Sesi perdagangan saham awal pekan ini, Senin (23/9) di bursa Wall Street akhirnya ditutup dengan gerak indeks di rentang sempit dan mixed. La[poran menyebutkan, investor yang memprihatinkan rilis dfata terkini dari kinerja perekonomian Jerman dan zona Eropa secara keseluruhan.

Sebagaimana dilaporkan sejumlah media internasional,  besaran indeks aktivitas manufaktur di Jerman yang pada bulan lalu berada di kisaran 41,4. Besaran tersebut mencerminkan terjadinya kontraksi yang berlanjut pada industri Jerman. Indeks aktivitas manufaktur yang  sering disingkat sebagai indeks PMI Jerman yang kembali mengalami kontraksi itu, sekaligus meyakinkan investor bahwa situasi dan kinerja perekonomian di Benua Biru  yang sedang kian merana.

Catatan menunjukkan, besaran indeks PMI Jerman kali ini sebagai yang terendah dalam 7 tahun terakhir, dan semakin menambah beban bagi Bank Sentral Eropa yang beberapa waktu sebelumnya telah menurunkan suku bunga acuannya.

Investor di bursa Wall Street melihat rilis data Jerman dan Eropa yang suram sebagai pertanda serius buruknya kinerja perekonomian global. Namun untuk melakukan tekanan jual lebih jauh, sentimen yang lebih meyakinkan masih belum tersedia.

Gerak indeks akhirnya berakhir di rentang sempit dan mixed. Indeks DJIA naik tipis 0,06% untuk berakhir di 26.949,99, sementara indeks S&P 500 turun 0,01% untuk terhenti di posisi 2.991,78, serta indeks Nasdaq yang melemah tipis 0,06% untuk berakhir di 8.112,46.

Sesi perdagangan saham di bursa saham Asia di hari kedua pekan ini, Selasa (24/9) dengan demikian akan kembali mendapatkan sinyal keraguan, setelah di sesi perdagangan kemarin hanya membukukan gerak indeks yang mixed.