Harga minyak diyakini akan dengan mudah menembus ke bawah kisaran $50 per barel bila sentimen suram terus bertahan.

Gerak harga minyak dunia akhirnya kembali menjadi bulan-bulanan dalam beberapa  hari sesi perdagangan terakhir. Setelah tersulut serangkaian sentimen yang melonjakkan harga minyak secara sangat tajam, gerak harga akhirnya dengan cepat terbabat habis pada sesi perdagangan Rabu (14/8) kemarin.

Pantauan menunjukkan, gerak harga minyak (untuk jenis WTI) yang terhenti di kisaran $54,71 per barel setelah terhempas 3,3%. Laporan menyebutkan, investor yang dengan cepat berbalik mendiskon harga minyak secara sangat tajam menyusul ancaman terjadinya resesi dari jatuhnya surat utang pemerintah AS berjangka 10 tahun.

Untuk dicatat, jatuhnya imbal hasil surat utang tersebut yang terjadi di tengah rentetan perang dagang antara AS dengan China, di mana baik Presiden AS Donald Trump maupun pemerintah China berkukuh  dengan sikap kerasnya. Pukulan terhadap kinerja perekonomian global akhirnya semakin telak akibat memanasnya perang dagang tersebut.

Pada sisi lainnya, jatuhnya imbal hasil surat utang menjadi penanda penting yang sangat valid untuk memperkirakan terjadinya resesi pada perekonomian AS.   Komoditas minyak, yang merupakan komoditas sangat sensitif terhadap kinerja perekonomian akhirnya harus terpukul curam, dan kini pukulan lebih lanjuut sangat mungkin akan lebih parah.

Laporan sebelumnya menyebutkan, peluang besar bagi harga minyak dunia un tuk segera menembus ke bawah level psikologisnya di kisaran $50-an per barel.  Hal ini terutama bila China semakin marah dengan washington dalam rangkaian perang dagang, dengan cara mengguyur timbunan minyaknya asal Iran yang mencapai puluhan juta barel itu.

Kiamat resesi, yang tersulut oleh langkah keras Trump-China, nampaknya akan menjadi mimpi buruk bagi komoditas minyak dan bahkan dalam waktu yang tak terlalu lama lagi. Grafik harian terkini berikut menunjukkan situasi suram yang melingkupi harga minyak dunia: