Transformasi digital bukan hanya penggunaan IT, ini tentang mengubah pola pikir, cara kita bekerja

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo) kembali unjuk gigi di ajang internasional ITU Telecom World Budapest 2019. Di hari pertama perhelatannya, Niken Widiastuti, Sekertaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Sekjen Kemkominfo), diminta oleh Sekertaris Jenderal ITU, Houlin Zhao, memberikan paparan dalam sesi forum spesial mengenai Percepatan Transformasi Digital Melalui ICT Centric Ecosystem. 
 
Niken Widiastuti, Sekretaris Jenderal Kemkominfo mengatakan, “Pembangunan lima tahun terakhir telah kami fokuskan pada penyediaan infrastruktur untuk  memeratakan konektivitas dan meningkatkan pertumbuhan. Tahun ini kami telah menyelesaikan koneksi backbone serat optik di semua kota di Indonesia.”
 
“Tak hanya menyediakan infrastruktur, kami juga mendukung pengembangan masyarakat dengan meningkatkan sumber daya manusia agar semakin berkualitas melalui  e-literacy dan pada saat yang sama menyediakan platform, aplikasi, dan konten yang sesuai dengan kebutuhan mereka.”
 
“Sehubungan dengan ini, saya akan berbicara tentang dua poin utama: yang pertama, kemajuan Indonesia dalam meluncurkan Jaringan Backbone Kapasitas Tinggi Nasional, dan kedua, Skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan usaha/ Pembiayaan Kemitraan Publik-Swasta (KPBU/PPP) agar adopsi model bisnis yang disruptif, redistribusi pendapatan, shared economy, dan digitalisasi tenaga kerja semakin mudah untuk tercapai.”


 
Untuk menjabarkan dua poin tersebut Sekjen Kemkominfo menjelaskan mengenai:

1. Pengembangan telekomunikasi yang harus didasarkan pada pendekatan ekosistem yang akan mempercepat transformasi digital. Ekosistem dalam sudut pandang Kemkominfo berkaitan dengan device, network, dan application (DNA) yang memastikan keseimbangan antara supply dan demand.
 
a. Proyek Palapa Ring yang telah 100% selesai dibangun pada 2019. Palapa Ring akan memberikan akses broadband kecepatan tinggi dari ujung barat Indonesia terjauh ke wilayah paling terpencil di Indonesia Timur, menyediakan konektivitas dan penetrasi internet ke semua 514 kota di semua pulau besar di Indonesia, seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. 

b. Proyek broadband yang dibangun oleh Pemerintah melalui skema KPBU memiliki kecepatan tinggi dan jangkauan lebih dari 12,000 km kabel serat optik bawah laut dan terestrial, 49 Microwave Hops, dan mencakup daerah pegunungan dengan sumber daya listrik yang terbatas.
 
2. Dalam menyediakan teknologi terestrial dan VSAT di wilayah yang terpencil untuk mengintegrasikan jaringan Indonesia, sejumlah dana yang berasal dari KPBU/PPP dialokasikan untuk mencukupi semua kebutuhan masyarakat dengan cara yang paling efisien dan efektif, termasuk dalam penyebaran infrastruktur telekomunikasi.

Saat ini, pemerintah Indonesia telah memposisikan dirinya tidak hanya sebagai penyedia layanan publik, tetapi juga sebagai fasilitator dan kolaborator untuk bersama memecahkan masalah masyarakat.

Selain itu bidang lain yang sedang Kemkominfo coba dorong adalah kesetaraan gender. Di era IT sendiri, kesenjangan gender digital antara pria dan wanita dalam penggunaan IT masih lazim. Menurut Laporan Statistik Sosial Budaya yang dirilis tahun lalu, 37,49% wanita memiliki akses ke internet, sedangkan pria memiliki akses yang lebih besar ke internet dengan 42,31%.
 
“Untuk mengimbangi era digital, semua orang, termasuk perempuan harus melek digital dan dilengkapi dengan keterampilan digital pula; tanpanya, perempuan akan tertinggal dan mungkin terlantar dalam pekerjaan mereka. Selanjutnya, di era revolusi industri 4.0 ini, membutuhkan lebih banyak perempuan untuk terlibat dan terlibat dalam bidang IT.” 
 
“Sekitar 5% kesenjangan gender digital antara laki-laki dan perempuan harus diatasi dengan pendekatan yang komprehensif, antara lain, dengan meningkatkan pendidikan bagi perempuan di bidang IT, meningkatkan kesadaran tentang isu-isu kesetaraan gender dan memerangi stereotip gender.

Oleh karena itu, kita harus mendorong semua perempuan untuk terus meningkatkan keterampilan IT mereka dan benar-benar mempertimbangkan jalur karir di bidang IT, khususnya dalam pendidikan berbasis STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), agar dapat tetap mengikuti perkembangan digital hari ini.”
 
Sambil melanjutkan upaya untuk menawarkan konektivitas, Kemkominfo juga sudah memulai perjalanan menuju transformasi digital. Faktor penentu utama yang menjadi determinan pemerintahan digital adalah:
 
1. Adopsi masukan dan kebutuhan dari masyarakat (citizen-centric)

2. Pengawasan yang terpusat dengan kepemimpinan yang kuat dan dukungan politik

3. Prioritasi sektor yang berpotensi dan berdampak tinggi

4. Paralelitas proses digital secara cepat antara pemerintah dengan industri

5. Penentuan quick win untuk diselenggarakan secara serentak.
 
“Transformasi digital bukan hanya penggunaan IT, ini tentang mengubah pola pikir, cara kita bekerja. Ini tidak mudah. Untuk mulai dengan melihat apa yang sebeneranya dibutuhkan masyarakat dan membuat peta jalan implementasi. Tapi di sinilah kita, untuk berbagi praktik terbaik dari negara lain untuk mempercepat transformasi. Semoga apa yang diterapkan Indonesia, bisa menjadi inspirasi bagi negara anda,” tutup Niken.
 
Dalam ITU Telecom World 2019 Kemkominfo menghadirkan Indonesia Pavillion dengan membawa serta para pelaku industri dan start-up tanah air seperti Telkom, Ruang Guru, Bahaso, Indonesia Satu Tujuh, Aruna, dan Cubeacon yang telah bersinergi dengan pemerintah untuk mempercepat transformasi digital.