Maraknya kecelakaan di ruas Tol Cipularang itu membuat cerita mistis berkembang di sekitar lokasi. Penduduk setempat percaya titik kilometer terjadinya kecelakaan itu merupakan daerah sakral.

Dalam waktu kurang 10 hari, kecelakaan maut kembali terjadi di ruas Tol Cipularang KM90-100. Ada apa dengan ruas tol tersebut?

Kecelakaan pertama terjadi pada Senin (2/9). Kecelakaan itu mengakibatkan 8 orang meninggal dunia. Polisi menetapkan dua sopir truk yang memicu kecelakaan jadi tersangka. Mereka adalah Subana dan Dedi Hidayat. Dedi meninggal karena tubuhnya terjepit truk.

Delapan hari kemudian, tepatnya Selasa (10/9) kecelakaan kembali terjadi di Tol Cipularang arah Jakarta. Tepatnya di KM 92. Penyebabnya hampir sama: truk yang mengalami rem blong. Beruntung tak ada yang meninggal dalam peristiwa itu.

Maraknya kecelakaan di ruas Tol Cipularang itu membuat cerita mistis berkembang di sekitar lokasi. Penduduk setempat percaya titik kilometer terjadinya kecelakaan itu merupakan daerah sakral.

Mitos yang selama ini berkembang adalah tentang keberadaan Gunung Hejo di kawasan tol tersebut. Gunung Hejo dipercaya sebagai tempat petilasan Raja Pajajaran Prabu Siliwangi. Hampir setiap hari lokasi tersebut didatangi peziarah dari berbagai daerah yang menganggapnya sebagai tempat keramat.

Selain itu, muncul pula cerita kehadiran wanita misterius berbaju merah yang berjalan di bahu jalan. Wanita itu juga disebut menyeberang jalur tol tersebut. Tak jarang, wanita misterius itu kerap memberhentikan sebuah bus sebagai penumpang.

General Manager PT Jasa Marga Cabang Purbaleunyi Dwi Winarsa pun angkat bicara mengenai beredarnya kisah mitos mistis di Tol Cipularang. Menurut dia, institusinya akan evaluasi menyeluruh terkait banyaknya kecelakaan di Tol Cipularang, khususnya di titik KM 90-100.

Evaluasi itu, kata Dwi,tidak akan menyinggung soal hal mistis. "Enggaklah, kita enggak ke sana (hal mistis). Kalau dilarikan ke situ, nanti tidak bisa dievaluasi," kata Dwi, dikutip dari kumparan, Rabu (11/9/2019).

Dwi juga membantah adanya ingkar janji yang dilakukan kontraktor saat membangun tol itu dengan warga. Karena menurut dia, semua prosedur telah terpenuhi. "Apapun tetap kita perlu kalau di situ ada pekerjaan, ya, berdoa, dan memastikan kondisi kendaraan dan pengemudi bisa sesuai yang seharusnya di jalan tol," ujar dia.

Dwi memastikan, telah melakukan kajian yang dipandang dari berbagai sisi untuk mengungkap penyebab kecelakaan yang terjadi di rentang kilometer tersebut.

Menurut Dwi, sisi pertama adalah terkait dengan geometrik jalan yang dianggap oleh masyarakat terlalu curam. Namun, dia mengatakan, semua jalan tol yang dilintasi oleh kendaraan dipastikan telah sesuai dengan persyaratan yang ditentukan.

Dwi menambahkan, sejak tahun 2019 telah terjadi empat kali kecelakaan di jalur tersebut. Adapun lakalantas yang menimbulkan korban jiwa terjadi beberapa pekan lalu dengan tersangka dua sopir truk karena membawa muatan berlebih.