Mengawali sesi perdagangan pekan ini, Senin (23/9), gerak indeks di butsa saham utama Asia terlihat masih terjebak di rentang gerak terbatas dan mixed. Investor di Asia terlihat masih kesulitan menentukan arah gerak pasar di tengah ketidakpastian prospek perundingan dagang AS-China.

Sebagaimana dimuat dalam sejumlah laporan sebelumnya, perkembangan perundingan dagang AS-China yang kini mulai berbalik menyajikan prospek suram dalam mencapai kesepakatan.  Hal ini dilandasi pernyataan dari pejabat tinggi AS dan China yang beralih menjadi saling menekan di sepanjang pekan lalu.

Pernyataan penasehat Presiden Trump, Michael Phillbury yang cenderung bernada ancaman pada pemerintah China dan pernyataan pimpinan media resmi China yang mengklaim bahwa China tidak dalam posisi terburu-buru untuk mencapai kesepakatan dagang dengan AS membuat sikap investor bersiap beralih pesimis.

Tekanan jual akhirnya mulai hadir namun dalam kisaran yang sangat terbatas dan mudah terimbangi oleh tekanan beli. Gerak indeks akhirnya terjebak di rentang terbatas sebagaimana pagi ini. Hingga ulasan ini disunting, indeks ASX 200 (Australia) tercatat menguat tipis 0,48% untuk berada di posisi 6.763,1, sementara indeks KOSPI (Korea Selatan) tercatat menurun tipis 0,15% untuk menjangkau posisi 2.088,31.  Laporan jug a menyebutkan, bursa saham Jepang yang libur di sesi perdagangan awal pekan ini.

Dengan bekal sentimen yang tidak terlalu rawan kali ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa saham Indonesia yang akan dibuka sesi perdagangannya beberapa menit ke depan, diyakini masih berpeluang untuk membukukan gerak positif. Hal ini mengingat sentimen dari penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia masih  belum mendapatkan respon dari investor di sesi perdagangan  pekan lalu.