Serangkaian sentimen dari perang dagang AS-China yang akhirnya berkombinasi dengan ketegangan geopolitik di kawasan Tumur Tengah, akhirnya membuahkan hasil di pasar valuta yang kurang menggembirakan.

Adalah pola gerak nilai tukar mata uang Jepang, Yen  terhadap Dolar AS yang disimbilkan USDJPY yang berbalik menguat dalam dua hari  sesi perdagangan terakhir. Menguatnya Yen secara otomatis akan menjadikan kabar muram atau bahkan ‘demam’ bagi otoritas Jepang yang masih bergulat dengan mandeknya perekonomian nengeri temraju di Asia itu.

Namun pada gilirannya, ‘demamnya’ otoritas Jeoang tersebut akan dengan mudah merambah bagai pemerintahan Jokowi di Indonesia. Hal ini mengingat, dalam jumlah besar investasii dan utang yang datang dari Jepang dan dalam bentuk Yen.  Menguatnya Yen tentu akan menjadi beban tambahan bagi pemerintahan Jokowi dan busa menjadi gangguan serius.

Grafik dengan time frame H4 terkini berikut memperlihatkan prospek penguatan Yen yang mulai terbentuk dengan cukup solid:

Tren penguatan Yen jangka pendek telah terbentuk pada sesi perdagangan aklhir pekan lalu dengan cukup solid. Bila penguatan Yen berlangsung dfalam beberapa hari sesi perdagangan ke depan dan bahkan mampu mencapai kisaran 106,78 secara konsisten dalam lebih dari sepekan sesi perdagangan, maka  grafrik harian akan terseret membentuk tren penguatan yang solid. Terkini, posisi USDJPY terlihat masih berada dikisaran 107,73 atau hanya berselisih kurang dari 100 pip dari batas teknikal psikologisnya di 106,78.

Bila hal ini terjadi, maka tentu otoritas Jepang beesiap mengalami demam yang lebih panas, dan sangat mungkin akan ‘mengajak’ pemerintahan Jokowi untuk turut menanggung beban.