Mengawali sesi perdagangan saham di Asia pagi ini, Rabu (25/9), investor terlihat tidak memiliki jalan lain kecuali mengikuti jejak bursa Wall Street yang terbakar.  Seperti dilaporkan sebelumnya,  sentimen kejutan  yang kembali harus dihadapi oleh investor dalam menjalani sesi perdagangan pekan ini.

Kali ni, sentimen kejutan datang dari Washington di mana pimpinan parlemen AS yang dikendalikan oleh partai oposisi Demokrat menggelar proses impeachment alias pemecatan terhadap Presiden AS Donald Trump.

Trump dituding melakukan penyalahgunaan kekuasaan dengan meminta pemimpin Ukraina untuk melakukan penyelidikan atas bisnis yang diopperasikan oleh keluarga Joe Biden, seorang mantan wakil presiden AS yang kini menjadi salah satu kandidat dari partai demokrat  dan rival serius bagi Trump  dalam pemilihan presiden AS tahun depan.

Sentimen kejutan tersebut akhirnya langsung disambut panik oleh investor dengan melakukan tekanan jual cukup intens.  Sentimen ini kemudian semakin sempurna mengarahakn dalam pesimisme  setelah Presiden Trump dalam pernyataannya saat berpidato di sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menyiratkan masih alotnya perundingan dagang AS-China untuk meraih kesepakatan yang diinginkan.

Investor akhirnya harus terjerembab dalam sikap pesimis dengan melakukan tekanan jual untuk selanjutnya meruntuhkan indeks. Hingga ulasan ini disunting, indeks Nikkei (Jepang) terpantau telah rontok 0,71% untuk menjangkau posisi 21.942,44, sementara indeks ASX 200 (Australia) terpangkas 0,68% untuk berada di posisi 6.703,0, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang merosot 0,74% untuk berada di kisaran 2.085,48.

Dengan bekal kepungan sentimen muram kali ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa saham Indonesia yang akan dibuka sesi perdagangannya beberapa menit ke depan, diyakini akan kesulitan untuk melakukan gerak rebound teknikal. IHSG bahkan masih berpeluang untuk melanjutkan gerak turun lebih lanjut.

Hal yang tak jauh berbeda juga diyakini akan mendera Rupiah yang sangat mungkin untuk terus melemah.