Kenaikan moderat indeks bursa saham Wall Street kembali menjadi sinyal keraguan bagi pasar Asia.

Sesi perdagangan saham di bursa Wall Street pada Kamis (18/4) diakhiri dengan gerak naik indkes dalam rentang moderat. Gerak naik indeks terutama mendapatkan sokongan dari rilis data penjualan ritel yang secara mengejutkan membukukan kenaikan mengesankan. Sentimen lain juga tuerun mengangkat indeks Wall Street kali ini datang dari rilis kinerja keuangan sejumlah emiten yang melebihi ekspektasi pasar.

Tekanan beli akhirnya semakin terdorong dan menghantarkan indeks Wall Styreet kembali menginjak zona positif. Indeks DJIA menutup sesi dengan menguat 0,42% untuk berakhir di kisaran 26.559,54, sementara indeks S&P 500 terangkat 0,16% untuk berakhir di kisaran 2.905,03, serta indeks Nasdaq  yang beranjak naik sangat tipis 0,02% untuk terhenti di posisi 7.998,06. Gerak naik yang cenderung berada di rentang terbatas  kembali membuat sinyal yang meragukan bagi sesi perdagangan di Asia dalam menutup akhir pekan ini.

Sentimen yang masih positif  namun hanya menghasilkan gerak indeks yang moderat kini mulai memantuik kecurigfaan bahwa sikap optimis investor mulai kehilangan daya. Untuk dicatat, pada sesi perdagangan sehari sebelumnya, indeks Wall Street terjebak di zona kemerosotan yang juga terbatas. Namun kegagalan untuk membukukan lonjakan  usai penurunan di sesi hari sebelumnya di tengah kepungan sentimen positif membuat kecurigaan bahwa pelaku pasar telah kelelahan untuk mendaki lebih tinggi.

Sementara dari pasar valuta disebutkan, gerak indeks Dolar AS yang kembali menguat dan semakin mantap di ats level psikologisnya di kisaran 97-an. Pantauan terkini menunjukkan, posisi indeks Dolar AS yang telah berada di 97,41.  Kukuhnya indeks Dolar AS kali ini sekaligus mencerminkan dengan akurat betapa tren pelemahan yang sedang mendera mata uang utama dunia lainnya telah berlangsung konsisten.

Kabar ini tentu menjadi peringatan serius bagi pasar valuta Asia dalam menjalani sesi perdagangan akhir pekan ini, Jumat (19/4). Untuk dicatat, pada sesi perdagangan kemarin hampir seluruh  mata uang Asia yang terjebak di zona pelemahan, dan pada sesi perdagangan akhir pekan ini, ancaman untuk melemah lebih lanjut masih tersedia.