Pepsi mengumumkan keluar dari Indonesia. Perusahaan minuman ringan berkarbonat itu akan resmi hengkang pada 10 Oktober 2019, usai kontraknya dengan Indofood berakhir.

Pepsi masuk ke Indonesia melalui perusahaan patungan atau joint venture antara PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk dengan Asahi Group. Perusahaan hasil patungan itu memborong seluruh saham PT Pepsi-Cola Indobeverage (PCIB) yang bergerak di bidang produksi, distribusi dan pemasaran secara eksklusif produk Pepsi-Cola di Indonesia.

Baca Juga:  Pepsi Hengkang dari RI, Kemenperin: Bukan Karena Iklim Bisnis Dalam Negeri Tak Kondusif

Perusahaan patungan Indofood dengan Asahi Group bernama PT Asahi Indofood Beverage Makmur (AIBM) dan PT Indofood Asahi Sukses Beverage (IASB). Kedua anak usaha ini masing-masing mengakuisisi sejumlah 264,11 juta dan 15 ribu saham PCIB.

AIBM dan IASB telah menandatangani perjanjian jual beli saham dengan pemegang saham PCIB yaitu PT Gapura Usahatama, unit usaha Grup Salim dan Seven-Up Nederland BV, perusahaan terafiliasi PepsiCo Inc., pemegang lisensi merek Pepsi yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

“Akuisisi dilakukan pada harga US$30 juta yang akan dibiayai dari dana kas internal perusahaan,” kata Anthoni Salim, Direktur Utama dan CEO PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk dalam siaran persnya sebagaimana dilansir dari Bisnis Indonesia, 12 September 2013.

Mereka pun memproduksi berbagai macam minuman ringan, kopi, teh, dan air minum dalam kemasan dengan merek Pepsi, Mirinda, 7UP, Tropicana Twister, Cafela, Ichi Ocha, dan Club. Produksi minuman ringan itu pun menjadi kontributor besar bagi pundi-pundi Indofood.

Kerjasama Pepsi-Cola dengan Indofood tak selamanya berjalan mulus. Riak bisnis muncul pada 2016, saat sebuah organisasi nirlaba Rainforest Action Network (RAN) dan beberapa LSM lain menerbitkan laporan tentang dugaan pelanggaran hak-hak buruh di perkebunan IndoAgri –perusahaan yang terafiliasi dengan Indofood- di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.

Laporan berjudul "The Human Cost of Conflict Palm Oil: Indofood, PepsiCo’s Hidden Link to Worker Exploitation in Indonesia" itu menginvestigasi kondisi pekerja di perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh IndoAgri. Baca Laporan itu di sini.

Laporan tersebut mendokumentasikan bagaimana para pekerja di perkebunan secara rutin terpapar pestisida berbahaya, dibayar kurang dari upah minimum, secara ilegal "digantung" dalam status pekerja kontrak tapi memiliki beban kerja seperti karyawan tetap, dan menghalangi pembentukan serikat buruh independen.

Dalam keterangan perusahaan yang dirilis awal tahun ini, PepsiCo mengaku menggunakan produk sawit yang berasal dari Indonesia. Pada 2016, PepsiCo membeli sekitar 480.000 ton minyak sawit secara global, mewakili kurang dari 0,8 persen dari pasokan global.

Jumlah itu meliputi 60 pemasok minyak kelapa sawit langsung dan sekitar 1.500 pabrik, yang secara kolektif bergantung pada puluhan ribu produsen mulai dari perkebunan besar hingga petani perorangan.

Baca Juga: Cerai dengan Indofood, Pepsi Resmi Hengkang dari Indonesia

Pasar minyak sawit utama PepsiCo adalah Malaysia, Meksiko, dan Indonesia. Lebih dari 40 persen bahan baku sawit yang digunakan PepsiCo berasal dari Indonesia, tepatnya di Sumatra Utara dan Riau. Pasokan minyak sawit juga didapat dari wilayah Kalimantan Timur, Barat, atau Tengah.

IndoAgri memang bukan pemasok langsung ke PepsiCo, tetapi mereka memasok minyak sawit ke pedagang internasional yang kemudian menjualnya ke PepsiCo. Selain itu IndoAgri merupakan anak perusahaan dari Indofood.

PepsiCo memiliki komitmen untuk melakukan bisnis dengan prinsip berkelanjutan (sustainability). PepsiCo mengatakan kepala eksekutifnya telah menulis kepada Indofood menyusul penemuan yang dirinci dalam laporan tersebut.

"Surat itu menyadari kegentingan tuduhan-tuduhan tersebut, dan kami yakin Indofood memandangnya sama seriusnya dengan PepsiCo," ujar perusahaan tersebut dalam pernyataan kepada Thomson Reuters Foundation.

"Kami memandang serius semua dugaan pelanggaran kebijakan pekerja dan hak asasi manusia," kata PepsiCo.

Namun pada pertengahan 2018, PepsiCo mengutarakan kekecewaannya kepada IndoAgri. PepsiCo pun memutuskan moratorium atas penggunaan minyak kelapa sawit produksi IndoAgri.

Keputusan itu diambil setelah PT London Sumatra Tbk (Lonsum), anak usaha IndoAgri, menarik keanggotaan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) karena merasa tidak puas atas hasil audit RSPO yang berlangsung pada November 2018.

RSPO adalah asosiasi yang terdiri dari berbagai organisasi dari berbagai sektor industri kelapa sawit yang bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan standar global untuk produksi minyak sawit berkelanjutan.


Asahi Group cabut

Belum tuntas dengan kasus sawit, hubungan Pepsi dengan Indofood kembali terguncang. Per tanggal 31 Desember 2017, Asahi Group Holdings Southeast Asia Pte Ltd melepas kepemilikan sahamnya di perusahaan joint venture dengan ICBP, PT Asahi Indofood Beverage Makmur (AIBM) dan PT Indofood Asahi Sukses Beverage (IASB), yang memegang lisensi Pepsi di Indonesia.

Laporan Nikkei Asia menyatakan keputusan tersebut karena Asahi Group ingin fokus pada bisnis minuman beralkohol setelah mengakuisisi sekelompok jenama bir Eropa Tengah dan Timur dari Anheuser-Busch InBev pada akhir 2016.

Hengkangnya Asahi membuat ICBP harus menghilangkan nama Asahi di dalam AIBM dan IASB dalam waktu enam bulan setelah transaksi selesai dilaksanakan.

Namun, mereka masih bisa mencantumkan logo Indofood Asahi di produk minuman ICBP hingga satu tahun setelah akuisisi dilaksanakan.

Juru Bicara PepsiCo juga menyatakan moratorium atas penggunaan minyak kelapa sawit produksi IndoAgri, induk usaha Lonsum dalam keterangan resmi tertulis yang terpublikasi (PDF). Melansir Mongabay, moratorium telah dilakukan PepsiCo sejak Januari 2017.

“Kami sangat kecewa mengetahui upaya IndoAgri untuk menarik PT Lonsum dari RSPO. Ini tidak dapat diterima dan tidak konsisten dengan kebijakan dan komitmen kami tentang minyak sawit berkelanjutan,” ungkap juru bicara PepsiCo melansir FoodNavigator-Asia.

Masih melansir FoodNavigator-Asia, juru bicara PepsiCo menambahkan pihaknya belum mengungkapkan rincian tentang masa depan terkait perusahaan kerjasama dengan Indofood yang ada di Indonesia. “PepsiCo sangat prihatin dengan tuduhan tentang kebijakan dan komitmen kami tentang minyak kelapa sawit, pengelolaan hutan dan hak asasi manusia, tidak terpenuhi,” ungkap PepsiCo dalam pernyataan resmi. Baca Pernyataan PepsiCo di sini.

Belum diketahui apakah menghilangnya Pepsi dari sebagian pasaran di Indonesia terkait konflik tersebut.

Baca Juga:  Indofood Buka Suara Soal Cerai dan Bikin Pepsi Hengkang dari Indonesia

Juru Bicara PepsiCo hanya memastikan akan keluar dari Indonesia mulai 10 Oktober 2019. Hal itu sesuai dengan masa kontrak PepsiCo dan PT Anugerah Indofood Barokah Makmur (AIBM).

Dengan habisnya kontrak kerjasama, AIBM pun tidak akan memproduksi, menjual, atau mendistribusikan produk PepsiCo. Keduanya juga telah memberi tahu kepada seluruh pelanggan dan pekerja terkait hal ini.

“PepsiCo berharap bisa kembali ke pasar Indonesia dengan merek-merek ternama kami seperti Pepsi, Miranda, 7up dan Mtn Dew di masa yang akan datang,” tulisnya.

Direktur ICBP Axton Salim enggan mengomentari lebih lanjut terkait kabar tersebut. "Benar atau tidaknya kami pasti akan berikan keterangan," kata Axton Salim dilansir dari Kontan, Kamis (3/10).