Nama Bambang Irianto pernah menjadi sorotan Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas yang dibentuk pada 16 November 2014

Mantan Presiden Direktur Pertamina Energy Trading Limited (Petral), Bambang Irianto, resmi ditetapkan sebagai tersangka suap di sektor migas. Dia diduga menerima uang sekurang-kurangnya US$2,9 juta atau sekira Rp40,7 miliar atas bantuan yang diberikannya kepada Kernel Oil.

Atas dugaan tersebut, Bambang disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Nama Bambang pernah menjadi sorotan Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas yang dibentuk pada 16 November 2014 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Tim yang dipimpin oleh Ekonom Senior Faisal Basri kala itu mengungkapkan, gaji yang diterima Bambang mencapai S$44.000 atau setara Rp448 juta dengan kurs saat ini. "Jadi gaji presiden Petral adalah 41.533 dolar Singapura ditambah macam-macam macam jadi 44 ribu dolar Singapura," ucap Faisal pada 1 April 2015.

Menurut Faisal, Dirut Pertamina kala itu Dwi Soetjipto (Sekarang Kepala SKK Migas) hanya menerima sekitar setengah dari gaji Bambang. "Saya tanya Pak Dwi, gaji dirut Pertamina berapa, kira-kira Rp200 juta-an. Makanya gajinya berapa kali lipat dari direksi," ujar Faisal.

Faisal juga menyebut Bambang menerima pesangon (severance payment) mencapai 1.195.508 dolar Singapura. Setara dengan Rp12 miliar lebih.

Bambang juga disebut menerima fasilitas satu unit apartemen di Four Season Singapura.

Selain itu, Faisal mengungkapkan Petral juga kedapatan mengoleksi sertifikat berharga berupa surat utang berdenominasi dolar (global bond) yang diterbitkan Pertamina selaku induk usahanya. Namun, Faisal mengaku tidak tahu detil mengenai seri maupun jumlah global bond Pertamina yang dikoleksi Petral.

“Dengan kata lain pendapatan (sebagian) Petral berasal dari bunga yang dibayarkan induk perusahaannya sendiri. Ini yang aneh. Saya tegaskan lagi Pertal tak perlu cari-cari tahu kenapa Faisal bisa tahu ini (global bond),” katanya.

Baca Juga:   Sepak Terjang Petral: Awal Berdiri, Dibubarkan Jokowi, Korupsi Dibongkar KPK

Dengan gaji fantastis itu, Bambang diketahui memiliki harta dengan total Rp6.482.659.439 dan US$430.299. Hal itu tercantum dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tertanggal 2 November 2012 yang diunduh dari laman KPK.

Dalam LHKPN itu, Bambang memiliki harta berupa 3 unit tanah dan bangunan yang berlokasi di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur dengan nilai Rp2.502.047.000.

Selain itu, Bambang juga mengoleksi kendaraan seperti Mitsubishi Pajero Sport, Toyota Rush, Honda Mega Pro, dan Yamaha Mio. Nilai totalnya sebesar Rp554.050.000.

Bambang juga memiliki harta berupa logam mulia dan harta bergerak lainnya dengan nilai Rp324.400.000; dan giro sebesar Rp3.102.162.439 dan US$430.299.

Sehingga total harta Bambang Irianto sebesar Rp6.482.659.439 dan US$430.299.