Pembiayaan itu bertujuan untuk pembangunan PLTA dengan kapasitas sebesar 4 x 87,5 MW (megawatt). Kredit investasi tersebut memiliki tenor lebih dari 16 tahun atau 198 bulan.

Sebanyak lima perusahaan BUMN bersama-sama membiayai proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla melalui PT Kerinci Merangin Hidro.

Kelima perusahaan pelat merah itu adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., perusahaan pembiayaan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), dan anak usaha BRI, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk.

Kredit sindikasi yang dikucurkan oleh kelima perusahaan itu sebesar US$698,75 juta atau setara Rp9,8 triliun untuk membiayai proyek PLTA yang berlokasi di Kerinci, Jambi.

Direktur Korporasi BNI Putrama Wahju Setiawan membenarkan bahwa perseroan menyalurkan dana paling besar, yakni mencapai US$350 juta dari total pembiayaan yang dibutuhkan sebanyak US$698,75 juta. “BNI sebagai kreditur dan lead arranger,” kata Direktur Korporasi BNI Putrama Wahju Setiawan dilansir dari Bisnis.

Dia menguraikan, pembiayaan itu bertujuan untuk pembangunan PLTA dengan kapasitas sebesar 4 x 87,5 MW (megawatt). Kredit investasi tersebut memiliki tenor lebih dari 16 tahun atau 198 bulan.

BRI Agro mengkonfirmasi ikut menyalurkan kredit sindikasi kepada PT Kerinci Merangin Hidro. Namun, jumlahnya tergolong kecil. "Kalau kami kecil saja tidak sampai 1,5% dari total," kata Direktur Utama BRI Agro Agus Noorsanto. Lebih jauh, Agus enggan mengomentari terkait kredit sindikasi tersebut.

Mengutip data Bloomberg League Table Reports Global Syndicated Loan, kredit sindikasi tersebut disalurkan pada 24 Juli 2019. Pembiayaan dibagi dalam 5 bagian, dengan porsi terbesar US$610,41 juta.

Sementara itu, Bisnis mencatat BNI terbilang agresif ikut dalam pembiayaan sindikasi tahun ini. Mengutip data Bloomberg, bank pelat merah ini tercatat berada di posisi teratas sebagai mandated lead arranger sindikasi dengan pangsa pasar 13,09% dan volume kredit US$1,29 miliar per Juni 2019.

Realisasi tersebut membuat BNI melambung jauh dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, ketika posisinya hanya tercatat di posisi ke-13 dengan pangsa pasar 3,15% dan volume kredit US$273,51 juta.