Akun Dorsey menuliskan kalimat-kalimat yang kontroversial.

Siapa sangka akun milik Chief Executive Twitter Inc Jack Dorsey bisa diretas pada Jumat (30/8) malam. Saham Twitter turun kurang dari 1% menyusul peretasan tersebut.

Insiden itu bukan kali pertama yang dialami Dorsey. Akun twitternya pernah diretas pada 2016 oleh kelompok yang juga meretas akun Twitter CEO Google Sundar Pichai dan CEO Facebook Mark Zuckerberg.

Diretasnya akun Dorsey membuat jagad twitter heboh. Pasalnya, akun Dorsey menuliskan kalimat-kalimat yang kontroversial. Beberapa tweet yang ditulis antara lain: pemimpin Nazi Adolf Hitler tidak bersalah, ada pula komentar penghinaan tentang orang kulit hitam dan Yahudi, serta tweet yang menuliskan ada bom di markas Twitter.

Twitter seperti dilansir Reuters menjelaskan nomor telepon yang terkait dengan akun Dorsey diretas karena minimnya pengawasan keamanan oleh penyedia ponsel.

“Ini memungkinkan orang yang tidak berwenang untuk menulis dan mengirim tweet melalui pesan teks dari nomor telepon. Masalah itu sekarang telah diatasi,” kata perusahaan itu, seraya menambahkan secara terpisah bahwa tidak ada indikasi bahwa sistem Twitter telah diretas seperti yang dikutip Reuters.

Peretasan ini menggarisbawahi rentannya platform media sosial, yang banyak digunakan oleh pemimpin dan politisi dunia, termasuk Presiden AS Donald Trump. Permasalahan ini datang pada saat perusahaan media sosial menghadapi pengawasan atas manajemen jaringan mereka, masalah privasi, hingga keamanan data pengguna.

Tweet dan retweet dari akun Dorsey yang meresahkan tersebut langsung dihapus kurang dari satu jam sejak insiden itu terjadi. Sejumlah akun Twitter yang di`sebut dalam tweet dan retweet yang diretas itu tampak disupensi untuk sementara waktu pada Jumat kemarin.

Hasil screenshot menunjukkan, tweet itu dikirim melalui Cloudhopper, layanan pesan SMS yang diakuisisi Twitter pada 2010. Pihak Twitter tidak merespon pertanyaan Reuters apakah peretasan dilakukan melalui Cloudhopper.

Security researcher Brian Krebs mengatakan kepada Reuters, tampaknya Dorsey merupakan korban dari serangan pertukaran SIM di mana provider telekomunikasi ditipu atau diyakinkan untuk mentransfer nomor telepon korban ke SIM card yang dipegang oleh orang lain.