Saat ini ada 50 industri daur ulang di Indonesia yang telah berinvestasi sebesar Rp2,63 triliun dengan menyerap tenaga kerja lebih dari 20.000 orang.

Kementerian Perindustrian menyatakan industri daur ulang plastik di Indonesia saat ini tengah mengalami kesulitan terkait bahan baku. Padahal, industri ini berpotensi mendatangkan devisa US$441,3 juta atau sekira Rp6,2 triliun (kurs US$1 = Rp14.200).

Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kemenperin, Taufiek Bawazier, mengatakan, para pelaku industri kini kesulitan memasok bahan baku. Hal ini lantaran plastik yang ada berupa sampah yang sulit untuk dipisahkan menjadi bahan baku industri.

“Kriteria yang dilihat oleh industriawan, yaitu layak recycle atau tidak layak recycle. Garis besarnya yang diukur bahwa bahan baku tersebut bisa menjadi nilai tambah lebih tinggi lagi,” kata Taufiek.

Hal tersebut disampaikan Taufiek di sela penandatangan kontrak kerja sama Asosiasi Ekspor Impor Plastik Industri Indonesia (Aexipindo) dengan Komite Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (KPLHI) dalam pengawasan pengelolaan limbah plastik di Gedung Kemenperin, Jakarta, Jumat (23/8).

Selain itu, pasokan bahan baku plastik daur ulang dari luar negeri juga mengalami hambatan, karena ada regulasi yang mewajibkan bahan baku skrap plastik yang diimpor dengan kriteria 100% homogen atau tidak ada campuran atau bahan pengotor lainnya. “Ketentuan tersebut dirasa sulit untuk dipenuhi oleh pelaku industri daur ulang,” ujarnya.

Baca Juga: Pemerintah Keluarkan Amnesti Pelepasan Ratusan Kontainer Plastik, Kerugian Puluhan Miliar Terselamatkan

Dalam upaya mengatasinya, Kemenperin menawarkan solusi, yakni sisa produksi yang berasal dari bahan pengotor bahan baku dapat diolah dengan menggunakan mesin insenerator sehingga menghasilkan buangan yang lebih ramah lingkungan.

Taufiek menjelaskan, industri daur ulang ini akan mampu menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional, karena selain meningkatkan nilai tambah, juga bisa sebagai penghasil devisa.

“Saat ini, produk daur ulang plastik punya nilai ekonomi yang tinggi. Misalnya, menjadi bahan bangunan seperti pintu dan talang air, serta produk alat rumah tangga seperti ember dan gayung. Bahkan, telah menjadi bahan baku untuk memproduksi pakaian,” ujarnya.

Taufiek menyebutkan, saat ini ada 50 industri daur ulang di Indonesia yang telah berinvestasi sebesar Rp2,63 triliun dengan menyerap tenaga kerja lebih dari 20.000 orang.

“Sementara itu, potensi ekspor dari produk hasil daur ulang akan menembus US$441,3 juta di tahun 2019 atau naik dari capaian tahun lalu sebesar US$370 juta. Jadi, sektor ini kami terus dorong karena punya orientasi ekspor,” ujarnya.

Baca Juga: Impor Bahan Baku Tersendat, Asosiasi Ekspor Impor Plastik Minta Presiden Revisi Permendag

Peluang pengembangan industri daur ulang plastik di Indonesia dinilai masih cukup besar, mengingat daur ulang sampah rumah tangga masih berada di level 15,22%. “Artinya masih ada jenis plastik yang belum dilakukan daur ulang. Pemerintah menargetkan, limbah plastik yang didaur ulang pada tahun 2019 ini bisa menyentuh hingga angka 25%,” tuturnya.

Menurut Taufiek, investasi industri daur ulang juga dirasa lebih murah jika dibandingkan dengan membangun industri petrokimia di Indonesia. Bahkan, dalam membangun industri pertrokimia, bisa memakan waktu yang cukup lama, minimal sampai tiga tahun untuk pabrik tersebut beroperasi.

“Kebutuhan baku industri daur ulang plastik sebanyak 913 ribu ton dipenuhi dari dalam negeri dan 320 ribu ton dari negara lain,” ujarnya. Sementara itu, secara kebutuhan nasional, Indonesia memerlukan bahan baku plastik untuk produksi sebanyak 7,2 juta ton per tahun.

“Sebanyak 2,3 juta ton bahan baku berupa virgin plastic lokal disuplai oleh industri petrokimia di dalam negeri seperti PT. Lotte Chemical dan PT. Chandra Asri Petrochemical,” imbuhnya. Maka itu, industri plastik di Indonesia berperan penting karena menjadi rantai pasok produksi bagi sektor strategis lainnya. Contohnya bagi industri makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, serta elektronika.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menuturkan, implementasi konsep circular economy atau ekonomi berkelanjutan di sektor industri, selain telah menjadi tren dunia, konsep tersebut juga dinilai mampu berkontribusi besar dalam menerapkan pola produksi dan konsumsi berkelanjutan yang menjadi tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs). “Industri manufaktur berperan penting dan memberikan dampak yang luas dalam mewujudkan circular economy di Indonesia,” terangnya.

Konsep ekonomi berkelanjutan ini sejalan dengan standar industri hijau yang mampu berperan meningkatkan daya saing sektor manufaktur untuk masa depan, dengan mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Hal ini sesuai implementasi program prioritas pada peta jalan Making Indonesia 4.0.