Harga minyak untuk jenis WTI secara teknikal kini telah membentuk tren penguatan akibat lonjakan ekstrim yang terjadi di sesi Senin (16/9) kemarin.

Riuh dengan  perkembangan terkini menyangkut lembaga anti korumpsi, Komisi Pemberantasan Korupsi yang masih berlanjut hingga kini, nampaknya tidak akan menjadi  satu-satunya persoalan pelik bagi pemerintahan Jokowi.

Kasus ledakan fatal di ladang minyak milik perusahaan BUMN Arab Saudi, Aramco akhir pekan lalu, yang  kini telah mengguncang pasar global, nampaknya akan menjadi bahan yang sangat memusingkan bagi pemerintahan Jokowi dalam beberapa pekan ke depan.

Tentu saja, akibat dari ledakan yang datang dari serangan Drone dari Yaman tersebut yang kini telah melambungkan harga minyak hingga kisaran yang sangat ekstrim. Pantauan terkini menunjukkan, haerga minyak untuk jenis WTI yang diperdagangkan di kisaran $61,94 per barel pada sesi pagi ini, Selasa (17/9)  di pasar Asia.

Sementara harga tertinggi di sesi perdagangan sebelumnya telah sempat menyentuh kisaran $63,34 per barel atau melambung gila 15,5% dalam sehari.  Bi;la harga minyak terus bertahan di level tingginya saat ini, dan terlebih bila terus melambung lebih tinggi, tentu kinerja perekonomian nasional menjadi terancam serius. Hal ini karena  perekonomian nasional yang hingga kini masih menggantungkan impor minyak untuk jalannya pembangunan.

Grafik harian terkini berikut memperlihatkan, betapa seriusnya situasi teknikal harga minyak dunia saat ini, di mana tren penguatan harga minyak kini telah menuju solid untuk membyuka peluang lebar gerak naik lebih lanjut yang mengkhawatirkan.