Tren pelemahan Yuan yang masih solid menjadi ancaman serius bagi Rupiah untuk turut terseret dalam tren pelemahan yang sama.

Sesi perdagangan awal pekan kemarin, Senin (12/8) akhirnya ditutup dengan gerak melemah cukup signifikan  mata uang Rupiah. Nilai tukar Rupiah terhadap DolarAS kini berada di kisaran Rp14.245 setelah terhempas 0,42%. Gerak melemah Rupiah sesungguhnya telah diperkirakan sebelumnya, menyusul tekanan sentimen mata uang China Yuan, yang hingga kini terus dilemahkan oleh bankl sentral China, PBoC melalui pematokan titik tengah kursnya yang terus berada di atas kisaran 7,0.

Pada sesi perdagangan kemarin, PBoC kembali mematok titik  tengah kurs Yuan di kisaran 7,0211 per Dolar AS atau telah menginjak hari ke tiga untuk di atas level 7,0. Pematokan Yuan yang terus melemah oleh PBoC akan dengan sendirinya menjadi arahan bagi mata uang Asia lainnya untuk turut terseret dalam pelemahan termasuk Rupiah.

Namun  pada sesi perdagangan kemarin, pelemahan Yuan justru terlihat sangat terbatas, terlebih dibanding pelemahan yang mendera Rupiah. Untuk dicatat, Rupiah pada sesi perdagangan kemarin yang justru membukukan pelemahan tertajam dibanding seluruh mata uang Asia.  Tinjauan teknikal pada Yuan kini menjadi penjelas bagi melemahnya Rupiah, sebagaimana tergambar dalam grafik harian terkini berikut:

 

Suka atau tidak, grafik di atas memperlihatkan masa suram pelemahan Yuan yang masih berlanjut hingga beberapa hari dan bahkan pekan ke depan. Solidnya tren jual yang terjadi pada Yuan terlihat dari masih renggangnya jarak yang terentang antara indikator titik P-Sar dengan garis MA-Signal. Kerenggangan juga masih terjadi cukup lebar antara garis MA-Signal denga batas teknikal psikologisnya.

Serangkaian situasi teknikal tersebut mencerminkan pola teknikal yang solid bagi Yuan untuk terus melemah. Gerak runtuh Yuan dengan demikian masih akan berlanjut, dan sangat sulit bagi Rupiah untuk mengelak dari seretan suram pelemahan Yuan ini.  Rupiah dengan demikian kini harus mendapatkan sokongan dari gemilangnya kinerja perekonomian domestik untuk setidaknya mampu meredam imbas muram rontoknya Yuan oleh PBoC.