RGE merupakan grup global dengan total aset lebih dari US$ 20 miliar dan memiliki 60 ribu orang pegawai. Perusahaan ini beroperasi di Indonesia, China dan Brasil.

Lahan di calon ibu kota baru Indonesia di Kalimantan Timur ternyata dikuasai pengusaha Sukanto Tanoto. Dia pendiri kelompok bisnis Royal Golden Eagle (RGE).

Hal itu diakui langsung Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. Dia menjelaskan, penguasaan lahan ibu kota baru itu melalui PT ITCI di mana Tanoto merupakan pemegang sahamnya.

Bambang mengatakan, penguasaan lahan Tanoto menjangkau 6.000 ha lahan yang bakal dibangun untuk tahap pertama ibu kota. Untuk luas lahan yang dikuasai Tanoto, Bambang belum bisa menyebut.

"PT ITCI milik Tanoto sebagai pemegang konsesi HTI (hutan tanaman industri). Termasuk yang 6.000 ha. Luasnya cek KLHK," Bambang.

Baca Juga: Sukanto Tanoto Pemilik Lahan Ibu Kota Baru, Bappenas Blak-blakan Soal Ini

Corporate Affairs Director APRIL Group, Agung Laksamana, menjelaskan, lahan yang rencananya akan digunakan untuk pembangunan ibu kota baru berada di area PT ITCI Hutani Manunggal (IHM).

"Lahan itu merupakan mitra pemasok strategis dengan kontribusi signifikan bagi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP)," ujar Agung melalui surat elektronik kepada CNNIndonesia.

Dia mengatakan bahwa perusahaan tentu mendukung rencana pemerintah untuk membangun ibu kota baru. Meski demikian, rencana ini membuat perusahaan harus mengembalikan konsesi lahan dan mempengaruhi kegiatan operasional perusahaan ke depan.

"Tentu saja rencana pemerintah ini akan berpengaruh bagi kegiatan operasional, namun, kami percaya pemerintah akan memberikan pertimbangan dan solusi dalam hal ini," katanya.

Lalu, siapakah sosok Sukanto Tanoto itu?

Mengutip laman resmi tanotofoundation.org, Sukanto merupakan pendiri Chairman RGE International yang merupakan grup perusahaan manufaktur berbasis sumber daya alam yang berkantor di Singapura, Hong Kong, Jakarta, Beijing dan Nanjing.

Mengutip Forbes, dia merupakan salah satu orang terkaya di dunia dan di Indonesia. Hingga saat ini kekayaan Sukanto tercatat US$ 1,4 miliar atau setara dengan Rp 19,7 triliun (kurs Rp 14.100).

Sukanto memulai usaha pertamanya sebagai pemasok suku cadang industri minyak dan konstruksi.

Kemudian dia menapaki bisnis sebagai kontraktor dan supplier suku cadang pada 1967. Bisnis Tanoto mulai dari APRIL (Asia Pacific Resource International Holding Ltd dan Asia Symbol), kelapa sawit di perusahaan Asian Agri dan Apical, rayon dan pulp khusus Sateri Internasional serta Pacific Oil & Gas.

RGE merupakan grup global dengan total aset lebih dari US$ 20 miliar dan memiliki 60 ribu orang pegawai. Perusahaan ini beroperasi di Indonesia, China dan Brasil.

Dia meyakini, sebuah bisnis hanya berhasil jika perusahaan punya tanggung jawab dan dioperasikan dengan cara yang baik untuk masyarakat, baik untuk negara, baik untuk iklim, baik untuk pelanggan, dan baik untuk perusahaan.

Sukanto mengatakan bahwa tiap unit bisnisnya menjalankan pengelolaan lingkungan dan kegiatan sosial yang bertanggung jawab dengan menganut dan mengintegrasikan konsep Corporate Social Responsibility (CSR) dalam kegiatan bisnisnya.

Program-program CSR termasuk pelatihan sistem pertanian terpadu yang telah mendukung ribuan penduduk desa menjadi petani mandiri. Kegiatan pengembangan masyarakat lainnya termasuk program usaha kecil dan menengah untuk membangun bisnis, pelatihan kejuruan, hutan tanaman rakyat, dan dukungan infrastruktur sosial.

Dibekali dengan rasa keingintahuan intelektual yang kuat dan kepercayaan yang teguh terhadap pembelajaran terus-menerus, Sukanto Tanoto tidak hanya meneruskan pendidikannya sendiri di sekolah bisnis terkemuka, seperti INSEAD, Harvard, dan Wharton, tetapi juga berkomitmen untuk membantu pendidikan, khususnya bagi masyarakat pedesaan.

Tak hanya bisnis, dia dan keluarganya juga memulai kegiatan filantropi melalui Tanoto Fondation yang bertujuan untuk menanggulangi kemiskinan dan memajukan masyarakat.

Bekerja dalam berbagai bidang termasuk bidang pendidikan, kesehatan dan bantuan bencana, Tanoto Foundation menyediakan beasiswa kepada siswa dan guru, membangun sekolah, juga membagikan peralatan sekolah dan buku pelajaran. Tanoto Foundation juga menyediakan layanan kesehatan di daerah pedesaan dan bantuan cepat tanggap saat terjadi gempa bumi dan bencana alam lainnya.

Sukanto Tanoto juga menjadi anggota dari Dewan Internasional INSEAD, Dewan Pengawas Wharton, Dewan Eksekutif Wharton untuk Asia, serta berbagai lembaga pendidikan, kemasyarakatan dan industri lainnya.

Beliau adalah penerima Wharton School Dean's Medal Award yang merupakan penghargaan bagi orang-orang yang memberikan kontribusi untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan hidup di dunia. Penerima penghargaan ini termasuk kepala negara, pemenang hadiah Nobel, maupun pemimpin dan CEO berbagai perusahaan.

Pernah Tercatat Masuk Daftar Orang Terkaya di Singpura

Merujuk pemberitaan Kompas.com pada 19 September 2014, saat itu, Tanoto masuk dalam daftar orang terkaya di Singapura. Hal itu didasarkan pada riset yang bernama Wealth-X yang membagikan daftar 10 nama miliarder yang berbasis usaha di Singapura.

Salah satunya adalah pengusaha asal Indonesia, Sukanto Tanoto, yang menduduki posisi kelima dengan jumlah kekayaan mencapai Rp27,6 triliun. Sukanto meraup kekayaan di Singapura dari berbagai bentuk bisnis yang terus berkembang.

Namun, usaha Sukanto kebanyakan berbasis di kehutanan.

Berikut daftar lima orang terkaya di Singapura:

1. Philip Ng (Singapura)
Nilai kekayaan: Rp 62,4 triliun
Bisnis utama: Far East Organization
Industri utama: Real estat

2. Eduardo Saverin (Brasil)
Nilai kekayaan: Rp 50,4 triliun
Bisnis utama: Anideo
Industri utama: Teknologi

3. Richard Chandler (Selandia Baru)
Nilai kekayaan: Rp 33,6 triliun
Bisnis utama: Chandler Corporation
Industri utama: Beragam investasi

4. Kuok Khoon Hong (Singapura)
Nilai kekayaan: Rp 28,8 triliun
Bisnis utama: Wilmar International
Industri utama: Minyak palem

5. Sukanto Tanoto (Indonesia)
Nilai kekayaan: Rp 27,6 triliun
Bisnis utama: Royal Golden Eagle
Industri utama: Kehutanan