Di Komisi Antirasuah, Firli bukan sosok baru. Dia pernah menjabat sebagai Deputi Penindakan.

Inspektur Jenderal Firli Bahuri resmi terpilih menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2019-2023. Sebelum mengikuti seleksi pimpinan KPK, Firli menjabat Kapolda Sumatera Selatan.  

Di Komisi Antirasuah, Firli bukan sosok baru. Dia pernah menjabat sebagai Deputi Penindakan.

Namun, saat menjabat Deputi Penindakan, Firli dianggap telah melakukan pelanggaran etik. Hal tersebut berdasarkan kesimpulan Direktorat Pengawasan Internal KPK. Hasil pemeriksaan disampaikan kepada Pimpinan KPK tertanggal 23 Januari 2019.

Sejumlah pelanggaran dilakukan Firli menurut KPK. Dewan Penasihat KPK Mohammad Tsani Annafari menjelaskan, pertama, Firli dua kali bertemu dengan Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Zainul Majdi ketika KPK sedang melakukan penyelidikan dugaan korupsi terkait kepemilikan saham pemerintah daerah dalam PT Newmont pada tahun 2009-2016.

Baca JUga:  KPK: Irjen Firli Diduga Lakukan Pelanggaran Berat

Tsani mengungkapkan kalau Firli tidak pernah meminta izin melakukan pertemuan dengan pihak yang terkait perkara dan tidak pernah melaporkan ke pimpinan.

Pelanggaran etik selanjutnya adalah ketika Firli bertemu pejabat BPK, Bahrullah Akbar di Gedung KPK. Saat itu, Bahrullah diagendakan pemeriksaan dalam kapasitas sebagai saksi untuk tersangka Yaya Purnomo perihal kasus suap dana perimbangan. Tsani mengungkapkan Firli didampingi Kabag Pengamanan menjemput langsung Bahrullah di lobi Gedung KPK.

Kemudian pelanggaran ketiga dilakukan ketika Firli bertemu dengan pimpinan partai politik di sebuah Hotel di Jakarta, 1 November 2018.

Saat uji kepatutan dan kelayakan di Komisi III DPR RI kemarin, Firli pun mengklarifikasi sangkaan pelanggaran etik yang dijatuhkan padanya, termasuk pula isu soal ratusan tiket gratis Westlife saat menjabat Kapolda Sumsel.

"Soal karcis konser Westlife, saya jelaskan sekalian agar klir. Enam ratus karcis Westlife dituduhkan disebar di Polda Sumatra Selatan secara gratis. Saya tidak pernah tahu sama sekali itu," ujar Firli dalam uji kelayakan dan kepatutan Capim KPK di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (12/9).

Firli menjawab isu pertemuan dengan mantan Gubernur NTB TGB Zainul Majdi. Pertemuan itu jadi sorotan sebab KPK sedang menelusuri kasus Newmont yang menyeret TGB.

Firli mengklaim pertemuan itu terjadi tak sengaja. Ia sedang bermain tenis bersama pimpinan militer setempat. Namun usai bermain, TGB yang saat itu masih gubernur tiba-tiba datang.

Ia bahkan menegaskan tak ada pembicaraan kasus dalam pertemuan itu. Bahkan KPK tetap mengekspos kasus tersebut beberapa bulan setelah pertemuan tersebut.

"Saat itu TGB bukan tersangka. Sampai hari ini belum pernah tersangka. Kawan-kawan dewan terhormat mengikuti tidak ada kepala daerah jadi tersangka secara sembunyi-sembunyi," ucapnya.

"Saya jelaskan semuanya biar besok-besok tidak ada isu-isu lagi," ucap Firli.

DI luar kontroversi tersebut, pria kelahiran Lontar, Muara Jaya, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan itu sempat mengenyam sejumlah jabatan penting di Korps Bhayangkara, di antaranya Kapolres Persiapan Lampung Timur dan Wakapolres Lampung Tengah (2001), Kasat III/Umum Ditreskrimum Polda Metro Jaya (2005), Kapolres Kebumen (2006), Kapolres Brebes (2007), dan Wakapolres Metro Jakarta Pusat (2009).

Baca Juga: Irjen Firli Jadi Ketua KPK, Komisioner dan Penasihat Langsung Mundur

Dia juga pernah menjabat sebagai Asisten Sespri Presiden (2010), Dirreskrimsus Polda Jateng (2011), Ajudan Wapres RI (2012), Wakapolda Banten (2014), Karodalops Sops Polri (2016), Wakapolda Jawa Tengah (2016), Kapolda Nusa Tenggara Barat (2017), dan Kapolda Sumatra Selatan (2019).

Berapa harta Irjen Firli?

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Firli memiliki harta Rp18.226.424.386.

Rinciannya:

A. Tanah dan Bangunan senilai Rp10.443.500.000
1. Tanah dan Bangunan Seluas 317 m2/184 m2 di BEKASI, HASIL SENDIRI Rp1.436.500.000
2. Tanah Seluas 300 m2 di KOTA BANDAR LAMPUNG, HASIL SENDIRI Rp412.500.000
3. Tanah Seluas 300 m2 di KOTA BANDAR LAMPUNG, HASIL SENDIRI Rp412.500.000
4. Tanah Seluas 300 m2 di KOTA BANDAR LAMPUNG, HASIL SENDIRI Rp412.500.000
5. Tanah Seluas 300 m2 di KOTA BANDAR LAMPUNG, HASIL SENDIRI Rp412.500.000
6. Tanah dan Bangunan Seluas 250 m2/87 m2 di BEKASI, WARISAN Rp2.400.000.000
7. Tanah dan Bangunan Seluas 612 m2/342 m2 di BEKASI, HASIL SENDIRI Rp2.727.000.000
8. Tanah dan Bangunan Seluas 120 m2/360 m2 di BEKASI, HASIL SENDIRI Rp2.230.000.000

B. Alat Transportasi dan Mesin Rp632.500.000
1. MOTOR, HONDA VARIO Tahun 2007, HASIL SENDIRI Rp2.500.000
2. MOBIL, TOYOTA COROLLA ALTIS Tahun 2008, HASIL SENDIRI Rp70.000.000
3. MOBIL, TOYOTA LC RADO 27AT Tahun 2010, HASIL SENDIRI Rp400.000.000
4. MOBIL, KIA SPORTAGE 2.0 GAT Tahun 2013, HASIL SENDIRI Rp140.000.000
5. MOTOR, YAMAHA N-MAX Tahun 2016, HASIL SENDIRI Rp20.000.000

C. HARTA BERGERAK LAINNYARp.----
D. SURAT BERHARGARp.----
E. KAS DAN SETARA KAS Rp7.150.424.386
F.HARTA LAINNYARp.----

TOTAL HARTA KEKAYAAN Rp18.226.424.386