Pasar komoditas kembali terguncang panik, kali ini sentimen dari ledakan di ladang minyak di Arab Saudi telah reda. Namun sentimen kejut kembali hadir tak lain akibat pernyataan keras Presiden AS Donald Trump. Dalam kesempatan pidato di sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), presiden yang penuh dengan ketegasannya itu menyinggung soal China.

Trump dalam kesemoatan tersebut menekankan bahwa pihaknya tak akan membiarkan kesepakatan buruk terjadi antara AS dengan China dalam perundingan dagang yang akan dihelat pekan ke dua Oktober mendatang.

Pernyataan tegas Trump kali ini seakan memberikan peringatan bagi investor  yang telah terlanjur mengambil langklah berlebihan akibat sentimen ledakan di kilang minyak Arab yang meroketkan harga minyak dengan sangat ekstrim.

Pernyataan Trump juga memberikan tekanan bahwa perundingan dagang AS-China yang masih jauh dari pencapaian kesepakatan, dan oleh karenanya, prospek permintaan minyak dunia berada dalam kesuraman. Investor akhirnya dengan cepat  berbalik melakukan tekanan jual dalam sesi perdagangan yang berakhir beberapa jam lalu itu.

Harga minyak kemudian longsor tak tertahankan hinga sebesar 2,2% untuk berakhir di $57,29 per barel (untuk jenis WTI). Sentimen tak berhenti di sini, pernyataan Trump juga masih memantik pelaku pasar di Asia pagi ini, Rabu (25/9), di mana hingga ulasan ini disunting, harga minyak telah kembali merosot tajam 0,75% untuk bertengger di kisaran $56,86 per barel.   

Keruntuhan curam harga minyak kali ini, benar-benar sempurna manakala tiada sentimen lain yang tersedia untuk setidaknya sedikit menahan  kesuraman.