Bila pemilih muda diminta memilih dua nama antara Ganjar dan Prabowo, suara terbanyak didapat oleh Ganjar.
Survei CSIS Jadi Pukulan Telak Prabowo, Kalah Duel Head to Head dengan Anies dan Ganjar di Pilpres 2024

Bila pemilih muda diminta memilih dua nama antara Ganjar dan Prabowo, suara terbanyak didapat oleh Ganjar.

Triaji | Selasa, 27 September 2022 - 09:21 WIB

Survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) merekam data jika Menteri Pertahanan Prabowo Subianto kalah dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bila melakukan head to head di Pilpres 2024.

Dalam survei ini dilakukan pada 8-13 Agustus 2022 terhadap responden yang berusia 17-39 tahun yang diasumsikan sebagai pemilih muda. Penarikan sampel menggunakan multistage random sampling terhadap 1.200 responden di 34 provinsi. Margin of error sebanyak +/-2,84 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes mengatakan, bila pemilih muda diminta memilih dua nama antara Ganjar dan Prabowo, suara terbanyak didapat oleh Ganjar.

"Kalau head to head-nya nanti Pak Ganjar dan Pak Prabowo, Pak Ganjar 47,2 persen, Pak Prabowonya 45 persen. Jadi masih pada rentang margin of error. Jadi bedanya sekitar 2,2, sementara margin of error kita sekitar 2,8," katanya dalam kanal Youtube CSIS, dikutip Selasa, 26 September 2022.

Kemudian jika Prabowo melakukan head to head dengan Anies, maka mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu unggul dengan hasil 47,8 persen. Sementara Ketua Umum Gerindra hanya mengantongi 43,9 persen.

Arya menjelaskan, pihaknya menempatkan dalam sistem head to head karena tiga nama tersebut kemungkinan masuk dua putaran.

"Karena tidak ada calon mendapatkan di atas 50 persen, dan data ini populasinya milenial besar, kemungkinan tidak akan bergerak jauh dari populasi umum,” tutupnya. 

Anies, Ganjar dan Prabowo diketahui merupakan tiga nama merajai mayoritas hasil survei tentang elektabilitas calon presiden (capres).
Survei CSIS: Anies Kalahkan Ganjar di Semua Duel Simulasi, Prabowo Gak Ada Harapan

Anies, Ganjar dan Prabowo diketahui merupakan tiga nama merajai mayoritas hasil survei tentang elektabilitas calon presiden (capres).

Triaji | Senin, 26 September 2022 - 21:31 WIB

Hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menempatkan Anies Baswedan sementara unggul dalam simulasi duel elektabilitas melawan Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.

Selain Anies, Ganjar dan Prabowo diketahui merupakan tiga nama merajai mayoritas hasil survei tentang elektabilitas calon presiden (capres).

Dalam rilis survei terakhir CSIS itu, meski Anies kalah dalam beberapa simulasi lain, Gubernur DKI Jakarta itu tercatat unggul dalam semua simulasi duel.

Tercatat, dalam simulasi duel melawan Ganjar, Anies unggul dengan elektabilitas mencapai 47,8 persen. Ia menang dengan selisih empat persen dari Ganjar yang mengantongi 43,9 persen.

Sementara dengan Prabowo, Anies juga unggul dengan elektabilitas mencapai 48,6 persen. Selisih sekitar enam persen dengan Prabowo yang mengantongi 42,8 persen.

Selain kalah dengan Anies, Ketua Umum Partai Gerindra itu juga kalah dalam simulasi duel melawan Ganjar yang mengantongi 47, persen. Prabowo kalah dengan selisih sekitar dua persen dengan hanya mengantongi 45 persen.

Anies Keok di 3 Simulasi

Menurut Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes, keunggulan Anies di simulasi duel capres diduga karena peralihan pilihan responden atau pemilih.

Menurut Arya, Anies memperoleh suara dari para responden yang sebelumnya memilih nama-nama lain di peringkat empat ke bawah. Di situ ada nama Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) hingga Khofifah Indar Parawansa.

Hal itu terbukti dalam sejumlah simulasi lain, Anies selalu berada di bawah Ganjar dan Prabowo. Dalam simulasi 14 nama misalnya, Anies berada di bawah Ganjar dan Prabowo dengan hanya mengantongi 18,1 persen.

Dalam simulasi tujuh nama, Anies juga di peringkat ketiga di bawah Ganjar Prabowo dengan 19,9 persen. Lalu di simulasi tiga nama, Anies juga di peringkat ketiga dengan 25,7 persen.

Ganjar Unggul di 3 Simulasi

Sebaliknya, Ganjar justru unggul dalam tiga simulasi tersebut. Ia unggul dari Anies dan Prabowo di simulasi 14 nama dengan mengantongi 25,7 persen.

Di simulasi tujuh nama, ia juga unggul dengan elektabilitas mencapai 26,9 persen dari Prabowo di peringkat kedua dengan 20,1 persen.

Dalam simulasi tiga nama, Ganjar juga unggul dengan elektabilitas mencapai 33,3 persen, di atas Prabowo dengan 27,5 persen.

Survei CSIS dilakukan pada 8-13 Agustus 2022 terhadap responden berusia 17-39 tahun yang diasumsikan sebagai pemilih muda. Penarikan sampel menggunakan multistage random sampling terhadap 1.200 responden di 34 provinsi. Margin of error sebanyak +/-2,84 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Penuh kehati-hatian (deleberatif) dalam mengusung capres-cawapres menjadi kunci masa depan Indonesia karena partai lah satu-satunya sebagai instrumen penting sumber lahirnya “leadership” nasional
Punya Bobot Elektoral Papan Atas, Pada Akhirnya Anies 'Serahkan' Nasibnya ke Tangan Parpol

Penuh kehati-hatian (deleberatif) dalam mengusung capres-cawapres menjadi kunci masa depan Indonesia karena partai lah satu-satunya sebagai instrumen penting sumber lahirnya “leadership” nasional

Viozzy | Sabtu, 24 September 2022 - 20:50 WIB

Dosen politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Pangi Syarwi Chaniago menilai, sosok Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan merupakan salah satu figur politik yang seharusnya mendapat respons positif dari Partai Politik (parpol) yang bisa mengusung Calon Presiden (capres).

"Apa yang disampaikan Anies Baswedan bahwa beliau siap maju, tapi itu semua kembali ke pangkal yakni partai politik," ujar Pangi seperti dikutip dari rmol.id. Sabtu (24/9).

CEO & Founder Voxpol Center Research and Consulting ini berpendapat, Anies merupakan salah satu figur potensial yang memiliki basis dukungan.

"Statment Anies Baswedan membuktikan bahwa beliau pada akhirnya 'menyerahkan' nasibnya ke tangan partai politik meskipun punya bobot elektoral papan atas," sambungnya.

Namun, Pangi melihat parpol-parpol yang memiliki kecukupan untuk mengusung capres-cawapres masih penuh pertimbangan untuk memutuskan capres ataupun cawapres yang akan maju di Pilpres 2024, padahal di depan mata sudah ada Anies yang berpotensi menang.

"Penuh kehati-hatian (deleberatif) dalam mengusung capres-cawapres menjadi kunci masa depan Indonesia karena partai lah satu-satunya sebagai instrumen penting sumber lahirnya “leadership” nasional, Oleh sebab itu, partai harus sangat cermat, mengusung kandidasi capres/cawapres ke depannya," tandasnya.

Sebelumnya, Anies menyatakan dirinya siap menjadi calon Presiden (Capres) 2024. Anies pun meminta dirinya dinilai dari rekam jejak selama menjabat Gubernur DKI.

"Dulu, orang berasumsi tentang saya dan apa yang saya perjuangkan dan apa yang akan saya lakukan di kantor. Sekarang, saya telah menjabat selama 5 tahun, jadi nilailah saya berdasarkan kenyataan dan rekam jejak," kata Anies saat diwawancara oleh Reuters di Singapura.

Anies mengatakan dirinya siap menjadi capres jika ada partai yang mengusungnya. Anies juga menyinggung soal elektabilitas dari hasil survei yang disebutnya tidak diminta.

"Saya siap mencalonkan diri sebagai presiden jika sebuah partai mencalonkan saya," ujar Anies.

JK mengatakan, elektabilitas Anies masih dapat meningkat seiring berjalannya waktu. Apalagi, Anies kerap dikritik dan direndahkan di media sosial. Hal inilah, menurut JK, yang dapat membuat elektabilitas Anies justru meningkat
Anies Berpeluang Besar Menangi Pilpres 2024, JK: Dia Makin Direndahkan, Makin Didukung Masyarakat!

JK mengatakan, elektabilitas Anies masih dapat meningkat seiring berjalannya waktu. Apalagi, Anies kerap dikritik dan direndahkan di media sosial. Hal inilah, menurut JK, yang dapat membuat elektabilitas Anies justru meningkat

Rayu | Jumat, 23 September 2022 - 16:05 WIB

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tanpa malu-malu memuji sosok Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan. JK menyebut, Anies berpeluang besar menang pada Pilpres 2024. Alasannya, Anies kian mendulang dukungan dari masyarakat tersebab dirinya yang selalu direndahkan.

JK merujuk pada sejumlah lembaga survei di Indonesia. Elektabilitas Anies, kata dia, selalu berada dalam urutan tiga besar meski masih di bawah Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.

"Kalau saya baca survei dari berbagai lembaga itu memang Anies selalu berada di tiga besar, tapi Pak Prabowo dan Ganjar lebih tinggi (elektabilitasnya)," kata JK, dikutip dari YouTube Karni Ilyas Club, Jumat (23/09/2022).

Berdasarkan survei terbaru Charta Politika, elektabilitas Anies berada di urutan ketiga--di bawah Ganjar dan Prabowo. Elektabilitas Ganjar berada di angka 37,5 persen, sementara Prabowo mendapat 30,5 persen dan terakhir Anies 25,2 persen.

Meski begitu, survei tersebut dapat berubah mengingat Pilpres 2024 masih menyisakan dua tahun lagi.

JK mengatakan, elektabilitas Anies masih dapat meningkat seiring berjalannya waktu. Apalagi, Anies kerap dikritik dan direndahkan di media sosial. Hal inilah, menurut JK, yang dapat membuat elektabilitas Anies justru meningkat.

"Ini kelihatannya, seperti suatu hal yang sering terjadi, makin dikritik orang, makin merasa direndahkan, ternyata masyarakat itu mendukung atau lebih populer. Rakyat tuh mendukung orang yang merasa ditekan," ungkap Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) tersebut.

Memang Anies Baswedan kerap menjadi bahan perbincangan di media sosial. Namanya bahkan sempat tranding di Twitter dijuluki sebagai Bapak Politik Identitas.

Para pegiat media sosial yang berseberangan politik dengan Anies menyebutnya sebagai Bapak Politik  Identitas. Mereka yang kerap menyebut Gubernur DKI Jakarta itu sebagai Bapak Politik  Identitas adalah Denny Siregar, Eko Kuntadhi, Ade Armando, Ferdinand Hutahaean, dan Guntur Romli.
 

Anies menjadi salah satu kandidat calon presiden di Pemilu 2024. Poros NasDem, PKS dan Demokrat mempertimbangkan nama Anies jadi Capres.
Ini Jawaban Anies Baswedan Soal Duet dengan AHY di 2024

Anies menjadi salah satu kandidat calon presiden di Pemilu 2024. Poros NasDem, PKS dan Demokrat mempertimbangkan nama Anies jadi Capres.

Triaji | Kamis, 29 September 2022 - 20:21 WIB

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan, saat ini masih fokus menghabiskan masa jabatan di ibu kota. Jabatannya berakhir pada 16 Oktober 2022.

Anies menjadi salah satu kandidat calon presiden di Pemilu 2024. Poros NasDem, PKS dan Demokrat mempertimbangkan nama Anies jadi Capres.

"Ini saya masih ngurus Jakarta sampai 16 Oktober. Jadi nanti setelah 16 Oktober lah itu dibahas. Saya konsentrasi dulu lah," kata Anies saat menghadiri acara pengarahan Presiden Jokowi di JCC, Jakarta, Kamis, 29 September 2022.

Setelah itu, dia berjanji akan berkomentar dengan Pemilu 2024. "Pokoknya saya ngurus Jakarta dulu, fokus dulu di sini. Baru nanti saya komentari," ujar dia.

Sementara itu, Anies hanya senyum dan berlalu saat ditanya tentang kemungkinan bakal duet dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Pemilu 2024.

Sembari berlalu, dia hanya mengangkat tangannya dan memberikan kode jempol kepada para media yang bertanya.

Sebelumnya, Koordinator Juru Bicara Demokrat Herzaky Mahendra Putra dikutip merdeka.com menegaskan, saat ini koalisinya bersama NasDem dan PKS tengah bicara kriteria capres dan cawapres. Hingga kini, belum ada nama yang resmi untuk diusun sebagai capres dan cawapres dalam poros koalisi tersebut.

Herzaky mengatakan, saat ini koalisinya masih terus bicara mengenai kriteria. Dari kriteria itu nantinya koalisi NasDem, Demokrat dan PKS baru akan munculkan nama.

"Ya memang nama capres ada beberapa usulan yang akan segera mengerucut ini, tetapi tentunya hasil diskusi di Koalisi ini akan kami bawa kembali di forum internal majelis tinggi partai," jelas Herzaky di DPP Demokrat, Jakarta, Kamis (29/9).

Demokrat akui nama Anies Baswedan menjadi salah satu yang diperbincangkan dalam koalisi NasDem-Demokrat-PKS. Sementara internal Demokrat juga menginginkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) maju di Pilpres 2024.

"Kalau nama, kalau bicara Mas Anies masuk lah di salah satu yang (disepakati), mungkin ya bisa saja. Karena saat ini kan banyak yang lagi beredar nama Mas Anies. Di sisi lain kader menginginkan bahwa Mas AHY bisa ikut dalam kontestasi pilpres, namanya aspirasi kader, kami harus dengarkan," jelas dia.

Herzaky kemudian mengutip sebuah survei. Dalam survei itu menyatakan, elektabilitas Anies-AHY tak tertandingi apabila diduetkan dalam Pemilu 2024.

"Kalau bicara pasangan Anies-AHY itu misalnya hampir tanpa tanding, ini katanya nih, kata lembaga survei besar ya tentu ini jadi bahan pertimbangan," tegas dia.

Herzaky menambahkan, namun nama Anies-AHY masih terus didiskusikan dalam koalisi. Sebab, hingga kini, koalisinya masih dalam pembahasan kriteria capres dan cawapres.

"Kriteria sosok mana nih yang pas kalau bicara semangat perubahan dan perbaikan, pokoknya harus jela-jelas merepresentasikan perubahan dan perbaikan. Lalu kita bicara Indonesia ini kan multi kultur, tentu ini juga harus tentu terwadahi," imbuhnya.