Setelah bursa saham langsung menghadapi tekanan jual akibat rilis data perekonomian Jerman yang suram, sentimen yang sama dilaporkan juga  telah merambah pasar komoditas penting dan strategis dunia, Emas. Sebagaimana dilaporkan sebelumnya,  otioritas  Jerman yang telah merilis aktivitas industrinya di bulan lalu yang menunjukkan terjadinya kembali kontraksi.

Lebih jauh disebutkan, besaran indeks aktivitas manufaktur (atau disingkat indeks PMI) di negeri terbesar di Eropa itu yang pada bulan lalu berada di kisaran 41,4. Besaran tersebut mencerminkan terjadinya kontraksi yang berlanjut pada industri Jerman. Indeks aktivitas manufaktur yang  sering disingkat sebagai indeks PMI Jerman yang kembali mengalami kontraksi itu, sekaligus meyakinkan investor bahwa situasi dan kinerja perekonomian di Benua Biru  yang sedang kian merana.

Catatan menunjukkan, besaran indeks PMI Jerman kali ini sebagai yang terendah dalam 7 tahun terakhir. Rilis data tersebut sebelumnya telah berhasil membungkam bursa saham Eropa untuk ternggelam cukup dlam pada sesi perdagangan kemarin.

Namun sentimen yang sama justru menjadi berkah bagi harga emas dunia. Kekhawatiran investor akan prospek suram kinerja perekonomian global akibat buruknya kinerja Eropa akhirnya memantik semangat untuk memburu Emas guna menyelamatkan aset dan nilai investasinya.

Pantauan terkini menunjukkan, gerak harga emas di sesi pagi (Selasa 24/9) di Asia yang berada di kisaran $1.528,3 per Ounce atau melemah tipis 0,21%. Sementara dalam sesi perdagangan yang berakhir beberapa jam lalu, harga emas terlihat ditutup naik tajam   di $1.531,5 per Ounce.

Secara keseluruhan, pola teknikal yang terbentuk pada harga Emas masih berada dalam fase ketiadaan tren. Dan gerak naik yang cukup tajam di sesi kemarin  membuat fase ketiadaan tren berlangsung lebih panjang.