Tugas Petral adalah melakukan jual-beli minyak. Lebih tepatnya membeli minyak dari mana saja untuk dijual ke Pertamina. Semua aktivitas itu dilakukan di Singapura.

Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK membongkar dugaan praktik mafia di sektor minyak dan gas atau migas. Mantan Direktur Utama (Dirut) Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) Bambang Irianto (BTO) telah ditetapkan sebagai tersangka suap kegiatan perdagangan minyak mentah dan produk kilang di Pertamina Energy Services Pte. Ltd (PES) selaku subsidiary company PT Pertamina (Persero).

Pengungkapan kasus ini dimulai sejak Juni 2014. Saat itu KPK mulai mengumpulkan informasi dan data yang relevan.

"Penyelidikan tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati dan cermat. Pada tahapan itu telah dilakukan permintaan keterangan terhadap 53 orang saksi dan dipelajari dokumen dari berbagai instansi serta koordinasi dengan beberapa otoritas di lintas negara," kata Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif, di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (10/9/2019).

Bambang disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Bagaimana sepak terjang Petral?

Awal Berdiri

Berdasarkan data Pertamina, Petral berdiri pada 1969 dengan nama PT Petral Group dengan dua pemegang sahamnya dari Petra Oil Marketing Corporation Limited yang terdaftar di Bahama dengan kantornya Hong Kong, serta Petral Oil Marketing Corporation yang terdaftar di California, Amerika Serikat (AS).

Pada 1978, kedua perusahaan pemegang saham Petral tersebut melakukan marger dengan mengubah nama perusahaanya menjadi Petra Oil Marketing Limited yang terdaftar di Hong Kong.

Kemudian pada 1979-1992, kepemilikan saham Petra Oil Marketing Limited dimiliki oleh perusahaan Zambesi Invesments Limited yang terdaftar di Hong Kong dan Pertamina Energy Services Pte Limited yang terdaftar di Singapura.

Pada 1998, perusahaan tersebut diakusisi oleh PT Pertamina (Persero) dan pada 2001 mengubah namanya menjadi PT Pertamina Energy Trading Ltd (Petral). Selain Pertamina, sahamnya juga dimiliko Zambesi Invesments Limited dan Pertamina Energy Services Pte Limited.

Tugas Petral adalah melakukan jual-beli minyak. Lebih tepatnya membeli minyak dari mana saja untuk dijual ke Pertamina. Semua aktivitas itu dilakukan di Singapura.

Dibubarkan Jokowi

Perjalanan Petral harus berakhir pada 13 Mei 2015. Saat itu, PT Pertamina resmi menghentikan operasi PT Petral dan selanjutnya perusahaan-perusahaan di dalamnya akan dilikuidasi.

"Kami melihat bahwa peran Petral sudah tidak lagi signifikan dalam proses bisnis Pertamina sehingga kami putuskan mulai hari ini dilakukan penghentian kegiatan Petral," kata Direktur Utama Pertamina Dwi Sutjipto kala itu di Jakarta melansir dari Antara pada saat itu.

Dalam konferensi pers di Kantor Kementerian BUMN, ia menegaskan penghentian operasi Petral ini telah disetujui komisaris PT Pertamina. Langkah tersebut akan didahului dengan uji kepatutan keuangan dan hukum, serta audit investigasi yang akan dilakukan auditor independen.

Kegiatan bisnis Petral, terutama menyangkut ekspor dan impor minyak mentah dan produk kilang, akan sepenuhnya dijalankan oleh Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina. Keputusan ini membuat segala hak dan kewajiban Petral yang masih ada akan dibereskan atau diambilalih oleh Pertamina, termasuk segala bentuk aset juga akan dimasukan sebagai bagian dari BUMN itu.    

Petral Bubar, Pertamina Untung

PT Pertamina (Persero) merasakan manfaat besar setelah bubarnya PT Petral. Sejak proses impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) beralih dari Petral ke Integrated Supply Chain (ISC), Pertamina berhasil menghemat US$523 juta atau sekitar Rp6,9 triliun selama tahun 2015-2016.

Menurut Vice President ISC Pertamina Daniel Purba, proses tender minyak mentah dan BBM menjadi lebih transparan sejak Petral dibekukan. Semua perusahaan terbuka mengikuti proses lelang tersebut.

Alhasil, dalam proses impor tersebut, ISC memperoleh harga yang lebih murah dibandingkan sebelumnya. “Kami membuka kesempatan bagi semua potensial supplier menawarkan produk-produknya dengan kompetisi terbuka," ujar dia di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (7/4/2017).