Baik Trump maupun Xi sepakat untuk tidak mengenakan tarif baru pada barang masing-masing negara
Trump-Xi Jinping Bersalaman, Perang Dagang AS-China Berakhir?

Baik Trump maupun Xi sepakat untuk tidak mengenakan tarif baru pada barang masing-masing negara

Nikolaus Siswa | Senin, 01 Juli 2019 - 16:59 WIB

Ajang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara anggota G-20 menjadi saksi dari kesepakatan bersejarah dua negara yang kini tengah berseteru di tengah perang dagang, Amerika Serikat dan China. Dua pemimpin, Donald Trump dan Xi Jinping, akhirnya mau bersalaman pada Sabtu lalu.

Baik Trump maupun Xi sepakat untuk tidak mengenakan tarif baru pada barang masing-masing negara dan pelonggaran pembatasan perusahaan teknologi Huawei. China juga setuju untuk melakukan pembelian produk pertanian AS yang tidak ditentukan dan kembali ke meja perundingan. Namun tidak ada tenggat waktu yang ditetapkan untuk kesepakatan tersebut.

Pertemuan Trump dan Jinping menjadi salah satu agenda yang ditunggu para pelaku ekonomi. Mata semua eksekutor kebijakan mengarah ke negeri Sakura Jepang, untuk mengetahui hasil pertemuan antara kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.

Pertemuan tersebut dimulai dengan nada positif dari Trump dengan menyebut, "Akan bersejarah jika kita bisa melakukan kesepakatan perdagangan yang adil ... Kita benar-benar terbuka untuk itu," jelas Trump

Sementara itu, Jinping mengatakan bahwa 'dialog' antara AS dan China jauh lebih baik dibandingkan harus melakukan konfrontasi, seperti yang sudah dilakukan kedua negara dengan balas membalas tarif barang dari negara masing-masing.

Sebelum menggelar pertemuan dengan Jinping, Trump sempat melontarkan cuitan melalui akun Twitternya untuk mengundang pimpinan Korea Utara Kim Jong Un untuk berjabat tangan di zona demiliterisasi di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan.

Dalam pertemuan dengan Jinping, Trump mengharapkan pertemuan yang produktif. Namun, Trump pun mengingatkan bahwa Washington tak akan segan-segan untuk kembali memberlakukan tarif baru terhadap seluruh produk impor China.

Hal ini akan dilakukan apabila tidak ada kesepakatan atas perundingan AS dan China di sela-sela KTT G-20.

Trump sebelumnya telah mengkonfirmasi bahwa akan membahas masalah yang dialami perusahaan telekomuniasi China, Huawei yang telah dilarang karena masalah keamanan.

Adapun Beijing dilaporkan menginginkan agar pembatasan pengoperasian Huawei di negeri Tirai Bambu dapat dicabut. Selain itu, China juga masih mengharapkan terjadi gencatan senjata perihal perang dagang.


Apa Jadinya Jika Trump-Xi Batal Deal?
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan bagaimana risiko yang terjadi apabila perang dagang terus berlanjut. "Christine Lagarde [Direktur Pelaksana IMF] mengatakan perang dagang akan membuat pertumbuhan ekonomi dunia menurun 0,5%. Dengan demikian, pertumbuhan 3,5% tahun depan yang bisa lebih baik jadi 3,6%, kalau perang dagang terus berlanjut, maka pertumbuhan hanya 3,1%," kata Sri Mulyani.

"0,5% dari GDP [produk domestik bruto] itu lebih besar dari satu ekonomi seperti Afrika Selatan. Jadi ini risiko yang sangat besar," jelasnya melalui unggahan video yang dirilis Biro Sekretariat Kepresidenan, seperti dikutip Sabtu (29/6/2019).

Dalam pertemuan antara negara-negara anggota G-20, menurut Sri Mulyani, masih ada jarak yang cukup signifikan dari para pimpinan negara. Apalagi, Presiden Trump menginginkan adanya rantai perdagangan global yang fair.

"Digunakan kalimat predatory nation yang bisa dimanfaatkan perekonomian AS. Ini menggambarkan konsep presiden Trump masih ada yang dianggap melakukan praktik yang merugikan AS. Karena itu Presiden Trump ingin supaya semua bisa menghilangkan distorsi tersebut untuk menciptakan kesejahteraan bersama," jelasnya.

Sebagai informasi, pertemuan antara Trump dan Xi Jinping akan berlangsung tinggal hitungan menit. Kabar terakhir menyebutkan Jinping siap untuk mengajukan persyaratan perjanjian yang mengedepankan keseimbangan.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah menyatakan, jika pembicaraan antara Trump-Xi mengalami jalan buntu, maka akan memberikan dampak tidak baik bagi ekonomi global.

"Bila pembicaraan di Jepang terkait perang dagang di sela KTT G20 ini juga mungkin tidak tercapai kesepakatan ini akan menambah waktu yang panjang sehingga dampaknya ke global ekonomi dampaknya tidak baik," kata Nanang.

Lebih lanjut, jika ekonomi global semakin melemah maka AS sendiri juga akan terpukul lantaran AS tidak bisa sendiri menjalankan perekonomian. Saat ekonomi AS melemah maka Bank Sentral The Federal Reserve (The Fed) akan semakin dovish dan diproyeksi akan menurunkan suku bunga lebih besar.

"Kalau ekonomi global semakin melemah dan tidak mungkin AS akan berjalan sendirian ekonomi. (AS) juga akan terpukul akan membuat The Fed semakin dovish dan diekspektasikan akan menurunkan suku bunga lebih besar," jabarnya.

Terkait suku bunga, kata Nanang, Gubernur The Fed Jerome Powell sempat berkomentar bahwa penurunan suku bunga tidak harus didasarkan pada poin data tertentu. Dengan begitu, kemungkinan The Fed menurunkan suku bunga masih sangat besar. Hanya besarnya yang belum diketahui. 

Peristiwa bersejarah itu terjadi di sela perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara maju G-20 yang digelar di Osaka, Jepang.
Donald Trump-Xi Jinping 'Berdamai': Begini Kronologi Perang Dagang AS-China

Peristiwa bersejarah itu terjadi di sela perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara maju G-20 yang digelar di Osaka, Jepang.

Alexander Setiyadi | Senin, 01 Juli 2019 - 13:47 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya bersalaman dengan Presiden China Xi Jinping. Keduanya pun sepakat membuka lembaran baru dalam perang dagang antara kedua negara dalam beberapa tahun terakhir ini.

Peristiwa bersejarah itu terjadi di sela perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara maju G-20 yang digelar di Osaka, Jepang.

Salah satu kesepakatan sementara dari pertemuan itu adalah ketika Trump mencabut tarif impor dan larangan terhadap Huawei.

Lalu, bagaimana awal mula perang dagang Amerika Serikat-China dimulai? Berikut kronologinya dilansir dari CNBC:

19 Mei, 2014: Trump Memulainya
Sebelum melaksanakan kampanye kepresidenannya pada 2015, Trump berulang kali menyerukan perlawanan terhadap praktik perdagangan China. Dalam tweetnya Mei 2014, dia berkata, "Ingat, China bukan teman Amerika Serikat!"

1 Mei, 2016: Jadi Bahan Kampanye
Sebagai kandidat presiden, Trump membuat penekanan terhadap dugaan pelanggaran perdagangan China sebagai prioritas kampanye. "Kami tidak dapat terus membiarkan China memperkosa negara kami, dan itulah yang mereka lakukan," katanya pada rapat umum di Indiana Mei 2016.

11 Mei, 2017: Langkah Awal
AS dan China mencapai kesepakatan perdagangan yang mencakup produk-produk seperti daging sapi dan unggas, tetapi menyisakan perselisihan tentang baja, aluminium, dan masalah lain yang belum terselesaikan.

22 Januari, 2018: Perang Tarif Dimulai
Pemerintahan Trump mengumumkan tarif sel surya impor dan mesin cuci tertentu. China mengkritik langkah itu.

8 Maret, 2018: Mengenakan Tarif Baja
Trump mengesahkan tarif masing-masing sebesar 25% dan 10% untuk impor baja dan aluminium. Dalam menyetujui tugasnya, dia mengatakan "industri baja dan aluminium yang kuat sangat penting bagi keamanan nasional AS"

1 April, 2018: China Membalas
China membalas terhadap pajak baja dan aluminium dengan tarif barang-barang AS senilai sekitar US $ 3 miliar.

3 Mei, 2018: Pembicaraan Gagal Mengakhiri Perang Dagang
Delegasi AS dan China mengadakan putaran pembicaraan perdagangan di Beijing, tapi tidak menghasilkan resolusi pada perselisihan. Negosiasi di bulan-bulan berikutnya juga tidak menghasilkan kesepakatan.

15 Juni, 2018: Tarif Baru Menambah Ketegangan
Pemerintahan Trump mengatakan akan menambah tarif 25% pada US $ 50 miliar barang-barang China. Trump mengutip "Pencurian properti intelektual dan teknologi China dan praktik perdagangan tidak adil lainnya." Beijing dengan cepat membalas, mengumumkan tarif US $ 50 miliar pada produk AS.

17 September, 2018: Trump Makin Responsif
Trump mengumumkan tarif 10% untuk barang-barang China senilai US $ 200 miliar, dengan rencana menaikkan tarif menjadi 25% pada awal 2019. Ia mengancam tarif tambahan sebesar US $ 267 miliar pada produk-produk China jika Beijing membalas.

18 September, 2018: China Membalas
China mengatakan akan menambah tarif US $ 60 miliar pada produk AS sebagai tanggapan atas bea masuk AS terbaru.

1 November, 2018: Trump dan Xi Komunikasi Lagi
Trump dan Xi memulai kembali pembicaraan antara kedua belah pihak via telepon. Presiden AS mengatakan para pemimpin memberikan "penekanan besar pada perdagangan."

26 November, 2018: Trump Berlakukan Tarif Lebih Luas
Trump mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa ia kemungkinan tidak akan menunda kenaikan tarif pada barang-barang China senilai US $ 200 miliar melewati periode 1 Januari. Ia juga menyarankan ia akan mengenakan tarif 10% pada iPhone Apple dan laptop yang diimpor dari China.

1 Desember, 2018: Trump dan Xi Lakukan Gencatan Senjata
Trump dan Xi makan malam di KTT G-20 di Argentina. AS setuju untuk menunda rencana kenaikan tarif sebesar US $ 200 miliar pada barang-barang China menjadi 25% dari 10%. Mereka berharap untuk mencapai kesepakatan perdagangan dalam waktu 90 hari.

29 Desember, 2018: Trump Menyebutkan 'Kemajuan Besar'
Setelah komunikasi dengan Xi, Trump mengatakan kesepakatan perdagangan "menuju ke arah sangat baik."

7 Januari, 2019: Pembicaraan Perdagangan Dilanjutkan
Delegasi Amerika berangkat ke Beijing selama 3 hari untuk melanjutkan pembicaraan perdagangan.

24 Februari, 2019: Tarif Terhambat Kembali
Trump kembali menunda rencananya untuk meningkatkan tarif barang-barang China senilai US $ 200 miliar menjadi 25% dari 10%, dengan menyebut "kemajuan substansial" dalam putaran terakhir pembicaraan perdagangan dengan China.

10 April, 2019: 'Membuat Kemajuan'
Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan AS dan China membuat kemajuan dalam kesepakatan perdagangan, termasuk menyelesaikan masalah penting.

5 Mei, 2019: Negosiasi Berantakan
Trump mengatakan ia akan meningkatkan tarif pada barang-barang China.

10 Mei, 2019: Tarif Melonjak
Tarif pada barang-barang China sebesar US $ 200 miliar meningkat menjadi 25% dari 10%. China kemudian menaikkan bea atas barang-barang AS sebesar US $ 60 miliar hingga setinggi 25% pada 1 Juni 2019.

29 Juni, 2019
Trump dan Xi setuju untuk melanjutkan negosiasi perdagangan selama pertemuan yang sangat dinanti di sela-sela KTT G-20 di Jepang. "Kami berpegang pada tarif, dan mereka akan membeli produk pertanian," kata Trump.

 

Pertemuan Trump-Xi kali ini bisa disebut anti klimaks, mengingat masih terlalu jauh dari harapan untuk mencapai kesepakatan dagang yang diinginkan.
Kesepakatan Trump-Xi, Huawei Dibarter Babi

Pertemuan Trump-Xi kali ini bisa disebut anti klimaks, mengingat masih terlalu jauh dari harapan untuk mencapai kesepakatan dagang yang diinginkan.

Kalyana Sastra | Minggu, 30 Juni 2019 - 08:18 WIB

Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping usai gelaran KTT G-20 akhirnya terlihat mencapai anti klimaksnya. Sikap keras Washington dan Trump di satu sisi dan sikap kukuh Beijing di sisi lainnya yang sebelumnya terlihat alot, justru  terkesan mudah untuk mencapai kompromi. Namun respon pasar nampaknya masih akan ragu dalam menyambut kesepakatan Trump-Xi kali ini.

Laporan lebih jauh menyebutkan, dalam pertemuan tersebut, Trump dan Xi yang sepakat untuk mempertahankan situasi terkini terkait dengan pengenaan tarif dan kembali untuk melakukan putaran perundingan. Meski demikian, tidak tersedia jadwal atau pun target waktu yang akan disepakati berapa lama perundingan akan berlangsung untuk mencapai kesepakatan akhir. Sementara di sisi lainnya, pertemuan Trump-Xi juga berhasil mencapai kesepakatan menyangkut Huawei.

Sebagai catatan, Huawei yang merupakan perusahaan raksasa telekomunikasi asal China yang sebelumnya telah menjalani sanksi larangan oleh Trump  dalam menjalin kerjasama bisnis dengan seluruh entitas bisnis asal AS.  Akibatnya, Huawei hampir dipastikan akan mengalami keruntuhan lini bisnisnya di luar China.  Trump berdalih, pelarangan Huawei sebagai upaya menghindari risiko keamanan nasional, di mana Huawei dinilai sebagai perusahaan yang terlalu dekat dengan rezim pemerintahan komunis China dan sangat rentan dijadikan agen pengumpul data intelejen yang membahayakan keamanan  nasional AS.

Namun pertemuan dengan Xi, nampaknya telah membuat Trump berubah strategi dengan kini membolehkan kembali Huawei untuk menjalin kerjasama bisnis dengan perusahaan AS.  Laporan lebih jauh menyebutkan, pihak Beijing yang juga menyepakati untuk membeli produk pertanian asal AS sebagai imbalan atas kelonggaran  yang diberikan pada Huawei. Namun hingga kini  masih belum tersedia rincian produk pertanian  yang akan dibeli oleh China dan dalam jumlah berapa. Laporan terkait sebelumnya yang hanya menyatakan bahwa terjadi penumpukan stok produk  pertanian di AS yang kini mulai sangat mengganggu, seperti produk kedelai dan juga babi.

Bila serangkaian kabar tersebut saling berkaitan, maka tentu kesepakatan Trump-Xi kali ini  bisa disebut sebagai langkah barter Huawei dengan Babi, di mana China kini sedang sangat kekurangan pasok daging babi akibat menyebarnya wabah flu babi yang mengharuskan pemusnahan babi hingga 30%.

Lepas dari itu semua, pertemuan Trump-Xi kali ini bisa disebut anti klimaks, mengingat masih terlalu jauh dari harapan untuk mencapai kesepakatan dagang yang diinginkan. Namun untuk sementara telah mampu menghindarkan diri dari eskalasi perang  dagang lebih lanjut.  Investir tentu akan cender4ung memberikan saambutan positif di sesi perdagangan awal pekan ini, terutama menyangkut pada saham-saham teknologi. Namun keraguan secara keseluruhan masih tetap membayang.

Trump menegaskan, kembali mengizinkan bagi Huawei untuk menjalin bisnis dengan perusahaan asal Amerika Serikat
Trump-Xi 'Gencatan Senjata', Huawei Bisa Berbisnis di AS Lagi

Trump menegaskan, kembali mengizinkan bagi Huawei untuk menjalin bisnis dengan perusahaan asal Amerika Serikat

Erwan Wahyudi | Sabtu, 29 Juni 2019 - 20:47 WIB

Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di arena KTT G20 yang berlangsung di Osaka, Jepang, membawa berkah bagi Huawei.

Trump menegaskan, kembali mengizinkan bagi Huawei untuk menjalin bisnis dengan perusahaan asal Amerika Serikat. Perusahaan teknologi nomor satu China itu kini bisa kembali membeli perangkat-perangkat teknologi atau software dari perusahaan AS.

"Kami akan berunding dengan China terkait kesepakatan apa yang bisa kami buat. Saya tidak terburu-buru," ujar Trump, dalam konferensi pers di G20, Sabtu (29/6), dilansir The Wall Street Journal.

"Kami akan tetap menjual produk-produk itu (ke Huawei). Perusahaan-perusahaan (AS) tidak senang karena tidak bisa menjual produknya (karena Huawei kena sanksi)," jelas Trump, seperti dikutip dari CNN.

Sementara itu, Trump mengaku tidak sempat berbicara tentang Chief Financial Officer, Meng Wanzhou, yang menjadi tahanan rumah di Kanada dan bersiap menghadapi ekstradisi ke AS. Ia mengatakan hanya berbicara seputar Huawei tanpa menyinggung situasi Wanzhou saat ini.

Pada akhir Mei lalu, pemerintah AS memasukkan nama Huawei ke dalam daftar hitam perdagangan. Hal ini membuat Huawei tidak bisa menjalin bisnis dengan perusahaan AS, termasuk membeli komponen-komponen yang dibutuhkan untuk perangkat mereka.

Buntut dari hal ini, beberapa perusahaan teknologi AS mengumumkan bakal memutus kerja sama mereka dengan Huawei. Misalnya Google, yang bakal mencabut lisensi Android pada smartphone Huawei saat aturan baru AS tersebut telah berjalan secara efektif.

Ini menjadi pukulan telak bagi Huawei mengingat Android menjadi 'nyawa' dalam smartphone-smartphone yang mereka pasarkan. Selain terancam tak dapat pasokan sistem operasi Android, Huawei juga terancam tidak mendapatkan pasokan chipset dari Intel yang kabarnya akan mengikuti langkah pemerintah AS.

Ada juga perusahaan chip asal Inggris, Arm, yang ikut menyudahi kerja sama dengan Huawei. Arm disebut telah memerintahkan seluruh karyawan untuk menyetop segala macam urusan dan transaksi dengan Huawei.

Namun, dengan adanya kesepakatan baru antara Trump dan Jinping, maka Huawei setidaknya dapat bernapas lega untuk saat ini. Huawei dapat menggunakan lisensi Android lagi jika keputusan Trump ini terus bertahan Dan tentu ini juga menjadi kabar baik bagi para penggemar Huawei di dunia. 

Trump dan Xi sepakat memulai kembali negosiasi dagang kedua negara yang bermasalah dan berimbas pada stabilitas global.
Trump-Xi Akhirnya Bertemu, Ini Kesepakatan AS-China Soal Perang Dagang

Trump dan Xi sepakat memulai kembali negosiasi dagang kedua negara yang bermasalah dan berimbas pada stabilitas global.

Erwan Wahyudi | Sabtu, 29 Juni 2019 - 16:47 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan ini terjadi di tengah ketegangan perang dagang antara kedua negara.

Dilansir dari kantor berita Xinhua, dalam pertemuan itu, Trump dan Xi sepakat memulai kembali negosiasi dagang kedua negara yang bermasalah dan berimbas pada stabilitas global.

"Kedua negara akan memulai kembali pembicaraan dengan berlandaskan kesetaraan dan rasa saling menghormati," tulis artikel di Xinhua, dilansir dari laman AFP.

Kesepakatan itu tercapai dalam pertemuan antara Trump dan Xi di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Osaka, Jepang.

Saat ditanya awak media mengenai pertemuannya dengan Xi, Trump menjawab semuanya berlangsung "luar biasa."

Ia juga menyebut negosiasi dagang AS dan China sudah "kembali ke jalur yang benar."

"Pertemuan dengan Presiden Xi dari China berlangsung sangat baik, bahkan bisa saya bilang luar biasa," kata Trump. "Kami sudah kembali ke jalur yang benar."

Sebelum bertemu Xi, Trump mengaku siap membuat kesepakatan "historis" dengan China.

Pertemuan dua tokoh besar ini dinantikan seluruh dunia, karena perang dagang kedua negara memiliki imbas tersendiri terhadap perekonomian global.

Sejumlah pihak optimistis karena atmosfer menjelang pertemuan cenderung positif usai Trump mengindikasikan bahwa AS "terbuka" terhadap perjanjian dagang yang adil.

Sementara Xi mengatakan dialog adalah opsi yang lebih baik ketimbang konfrontasi, setelah kedua negara menghapuskan penerapan tarif terhadap produk masing-masing.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo telah menyampaikan harapannya agar pertemuan Trump dan Xi menghasilkan kesepakatan adil.

"Presiden Jokowi berharap mudah-mudahan akan ada terobosan yang signifikan," ujar Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi dalam keterangannya di Hotel New Otani, Osaka.

Persoalan isu perang dagang antara AS dan China menjadi salah satu isu yang dibicarakan antara Presiden Joko Widodo dengan jajaran kabinetnya dalam rapat terbatas yang digelar sebelum pelaksanaan KTT G-20 di Osaka.