Keduanya melakukan pembobolan sejak 3 Desember 2018 hingga awal Juli 2019. Dari total kerugian bank sebesar Rp 16 miliar.

Polisi menangkap dua tersangka pembobolan bank BUMN dengan menggunakan aplikasi Kudo. Akibat tindakan mereka, bank BUMN tersebut mengalami kerugian hingga Rp16 miliar.

Dua tersangka yang ditangkap Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri itu adalah YA (24) berprofesi sebagai pelajar atau mahasiswa di salah satu universitas di Palembang, dan RF (23) yang berprofesi sebagai wiraswasta. Selain dua tersangka ini, polisi juga masih memburu pelaku lain.

Dari kelompok YA dan RF masih ada dua orang lagi yang masuk daftar pencarian orang. Selain kelompok YA dan RF, polisi menyebutkan ada kelompok lain yang masih satu kampung dengan YA dan RF. Mereka sama-sama melakukan pembobolan dengan memanfaatkan bocoran cara membobol bank menggunakan aplikasi yang sama.

Kepala Unit I Sub Direktorat I Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kompol Ronald Sipayung menyebutkan YA dan RF memanfaatkan celah keamanan yang ada di aplikasi Kudo maupun bank BUMN.

Keduanya melakukan pembobolan sejak 3 Desember 2018 hingga awal Juli 2019. Dari total kerugian bank sebesar Rp 16 miliar. YA dan RF disinyalir berhasil membobol hingga Rp 1,3 miliar.

Menurut Ronald, beberapa kelompok lain yang membobol bank itu dengan cara yang sama, masih diburu. "Dua tersangka ini telah membobol Rp1,3 miliar lewat aplikasi Kudo. Total keseluruhan kerugian bank BUMN ini adalah Rp 16 miliar dari beberapa sindikat ya. Dua orang ini baru satu sindikat, masih ada yang lainnya yang masih kami kejar," tutur Ronald, Selasa (10/9).

Ronald menjelaskan kasus pembobolan bank itu terungkap setelah ada aduan dari pihak bank yang namanya masih dirahasiakan, bahwa telah terjadi anomali transaksi pada 3 Desember 2018 melalui aplikasi Kudo.

"Jadi pelaku ini berhasil melakukan transaksi lewat aplikasi itu, namun saldo di aplikasi itu tetap ada, tidak berkurang. Sementara semua transaksi yang dilakukan pelaku status berhasil. Jadi kan bank yang harus membayar itu semua, karena aplikasi ini bekerja sama dengan bank," kata Ronald.

Dana hasil pembobolan bank tersebut, menurut Ronald, digunakan tersangka untuk membeli mobil, notebook, jam tangan mewah dan properti lainnya. "Dari jaringan sindikat ini, masih ada dua orang yang belum ditangkap dan sudah masuk DPO. Masih ada sindikat lainnya yang masih kami kejar juga," ujarnya.

Pihak Kudo memberikan klarifikasinya terkait kasus ini. "Kudo telah melakukan pengecekan kembali kepada Direktorat Siber Bareskrim Polri dan menyimpulkan bahwa tidak ada pernyataan dari Direktorat Siber Bareskrim Polri yang menyebutkan kesalahan ataupun masalah keamanan pada aplikasi Kudo," kata Communications Specialist Kudo, Purinta Nira Diani melalui pernyataan resminya, Rabu (11/9/2019).

Purianta menuturkan, Kudo akan terus bekerja sama dengan pihak kepolisian dan pihak lainnya terkait kasus ini. "Kudo terus melakukan usaha tanpa henti dan upaya terbaik guna memastikan aplikasi Kudo tetap menjadi aplikasi yang aman dan terpercaya untuk terus mendukung usaha memajukan warung dan usaha kecil di Indonesia," tutur Purinta.

Dari para tersangka polisi mengamankan 4 buah handphone, seperangkat perhiasan emas, 2 buah jam tangan mewah, 2 buah laptop, 1 unit mobil Toyota Calya sebagai barang bukti hasil tindak pidana pelaku.

Atas perbuatan tersebut, kedua tersangka dijerat Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal 378 serta Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 362 KUHP, dengan pidana penjara paling lama 6 tahun serta denda paling banyak Rp 1 miliar.