Investor di bursa saham Indonesia akhirnya tak memiliki pilihan dalam menjalani sesi perdagangan pagi ini, Rabu (25/9). Gerak indeks harga saham gabungan (IHSG) terlihat harus kembali tersaruk di zona merah secara konsisten. IHSG kemudian menutup sesi pagi dengan turun 0,27% untuk terhenti di 6.120,83.

Pelaku pasar di Indonesia terlihat harus turut terseret kepanikan yang mendera bursa saham global yang sedang mabuk oleh sentimen dari Presiden As Donald Trump.  Sentimen kejutan datang dari Washington di mana pimpinan parlemen AS yang dikendalikan oleh partai oposisi Demokrat menggelar proses impeachment alias pemecatan terhadap Presiden AS Donald Trump.

Trump dituding melakukan penyalahgunaan kekuasaan dengan meminta pemimpin Ukraina untuk melakukan penyelidikan atas bisnis yang diopperasikan oleh keluarga Joe Biden, seorang mantan wakil presiden AS yang kini menjadi salah satu kandidat dari partai demokrat  dan rival serius bagi Trump  dalam pemilihan presiden AS tahun depan.

Sentimen kejutan tersebut   kemudian semakin sempurna mengarahkan pelaku pasar  dalam pesimisme  setelah Presiden Trump dalam pernyataannya saat berpidato di sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menyiratkan masih alotnya perundingan dagang AS-China untuk meraih kesepakatan yang diinginkan.

Tekanan jual akhirnya terjadi untuk semakin menenggelamkan indeks di seluruh Asia. Hingga sesi perdagangan pagi di Jakarta ditutup, indeks Nikkei rontok 0,36% untuk menjangkau posisi 22.018,61, indeks Hang Seng (Hong Kong) terpangkas 0,95% untuk berada di posisi 26.031,92,  sementara indeks ASX 200 (Australia) terkoreksi 0,33% untuk berada di posisi 6.726,6, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang merosot 0,71% untuk berada di kisaran 2.086,15.

Pada pasar valuta, gerak nilai tukar Rupiah juga masih berada dalam tekanan jual, terkini Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp14.135 per Dolar AS atau melemah 0,18%. Sentimen  terkait dengan Trump masih menjadi latar utama gerak Rupiah.