Carlo meneruskan refleksinya bahwa pemimpin memang mesti terbuka pada kritik dan bahkan sebelum dikritik sesungguhnya dia sudah mesti sadar akan dirinya sendiri.

Sejarah leluhur Minahasa menjadi polemik di Sulawesi Utara. Pro dan kontra mengenai asal usul orang Minahasa ramai diperbincangkan.

Carlo Brix Tewu mencoba meluruskan polemik yang terjadi di tanah leluhurnya itu. Perwira tinggi polisi berpangkat Inspektur Jenderal itu mengungkapkannya dalam sebuah artikel yang ditulis Stefi Rengkuan di Kompasiana.

"Torang musti positive thinking, kalau mau maju! Kita mesti berpikiran positif, bukan negatif," kata Carlo Tewu yang saat ini menjabat Deputi V untuk Koordinasi Bidang Keamanan dan Ketertiban pada Kementerian Koordinator Polhukham saat ditemui di kantornya. Hal ini disampaikan Carlo Tewu di tengah persiapannya menerbitkan buku 'Perang Tondano'.

Berikut tulisan lengkap Stefi Rengkuan:

Tulisan di Kompasiana yang berjudul "Gubernur Dondokambey Takdir Sejarah Leluhur Minahasa" ternyata bukan hanya ditanggapi antusias dan positif. Ada saja tanggapan miring dan penuh tuduhan tertentu dengan asumsi yang berlebihan. Disebarkan di berbagai media sosial, tulisan ini menjadi polemik dan dianggap terkesan menjilat sang gubernur.

Menanggapi komentar miring atas tulisan tersebut, Carlo Brix Tewu hanya tersenyum dan dengan singkat mengatakan, "torang musti positive thinking, kalo mau maju!" Kita mesti berpikiran positif, bukan negatif.

Pernyataan bijak ini disampaikannya langsung kemarin siang dalam pertemuan membicarakan persiapan akhir penerbitan buku Perang Tondano di kantornya sebagai Deputi V untuk Koordinasi Bidang Keamanan dan Ketertiban pada Kementerian Koordinator Polhukham di Jalan Merdeka Barat.

"Tidak ada yang sempurna, tapi mari biasakan melihat apa yang bagus dan mampu diperbuat pemimpin kita." Harus diakui ada banyak kemajuan yang sudah Gubernur buat dan kelebihan beliau memang soal koordinasi bisa tembus sampai lingkaran dekat bahkan presiden sendiri lho! Banyak proyek daerah gagal karena tak ada kawalan dari pusat.

"Kritik tetap mesti disampaikan secara terbuka tapi mesti seimbang dan terarah pada solusi daripada sekedar membeberkan masalah apalagi sekedar mau mengecilkan dan meniadakan peran nyata dari pemimpin." Tegas Carlo yang lama diberi kepercayaan dalam bidang penanganan kejahatan biasa sampai luar biasa, narkoba dan terorisme.

Carlo meneruskan refleksinya bahwa pemimpin memang mesti terbuka pada kritik dan bahkan sebelum dikritik sesungguhnya dia sudah mesti sadar akan dirinya sendiri. Suatu saat nanti pejabat akan pensiun, jangan sampai kaget dan terkena penyakit post power syndrom. Mungkin salah satu penyebab adalah karena tidak mempersiapkan diri untuk mengakhiri jabatan.

"Kita komang nda mau itu terjadi pa kita sendiri." dengan logat Manado yang kental menegaskan bahwa tak mengharapkan di masa tua terkena penyakit lupa diri itu lalu tidak menikmati sisa hidup dengan penuh syukur. Salah satu persiapan adalah bagaimana mental tidak kaget atau kecewa pada saat tidak dilayani lagi sebagai pejabat dengan segala protokoler dan privilege yang melekat dalam jabatan yang memang masih sangat feodal birokratis.

"Coba perhatikan foto Arnold Schwarzenegger yang tidur di bawah patung di depan sebuah hotel yang didirikan justru sebagai penghormatan kepadanya semasa masih menjabat Gubernur California." Ujar santai Carlo yang pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Barat dia awal terbentuk dan Kapolda termuda saat menjabat di Sulawesi Utara ini.

Benar, kita bisa cek di jagad maya, Arnold mengunggah fotonya tersebut dengan tulisan 'How times changed', betapa waktu berubah! Ya, sewaktu meresmikan hotel itu, pihak management menyatakan bahwa setiap saat beliau boleh datang dan ada kamar yang tersedia untuk dia. Namun ternyata pihak hotel menolaknya  dengan alasan kamar hotel penuh, karena dia buka gubernur lagi?

Tentu saja Arnold bukan sekedar acting tapi dibalik tindakannya hendak memperlihatkan bahwa orang siapa saja bisa lupa janji. Siapa saja bisa lupa akan jasa apalagi jabatan semata. Maka perlulah para pejabat dan siapa saja kita untuk selalu positif melihat kedepan sambil mempersiapkan apa saja yang perlu.

Kita bagaikan musafir yang melintasi dunia ini, kita bagaikan hamba Allah yang tak berguna yang melaksanakan perintah Tuan yang diabdi (tertulis dalam Alkitab). Selama kita hidup di dunia, entah sebagai pejabat atau sudah pensiun atau sebagai rakyat biasa, selama masih hidup dan punya kemampuan, teruslah berbuat yang terbaik bagi semesta kehidupan, sesuai kemampuan dan sikon yang ada.

"Intinya memang soal mental yang sehat dan kuat perlu kita siapkan dalam segala momen dan kesempatan." Tegas Tewu yang juga pernah menjadi Komandan Batalyon Taruna di Akpol Semarang. Sejak masa masih pembinaan, dan terus sampai sudah menjalankan tugas, dan terus sampai siap pensiun atau berkarya dan eksis berguna di tempat dan kondisi lain, paling tidak untuk diri sendiri dan keluarga dekat. "Karena itu kwa kita (=saya) sekarang mengerti apa yang dimaksud oleh Jokowi dengan istilah revolusi mental, apalagi pada saat saya masuk dalam jabatan birokrasi sipil pemerintahan, melihat masih banyak mental ASN juga masyarakat yang memang asal pemimpin senang, tapi sesungguhnya mendustai tugas profesional dan status mereka sendiri."

Terkait nama fam Tewu, sebagai orang Minahasa, beliau juga penasaran arti fam yang dia warisi dari Ukung Tewu sebagai salah satu kepala Walak yang memimpin di Benteng Moraya yang historis dan monumental itu. Bahkan sampai sekarang lokasi berdirinya replika (tiang) besar benteng perang Tondano tersebut adalah tanah milik keluarga besar Tewu. Di permukaan replika tiang benteng yang besar-besar itu bertuliskan kisah dan para tokoh perang Tondano yang menggetarkan Kolonial sejak awal. Di dinding besar melengkung panjang itu, selain artefak benteng dan Waruga,  terpampang nama2 fam leluhur Minahasa.

Menurut Weliam Boseke, penemu dan penulis buku spektakuler Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa, terbitan Pohon Cahaya, Yogyakarta, 2017, nama2 Fam Minahasa diambil dari Syair pujian kepada Sang Kaisar dan terkait sekitar peristiwa perang terbesar di Tiongkok Kuno itu. Nadanya sendu melankolis karena berkisah juga tentang penderitaan, pengkianatan, pertumpahan darah dan martabat, kisah dramatis perpisahan anak2 dan orangtua di zaman perang tiga kerajaan, San Guo atau Sam Kok. Nyanyian itu dilantunkan turun temurun sejak pertama dibawakan oleh Opo Karema, Tonaas Wailan pertama. Nama2 fam ini punya arti dan terkait dengan sebuah eksistensi dan peristiwa perang kerajaan pada Dinasti Han pada abad ketiga Masehi. Fam Minahasa menjadi genetis atau diturunkan baru sejak jaman pembaptisan dan tradisi menulis dalam bahasa Latin diperkenalkan.

Pada awalnya bahasa Minahasa hanya memakai bahasa lisan, karena bahasa tulisan dari Han tidak berkembang walau masih bisa ditemukan jejaknya di situs kuno Watu Pinawetengan yang diyakini para leluhur sebagai tempat pembagian wilayah dan berpencarnya para leluhur yang tiba di tuur in tana (Han: tempat tiba dengan tidak sengaja)

Fam Tewu itu punya arti yang sangat mulia dan besar... Terdiri dari dua frase: Kaisar dan Tentara pejuang. Bila melihat cerita perang Sam Kok, Kaisar Liu Bei memang terus berperang untuk mempertahankan kerajaan sampai kematiannya.  Sebelum menduduki tahta, Liu Bei sudah menjalani pembinaan sebagai seorang ksatria yang sangat mahir dalam perkelahian dan pertempuran. Jadi, sebagai Kaisar, terpaksa masih terus bertempur memimpin pasukan, karena tuntutan darurat situasi yang membahayakan kerajaan dan masyarakatnya.

Kalau ada yang iseng bertanya kepada Carlo, apakah masih ada minat menjadi pejabat di daerah, misalnya melihat masih banyak hal yang mungkin bisa dikerjakan khusus soal revolusi mental aparat pemerintahan dan masyarakat sendiri? Beliau mungkin akan menjawab bahwa dana besar untuk ikut bertarung sudah bisa dipakai untuk hal-hal lain yang lebih pasti, misalnya modal anak cucunya, apalagi dia sudah pernah melaksanakan tugas pimpinan sebagai kepala daerah tingkat I.

Makin menarik bila kita bisa mengetahui apa kira2 situasi batin dan pikiran Carlo, - dalam banyak status dan posisi yang sudah dilalui dan dicapainya selama masa karir yang panjang, - sebagai seorang yang menyandang nama fam Tewu (Ti Wu) "kaisar yang berperang laksana ksatria" bila menghadapi situasi dan kondisi tertentu misalnya kontestasi kepala daerah di tanah asal?

Bisa jadi Carlo memilih menjadi seperti Arnold yang tak kehilangan akal dan tindakan untuk terus menginspirasi dunia, walau bukan sebagai gubernur lagi.