Sejumlah besar akun akhirnya dibekukan oleh Facebook dan Twitter karena dinilai terlibat dalam aksi penyesatan informasi yang didukung oleh China.

Mungkin ini sekedatr konsekuensi dari sistem otoriter yang berlaku di China, di mana akibat arus informasi dikendalikan penuh oleh penguasa dan penguasa terlihat sangat mengeksploitasinya demia mempertahankan kekuasaan.  Persoalan menjadi pelik ketika terjadi di Hong Kong, sebuah wilayah bekas koloni Inggris yang telah terlanjur hidup dalam demokrasi dan keterbukaan.

Sebuah laporan terkini menyebutkan,  perusahaan jejaring sosial media terbesar dunia,  Twitter dan Facebook yang  telah menangguhkan  sejumlah besar   akun yang dinilai   terkait dengan kampanye disinformasi  (atau penyesatan informasi) yang berasal dari China.

Lebih jauh perusahaan milik Mark Zuckerberg itu, Facebook yang   telah mencatat beberapa halaman, grup, dan akun yang terlibat dalam aktivitas  penyesatan informasi terkait dengan aksi protes secara damai yang sedang berlangsung di Hong Kong dalam lebih dari dua bulan terakhir. Sedangkan   Twitter disebutkan telah membekukan 936 akun yang terkait dengan kampanye penyesatan informasi tersebut.

Twitter lebih lanjut  juga melarang entitas media yang dikendalikan oleh  China untuk tidak beriklan di platformnya yang terkenal itu.  Twitter juga menyebutkan, kampanye  penyesatan informasi terlihat  dirancang untuk menabur perselisihan politik di Hong Kong, termasuk merusak legitimasi dan gerakan protes politik di lapangan.

Sebagaimana dilaporkan sejumlah media internasional akhir-akhir ini, sekitar 1,7 juta pemrotes anti-pemerintah berkumpul di Hong Kong untuk melakukan aksi damai melawan pemerintah China, yang mengambil alih pemerintahan bekas jajahan Inggris pada tahun 1997. Protes meletus pada Juni menyusul rancangan undang-undang yang sekarang ditangguhkan yang akan memungkinkan tersangka penjahat di Hong Kong akan diekstradisi ke China. Namun tuntutan protes kemudian melebar hingga menuntut lepas dari China.

Pemerintah China, nampaknya kini harus menghadapi kesulitan besar, mengingat kampanye penyesatan informasi  alias ulah curang akan dengan mudah digagalkan, terlebih untuk wilayah Hong Kong.