Pantauan terkini menunjukkan gerak melemah Yuan yang masih berlanjut dan kian konsisten untuk terus berada di atas level7,0.

Pola gerak nilai tukar mata uang China, Yuan, terpantau kembali melemah di sesi perdagangan awal pekan pagi ini di Asia, Senin (12/8). Posisi terkini nilai tukar Yuan terhadap DolarAS tercatat berada di kisaran 7,0613 atau melemah kembali sebesar 0,24%. Pelemahan Yuan yang berlanjut kini semakin mengukuhkan kecurigaan bahwa China dengan sengaja melemahkan Yuan guna meminimalisir imbas penaikkan tarif masuk yang diberlakukan Presiden AS Dinald Trump.

Sebagaimana dimuat dalam ulasan sebelumnya, serangkaian langkah yang diambil Pemerintahan Presiden China Xi Jinping dalam beberapa bulan terakhir menunjukan betapa, Beijing masih memiliki sejumlah ‘amunisi’ yang selama ini (sekalipun telah diduga) namun cukup serius.  Hal ini terutama bila sejumlah ‘amunisi’ tersebut digunakan secara bersamaan.

Amunisi pertama yang telah mulai terlihat tentu saja mata uang Yuan, di mana pelemahan Yuan terkini masih berlanjut dan sekedar waktu untuk membuat Washington mengelus dada.  Sementara amunisi berikutnya datang dari  pembekuan pembelian produk pertanian AS dalam jumlah sangat besar. Langkah Beijing ini tentu akan memastikan memukul Trump yang terpilih terutama dari basis negara bagian yang berbasis pertanian.

Dua amunisi tersebut masih akan ditambah lagi dengan amunisi yang lumayan mengejutkan, yaitu timbunan minyak Iran. Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, China yang telah menampung 14 juta barel minyak Iran dan masih terdapat 20 juta barel minyak Iran lainnya yang sedang menuju China. Washington yang mengenakan sanksi atas minyak Iran, akan dengan sangat mudah untuk ditentang oleh China. Dan bila China mengguyur minyak Iran tersebut dalam jumlah yang sangat besar, harga minyak dunia diyakini akan rontok tak tertahankan.

Sejumlah analisis bahkan menyebut, bila China mengguyur minyak Iran, harga minyak dunia bisa jatuh hingga kisaran $30 per barel.  Kisaran harga tersebut sangat cukup untuk memukul sektor perminyakan AS yang kini telah menjelma sebagai produsen minyak terbesar dunia, di mana harga produksi minyak di AS dinilai cukup mahal.

Pekan ini, Trump nampaknya harus mulai berpikir serius dengan siasat China yang tak bisa dipandang remeh ini, karena bisa mengancam ambisinya untuk memperpanjang kekuasaannya di Gedung Putih.