Salah satu saham terkemuka yang diperdagangkan di bursa saham Indonesia tercatat mengalami tekanan jual yang cukup signifikan di sepanjang sesi perdagangan pekan lalu. Adalah saham milik  PT Bank Rakyat Indonesia atau sering disebut Bank BRI yang diperdagangkan dengan kode BBRI tercatat mengalami penurunan cukup curam sepanjang pekan lalu.

Pantauan menunjukkan, saham BBRI yang pekan lalu ditutup di kisaran Rp4.160 per lembarnya atau melemah cukup tajam 3,48% di sepanjang pekan lalu.  Di tengah minimnya sentimen internal dari  laporan kinerja saham tersebut, gerak turun salah satu saham yang paling diburu investor tersebut lebih mencerminkan respon onvestor terhadap serangkaian sentimen dari pasar global.

Sentimen dari pasar surat utang di AS, serta penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia dan The Fed, turut mewarnai [pola koreksi saham BBRI. Pertanyaan kini menjadi menarik, apakah penurunan yang curam saham BBRI tersebut telah menjadi peluang manis untuk melakukan aksi akumulasi?

Tinjauan teknikal terkini berikut akan menyajikan situasi teknikal terkni BBRI yang perlu dipertimbangkan  investor dengan cukup serius:

Grafik di atas dengan jelas memperlihatkan, plla gerak saham BBRI yang telah memasuki fase ketiadaan tren sejak sesi 3 September lalu dan berlangsung hingga kini. Namun ancaman yang perlu diwaspadai investor adalah, bila di sepanjang pekan ini, saham BBRI mampu bergerak konsisten di bawah kisaran Rp4.150 per lembarnya, maka saham BBRI akan memasuki tren jual jangka menengah.

Dengan posisi penutupan pekan lalu yang masih berada di kisaran Rp4.160, batas teknikal Rp4.150 tidaklah terlalu jauh. Investor perlu untuk mengantisipasi bila saham BBRI berlanjut melakukan gerak turun di sepanjang pekan ini, karena hal tersebut akan menjadi awal dari gerak turun lebih jauh di beberapa waktu mendatang.