Saat ini sudah ada layanan E-sertifikat yang sangat Mempermudah Proses Ekspor

Total ekspor produk pertanian Jawa Tengah per September 2019 mencapai Rp2,51 triliun. Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mengatakan tingginya nilai ekspor tersebut karena keterlibatan para petani muda, yang tidak lagi berorientasi swasembada pangan, tapi mengekspor.

Ditambahkan, hasil pertanian Jawa Tengah yang masuk pasar dunia sangat beragam, dari kedelai, edamame, kapulaga, kacang-kacangan, beras hitam, sampai daun kelor dan daun pakis. Bahkan Jateng baru saja mengekspor kacang hijau, kapulaga, daun pakis dan sarang walet.

“Sampai hari ini ekspor  pertanian Jawa Tengah telah mencapai Rp2,51 triliun,” kata Amran, saat melepas ekspor beberapa hasil pertanian, di Balai Karantina Kelas I Semarang.

Capaian luar biasa tersebut, jelasnya, didukung oleh petani dan eksportir muda. Para petani milenial di Jawa Tengah saat ini tidak lagi memikirkan swasembada pangan namun sudah berorientasi ekspor. Terlebih saat ini sudah ada layanan e-sertifikat yang sangat mempermudah proses ekspor.

“Ada e-sertifikat diterapkan di empat negara. Kami minta seluruh dunia. Karena kita bisa mengekspor dan di sana sudah mendapat persetujuan sebelum berangkat. Dulu, jangankan sudah berangkat, barang ekspor sudah sampai negara tujuan saja bisa ditolak,” ungkap Amran.

Di antara sekian produk pertanian Jateng, terang Mentan, yang paling menjanjikan adalah kopi. Setidaknya, sudah ada sembilan negara tujuan ekspor kopi, yakni Mesir, Italia, Georgia, Jepang, Iran, Uni Emirat Arab, Spanyol, Korea Selatan, Taiwan. Selain itu ada pula beras hitam yang diekspor ke Australia. 

Nilai ekspor sarang walet bahkan mencapai Rp4,2 miliar. Ada pula daun cincau yang dikirim ke Malaysia, gula merah ke Srilanka sebanyak 3,4 ton, margarin ke Bangladesh sebanyak 1,2 ton.

“Sistem yang ada di Jawa Tengah ini mesti didublikasi daerah lain agar meningkatkan ekspor,” tuturnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menambahkan, dari Januari-Agustus 2109, total ekspor Jateng sebesar 5,82 miliar dolar AS, dan di antaranya sebesar 4.823,5 juta dolar AS merupakan ekspor nonmigas. 

Besaran tersebut karena jalinan antara pemerintah dari pusat sampai kabupaten dengan petani berjalan dengan baik.

“Hulunya bekerja luar biasa dan mendapat fasilitas yang mudah dari kementerian. Nah pemuda-pemuda itu sekarang berorientasi ekspor yang tidak kita pikirkan. Misalnya daun pakis dan melati,” ungkapnya.

Pola kerja sama itu, menurut gubernur, merupakan hal yang paling penting. Pemerintah pusat menyiapkan konsep, dunia luar atau pasar dunia disiapkan, pemerintah daerah menyambut konsep tersebut.

“Tugas kami yang di daerah membina agar bisa mencapai kualitas terbaik. Ekspor mudah, pasar ada, dengan cara itu kita tidak hanya membayangkan. Pemerintah mesti mendampingi untuk memastikan kualitas,” ujar mantan anggota DPR RI ini.

Ganjar berharap dengan tingginya nilai ekspor produk pertanian, akan mampu mendongkrak neraca dagang Jawa Tengah. “Karena itu yang diinginkan oleh Presiden Jokowi,” tandasnya.