moderat, namun situasi teknikal terkini yang menjadi perhatianm serius bagi pelaku pasar. Grafik harian terkini berikut memperlihatkan bahwa pola gerak harga minyak dunia telah membentuk tren jual jangka menengah yang solid.

Sementara posisi terkini harga minyak telah stabul di  sekitaran $52-an per barel dan tren jual jangka menengah masih cukup solid, adalah mudah bagi harga minyak untuk segera menembus ke bawah level psikologis pentingnya di  $50 per barel.

Terlebih,  hingga beberapa hari dan bahkan pekan sesi perdagangan ke depan, sentimen suram masih akan menjadi warna dominan bagi pelaku pasar. Sentimen pertama tentu datang dari jalannya perundingan dagang AS-China yang kini menatap prospek buram untuk mencapai kesepakatan sementara yang diinginkan.

Sementara sentimen lain yang tak kalah buruknya dalah prospek kinerja perekonomian global yang akan segera dicerminkan oleh kebijakan bank sentral AS untuk menurnkan suku bunga acuannya.  Se timen perundingan dagang AS-China, bila gagal menvcapai kesepakatan, sudah barang tentu akan menjadi ‘sengkuni’ bagi harga minyak untuk merosot dalam rentang tragis dan mengejutkan.

Penurunan curam harga minyak dunia, pada gilirannya akan menjadi sokongan atau bantuan bagi pemerintahan Jokowi dalam menjalankan APBN, di mana hingga kini Indonesia masih harus mengimpor minyak dalam jumlah cukup besar.