Goola fokus menyajikan makanan dan minuman tradisional khas Indonesia.

Perusahaan rintisan atau startup Goola mendapatkan pendanaan US$ 5 juta atau sekitar Rp71 miliar dari modal ventura, Alpha JWC Ventures. Perusahaan minuman tradisional ini didirikan putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming, dengan temannya Kevin Susanto pada tahun lalu.

“Sebagai investor dan tim asal Indonesia, salah satu misi utama kami adalah untuk membawa wirausahawan dan startup Indonesia sukses di dalam negeri dan membawa mereka ke panggung internasional. Goola memiliki misi dan ambisi yang sama,” kata Managing Partner Alpha JWC Ventures Jefrey Joe dalam siaran pers.

Goola fokus menyajikan makanan dan minuman tradisional khas Indonesia. Startup ini juga mengusung konsep kios yang layanannya cepat atau dikenal dengan grab and go.

Rencananya, tambahan modal ini akan dipakai untuk mengukuhkan posisi Goola sebagai pemimpin pasar. Perusahaan ini pun berencana membuka lebih banyak gerai di Indonesia dan ekspansi ke Asia Tenggara tahun depan.

Kevin menjelaskan, Goola awalnya fokus pada bisnis kuliner konvensional. “Namun kami kemudian menyadari bahwa kami bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih besar. Kami ingin Goola menjadi yang terdepan dalam upaya 'menduniakan' kuliner khas Indonesia. Kami mau menjadikan Goola sebagai ikon tren serta kebanggaan Indonesia di dunia, seperti Thai Tea di Thailand dan bubble tea di Taiwan,” katanya.  

Kini, Goola memiliki 22 menu minuman yang terbagi dalam empat seri yakni produk unggulan (signature), teh, kopi, dan minuman segar. Produk utamanya seperti Es Doger Jeger, Es Kacang Hijau, dan Es Goola Aren.

Sejalan dengan konsep grab and go, Goola akan mengimplementasikan pendekatan ‘new retail’ melalui penggunaan aplikasi. Gibran berharap, adopsi teknologi ini bisa memaksimalkan pengalaman transaksi para pelanggan melalui pemesanan online tanpa antrian, program loyalitas, dan lainnya.

Meski begitu, Gibran menegaskan bahwa perusahaannya mengutamakan kualitas produk. “Jika minuman manis dari negara lain bisa populer, mengapa yang lokal tidak bisa? Produk kami telah diterima baik oleh pelanggan. Tak hanya Goola mengikuti tren konsumsi minuman manis, banyak yang mengatakan produk kami membawa kenangan masa kecil mereka dan mengingatkan pada tradisi yang sudah lama terlupa,” katanya.

Di sisi bisnis, Goola menyasar pasar penggemar minuman manis. Sebab, Kevin dan Gibran menilai pasar ini potensial. Bubble tea misalnya, nilai pasar globalnya mencapai US$ 1,9 miliar pada tahun ini. Nilainya diproyeksi meningkat 7,4% per tahun hingga 2023.  

Tren tersebut dirasakan juga di Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari franchise bubble tea yang mencapai lebih dari 250 gerai. Jumlah pesanan delivery bubble tea pun menjadi yang terbesar dibandingkan produk makanan lainnya pada tahun lalu.

“Dengan permintaan pasar yang terus berkembang, ditambah dengan penerimaan produk kami yang sangat baik dan sudah dikenal masyarakat, kami yakin peluang Goola menjadi market leader cukup besar,” kata Gibran.

Ke depan, ia menargetkan bisa membawa produknya ke pasar internasional. “Kami ingin menjadikan Goola jawara di Indonesia, sehingga ketika wisatawan datang, mereka pasti mencoba produk kami. Lalu mereka menyebarkan cerita dan tren mengenai Goola ke teman-temannya,” kata dia.

Sepengetahuannya, strategi pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth) cukup efektif meningkatkan popularitas banyak merek minuman. Dengan begitu, produknya akan lebih cepat diterima oleh pasar di negara lain.

Selain ekspansi, menurut Gibran banyaknya orang yang menjiplak produk menjadi tantangan tersendiri. Namun, ia dan Kevin percaya bahwa dengan menjadi pelopor, ekspansi yang cepat, serta standardisasi dan konsistensi produk akan membuat perusahaannya menguasai pasar.

Lagipula, berdasarkan pengalaman keduanya, pemain utama tidak mati ketika muncul pesaing yang menawarkan produk serupa. Goola pun berkomitmen untuk tidak membuka franchise dan akan mengoperasikan sendiri setiap gerainya.