Laporan suram dari kinerja perekonomian Jerman telah berimbas ke  sejumlah pasar penting dunia. Sete;lah bursa saham utama Eropa terkapar dalam zona koreksi yang cukup tajam di sesi perdagangan kemarin, bursa Wall Street juga dilaporkan  harus menutup sesi dengan gerak sempit dan mixed pada beberapa jam lalu.

Sebagaimana diketahui,  otoritas Jerman yang merilis besaran indeks aktivitas manufakturnya pada bulan lalu  yang dinyatakan berada di kisaran 41,4. Besaran tersebut mencerminkan terjadinya kontraksi yang berlanjut pada industri Jerman. Indeks aktivitas manufaktur yang  sering disingkat sebagai indeks PMI  yang kembali terkontraksi kali ini sekaligus meyakinkan investor bahwa situasi dan kinerja perekonomian di Benua Biru  yang sedang kian merana.

Catatan menunjukkan, besaran indeks PMI Jerman kali ini sebagai yang terendah dalam 7 tahun terakhir.  Pasar valuta terpantau langsung merespon  dengan cepat rilisw data suram, tersebut. Pantauan menunjukkan, gerak nilai tukar mata uang Euro yang harus terkapar cukup dalam di sesi perdagangan kemarin.

Nilai tukar Euro terhadap Dolar AS (atau EURUSD) tercatat sempat mencapai titik terlemahnya di kisaran 1,0965. Namun beruntungnya, gerak melemah Euro kemudian reda hingga sesi perdagangan berakhir. Terkini, di  pasar Asia pagi ini, Selasa (24/9), posisi EURUSD telah bertengger di kisaran 1,0990.

Tekanan suram dari data Jerman  kali ini sesungguhnya telah menjadi beban bagi mata uang Ru[piah di sesi perdagangan kemarin. Namun masih dalam rentang terbatas. Pantauan menunjukkan, posisi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang semakin kukuh di zona pelemahan di sesi perdagangan sore kemarin dengan ditutup di kisaran Rp14.080 per Dolar AS.

Pada sesi hari ini, Rupiah diperkirakan mulai bisa lepas dari tekanan suram rilis data Jerman tersebut, namun prospek melemah lebih lanjut Rupiah (dalam rentang terbatas) masih cukup terbuka.