Sikap buimbang investor nampaknya mulai mengarah pada kekhawatiran pada situasi perekonomian global terkini. Hal ini terlihat dari pola gerak harga emas terkini yang terpantau kembali menguat setelah mengalami penguatan gemilang di sepanjang sesi perdagangan pekan lalu.

Pantauan terkini di sesi  perdagangan pagi ini, Senin (23/9) di Asia menunjukkan,  komoditas logam bersinar kuning itu yang diperdagangkan di kisaran $1.522,0 per Ounce atau menguat 0,46% dibanding posisi penutupan akhir pekan lalu.

Sentimen dari prospek suram perundingan dagang AS-China dalam meraih kesepakatan masih menjadi salah satu faktor utama menguatnya kembali harga emas.

Sebagaimana diketahui, serangkaian kabar terkini yang beredar sebelumnya yang memperlihatkan arah suram dari hasil perundingan dagfang AS-China yang akan dihelat di Washington awal Oktober depan.

Pernyataan yang dirilis oleh para pejabat tinggi dari AS dan China di akhir pekan lalu menunjukkan kukuh dan kerasnya masih-masing pihak bertahan di posisinya.   Pernyataan penasehat Presiden Trump, Michael Phillbury yang cenderung bernada ancaman pada pemerintah China dan pernyataan pimpinan media resmi China yang mengklaim bahwa China tidak dalam posisi terburu-buru untuk mencapai kesepakatan dagang dengan AS, telah menyita perhatian investor dan memantik kekhawatiran bahwa perundingan dagang awal bulan depan bisa gagal.

Sentimen ini akhirnya mengarahkan investor untuk semakin mengamankan posisi investasinya, dan Emas dilihat sebagai aset yang paling aman untuk dijadikan pelarian. Gerak harga emas akhirnya terus merangkak dan dalam beberapa pekan terakhir terlihat mampu bertahan di atas level psikologis pentingnya di  $1.500-an  per Ounce secara konsisten dan meyakinkan.