Masih sulit ditebak dan liarnya sentimen dari Presiden AS Donald Trump, kemungkinan akan menjadikan sulit bagi Rupiah untuk membukukan  penguatan tajam. Setelah dihantam dengan serangkaian pelemahan secara beruntun dalam beberapa hari sesi perdaangan terakhir, gerak balik penguatan tajam bagi Rupiah masih sulit untuk diharapkan.

Pada sesi perdagangan Rabu (25/9) kemarin, Rupiah tercatat ditutup di kisaran Rp14.145 per Dolar AS, yang sekaligus menahbiskan diri dalam jajaran mata uang Asia yang mengalami pelemahan paling suram. Sentimen dari pernyataan Trump terkait dengan perundingan dagang AS-China serta ancaman Impeachment pada Trump menjadi latar utama merosotnya Rupiah.

Namun kini sentimen terkait dengan perundingan dagang AS-China telah berbalik tajam dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa perundingan dagang AS-China akan segera meraih kesepakatan lebih cepat dari yang diduga.

Pembalikan sentimen dari pernyataan Trump tersebut sebelumnya telah berhasil membalik indeks Bursa Wall Street untuk melonjak tajam dalam sesi perdagangan yang berakhir beberapa jam lalu. Namun bagi mata uang Rupiah, nampaknya masih membutuhkan sokongan sentimen lain untuk mampu membukukan penguiatan tajam.

Hal ini mengingat, di tengah pernyataan Trump yang berbalik tajam tersebut, situasi di pasar valuta terlihat tidak terlalu beranjak. Bahkan posisi indeks Dolar AS terlihat kembali melonjak untuk kini berada di kisaran 99-an.

Situasi demikian tentunya bukan kabar yang menggembirakan bagi Rupiah yang sedang berupaya keras untuk mengandangkan Dolar AS ke kisaran Rp13.000-an.  Rupiah, bila pun mampu membukukan penguatan di sesi hari ini, Kamis (26/9) diyakini hanya sekedar rebound teknikal dan sangat mungkin akan beradadalam rentang terbatas.