Gelombang  aksi  mahasiswa yang cukup intens dan sangat besar  akhirnya menyita perhatian investor dalam menjalani sesi perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa (24/9).  Laporan lebih lanjut menyebutkan, gelombang protes mahasiswa kali ini yang  menuntut pemerintahan Jokowi dan DPR untuk  menghentikan proses revisi sejumlah undang-undang.

Sebagaimana dilaporkan, pemerintah dan DPR yang selama ini telah menyepakati revisi sejumlah undang-undang yang dinilai mengkhianati amanat reformasi oleh sejumlah pihak.  Akibatnya gelombang protes terjadi tak tertahankan hingga siang ini di berbagai wilayah.  Sentimen tersebut kemudian berpadu dengan  kekhawatiran dari suramnya data perekonomian Jerman terkini.

Laporan lebih rinci sebelumnya menyebut,  indeks aktivitas manufaktur di negeri terbesar di Eropa,  itu   yang pada bulan lalu berada di kisaran 41,4.  Besaran tersebut mencerminkan terjadinya kontraksi yang berlanjut pada industri Jerman. Indeks aktivitas manufaktur yang  sering disingkat sebagai indeks PMI  kali ini  sekaligus meyakinkan investor bahwa situasi dan kinerja perekonomian di Benua Biru  yang sedang kian merana.

Catatan juga  menunjukkan, besaran indeks PMI Jerman kali ini sebagai yang terendah dalam 7 tahun terakhir.  Investor di Jakarta akhirnya jatuh dalam pesimisme yang cukup dalam untuk melakukan tekanan jual.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mengawali sesi pagi dengan melemah moderat, dengan segerra beralih ke zona koreksi tajam hingga sesi perdagangan sore ditutup. IHSG kemudian mengakhiri sesi hari ini dengan runtuh  1,1% untuk parkir di 6.137,61.

Sementara pada bursa saham utama Asia,  indeks Nikkei (Jepang) menguat tipis 0,09% untuk berada di posisi 22.098,84, indeks Hang Seng (Hong Kong) naik moderat   0,22% untuk berada di posisi 26.281,0,   sementara indeks ASX 200(Australia) turun tipis 0,01% untuk berada di kisaran 6.748,9, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) naik 0,45% untuk menjangkau posisi 2.101,04.