Saat awal kasus kematian Brigadir J, nama dan peran Ferdy Sambo memang belum masuk dalam pusaran kejahatan. Seiring berjalannya penyelidikan, nama-nama pelaku bermunculan. Menurut Chazizah, ini membuktikan, siapapun yang melakukan kejahatan, hanya tinggal menunggu waktu untuk dihadapkan ke meja penyidik
Ferdy Sambo Akhirnya Jadi Tersangka, Kriminolog: Bukti Bahwa tak Ada Kejahatan yang Sempurna!

Saat awal kasus kematian Brigadir J, nama dan peran Ferdy Sambo memang belum masuk dalam pusaran kejahatan. Seiring berjalannya penyelidikan, nama-nama pelaku bermunculan. Menurut Chazizah, ini membuktikan, siapapun yang melakukan kejahatan, hanya tinggal menunggu waktu untuk dihadapkan ke meja penyidik

Rayu | Rabu, 10 Agustus 2022 - 16:05 WIB

Tabir gelap kasus kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J akhirnya tersingkap. Tim Khusus (Timsus) Bentukan Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo mendapati fakta, tidak ada baku tembak antara Brigadir J dan Bharada E. 

Faktanya, skenario itu dibuat oleh mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo. Akhirnya polisi pun menetapkan Ferdy Sambo sebagai tersangka pembunuhan berencana terhadap ajudannya tersebut.

Ferdy Sambo diduga sebagai orang yang memerintahkan Bharada E atau Richard Eliezer Pudihang Lumiu untuk menembak Brigadir J. Dia juga menyusun skenario seolah-olah terjadi tembak-menembak di rumahnya pada Jumat 8 Juli 2022.

Skenario yang dibuat, Brigadir J disebut melecehkan istri Ferdy Sambo, PC. Bharada E yang datang membuatnya panik sehingga terjadi tembak-menembak, lalu tewas. 

Untuk mendukung jalan cerita itu, Ferdy Sambo diduga sengaja menembakkan senjata Brigadir J ke arah dinding rumahnya. CCTV di rumahnya pun disebutkan rusak disambar petir. Kamera pengawas di kawasan sekitar lokasi juga diambil.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit yang akhirnya membeberkan perbuatan jahat Ferdy Sambo. Mantan Kadiv propam itu juga diduga tidak profesional dalam penanganan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Kriminolog dari Universitas Budi Luhur Jakarta, Chazizah Gusnita menilai, terbongkarnya skenario yang dilakukan Ferdy Sambo membuktikan, kejahatan pasti terbongkar.

"Tidak ada kejahatan yang sempurna. Serapat-rapatnya ditutupi, sedetail-detailnya diskenariokan, pasti ada hal yang terlewat," ungkap Chazizah kepada merdeka.com, Rabu (10/8).

Dia menjelaskan, kejahatan terjadi karena adanya perbuatan atau permasalahan yang dilakukan di luar aturan yang berlaku. Setiap perbuatan kejahatan pasti diikuti dengan risiko. Karena itu, setiap kejahatan tidak bisa ditutupi.

"Pasti ada celah. Kejahatan itu pasti tidak rapi disembunyikan. Dan pasti tercium karena perbuatannya di luar prosedur. Mau ada skenario A, skenario B, semua itu akan kelihatan," jelasnya.

Saat awal kasus kematian Brigadir J, nama dan peran Ferdy Sambo memang belum masuk dalam pusaran kejahatan. Seiring berjalannya penyelidikan, nama-nama pelaku bermunculan. Menurut Chazizah, ini membuktikan, siapapun yang melakukan kejahatan, hanya tinggal menunggu waktu untuk dihadapkan ke meja penyidik.

"Kalau saat itu lolos, besok belum tentu. Artinya, ada pelanggaran kejahatan maka pasti akan ketahuan dan tinggal tunggu waktu," katanya.

Motif yang Belum Terungkap

Dalam rangkaian fakta baru terkait kematian Brigadir J, Kapolri Jenderal Listyo Sigit belum membeberkan motif dari Ferdy Sambo menyuruh Bharada E untuk menembak Brigadir J. Menurut Chazizah, Polisi sesungguhnya sudah mengetahui motif dari FErdy Sambo.

Alasannya, Polisi sudah menentukan Pasal yang menjerat Ferdy Sambo. Berdasarkan peran dalam kasus ini, Ferdy dijerat Pasal 340 subsider 338 Jo 55 56 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau penjara 20 tahun.

"Kalau sudah tahu pasalnya, ya harusnya sudah tahu motifnya," ucapnya.

Menurut Chazizah, Pasal yang dikenakan kepada pelaku kejahatan mengikuti motif yang dilakukan. Dalam kasus yang menjerat Ferdy Sambo, secara otomatis Polisi sudah mengetahui latar belakang yang memicu pembunuhan berencana.

"Dari mana menetapkan pasal kalau tidak motif. Motif itu yang menggiring seseorang kena pasal apa. Dari mana kita simpulkan berencana kalau tidak jelas kronologi dan motifnya."

Menurutnya, publik masih menaruh kecurigaan jika motif tidak diungkap secara terang benderang. Apalagi, saat ini publik sudah cerdas dalam menganalisa sebuah peristiwa yang menghebohkan. Jika motif Ferdy Sambo ditutupi, maka akan menimbulkan tanda tanya besar.

"Justru berpotensi ada spekulasi lain di masyarakat," tutupnya.
 

merdeka

Meski demikian, Kapolri tak membeberkan nama-nama para perwira Polri, yang turut membantu Irjen Sambo dalam melakukan penghambatan proses penyidikan pembunuhan berancana itu. Akan tetapi, kata Jenderal Sigit, selain Irjen Sambo, ada 10 personel Polri lainnya, yang turut dijebloskan ke sel isolasi khusus
Terlibat Rekayasa Kematian Brigadir J, Kapolri Jebloskan 11 Pati Polri ke Sel Isolasi!

Meski demikian, Kapolri tak membeberkan nama-nama para perwira Polri, yang turut membantu Irjen Sambo dalam melakukan penghambatan proses penyidikan pembunuhan berancana itu. Akan tetapi, kata Jenderal Sigit, selain Irjen Sambo, ada 10 personel Polri lainnya, yang turut dijebloskan ke sel isolasi khusus

Rayu | Kamis, 11 Agustus 2022 - 08:05 WIB

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjebloskan 11 perwira Polri ke tempat pengamanan khusus. Mereka akan diperiksa maksimal terkait kasus pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J. 

Selain Inspektur Jenderal (Irjen) Ferdy Sambo, Jenderal Sigit mengatakan, ada 10 anggota Polri berkepangkatan tinggi lain, yang bersekongkol dengan mantan Kadiv Propam itu untuk melakukan penghalang-halangan proses pengungkapan kematian Brigadir J.

Meski demikian, Kapolri tak membeberkan nama-nama para perwira Polri, yang turut membantu Irjen Sambo dalam melakukan penghambatan proses penyidikan pembunuhan berancana itu. Akan tetapi, kata Jenderal Sigit, selain Irjen Sambo, ada 10 personel Polri lainnya, yang turut dijebloskan ke sel isolasi khusus. 

Kata Kapolri, mereka terdiri dari dua perwira bintang satu, atau Brigadir Jenderal (Brigjen), dua pangkat Komisaris Besar (Kombes), tiga dengan kepangkatan AKBP, dua berpangkat Komisaris Polisi (Kompol), dan satu personel AKP.

Tiga perwira tinggi dengan pangkat bintang, ditempatkan di sel isolasi di Mako Brimob. Selebihnya, ditempatkan di isolasi khusus di provos. 

“Dan dalam pengusutan ini, akan terus bertambah sepanjang pemeriksaan-pemeriksaan oleh Irsus (Inspektorat Khusus) yang masih terus berproses hari ini,” ujar Kapolri, Rabu (10/08/2022). 

Jumlah personel kepolisian yang dijebloskan ke sel isolasi maksimal tersebut bertambah dari semula hanya empat orang. Karena, dalam prosesnya, para personel yang diperiksa, pun bertambah. Semula cuma 25 personel, menjadi 31 anggota yang turut  diperiksa.

Jenderal Sigit mengatakan, para personel yang diperiksa itu, bersekongkol dengan Irjen Sambo melakukan beragam rekayasa, pembuatan skenario palsu, bahkan sampai pada pembersihan tempat kejadian perkara (TKP), perusakan, dan pelenyapan barang bukti, serta adanya manipulasi fakta kematian Brigadir J. 

“Sehingga, membuat proses penanganan, pengungkapan, dan penyidikan peristiwa ini (pembunuhan Brigadir J) menjadi lambat,” ujar Kapolri. 

Sikap tidak profesional para anggota Polri tersebut, dikatakan Kapolri, akan mendapatkan sanksi etik. Pun, janji dia, akan ada sanski pidana jika terbukti.

Inspektorat Pengawasan Umum (Irwasum) Polri, Komisaris Jenderal (Komjen) Agung Budi Maryoto, menjelaskan, para personel yang diperiksa dalam persekongkolan dengan Irjen Sambo itu, lintas satuan. Dari Bareskrim, ada dua personel dengan pangkat perwira menengah (pamen), dan pertama (pama). 

Dari Divisi Propam, ada keterlibatan 21 personel dengan tiga kepangkatan perwira tinggi, serta tujuh anggota Polda Metro Jaya, dengan kepangkatan pamen, dan pama. “Yang sudah kita periksa itu totalnya 56 personel. Yang 31 itu (personel), yang kita sudah duga melakukan pelanggaran etik yang disebut itu (menghambat penyidikan),” ujar Agung, Selasa (09/08/2022).

Agung menerangkan, dari puluhan personel yang diperiksa itu, bukan cuma menyangkut soal etik. Tetapi, dari pemeriksaan tersebut, juga menyisir dugaan pidana yang dilakukan. 

Kata dia, baik menyangkut dugaan pidana penghilangan barang bukti tindak kejahatan, atau terlibat dalam persekongkolan lain atas materi pokok kematian Brigadir J. “Ketika ada hasil pemeriksaan yang menonjol (dari puluhan personel terperiksa), maka kita serahkan ke Tim Khusus untuk proses lainnya (pidana),” kata Agung menambahkan.

Dalam kasus kematian Brigadir J ini, terungkap fakta baru yang menyeret Irjen Sambo sebagai tersangka pembunuhan berencana. Kapolri, pada Selasa (09/08/2022) menyebutkan, kematian yang dialami oleh Brigadir J, dilakukan oleh Bharada Richard Eliezer (RE). 

Namun, kata Kapolri, pembunuhan tersebut, dilakukan atas perintah dari Irjen Sambo. Bharada RE menjadi eksekutor penembakan sampai mati kepada Brigadir J, menggunakan senjata milik Bripka Ricky Rizal (RR). Kejadian itu, terjadi di rumah dinas Irjen Sambo, di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (08/07/2022). 

Irjen Sambo merekayasa kasus tersebut, dengan membuat seolah-olah kematian Brigadir J akibat tembak-menembak dengan Bharada RE. Irjen Sambo, kata Jenderal Sigit, mengambil pistol milik Brigadir J setelah kematiannya, lalu menembakkan ke arah dinding. 

Kata Jenderal Sigit, dari fakta penyidikan, tak ditemukan adanya tembak-menembak. “Setelah dilakukan gelar perkara, tim penyidik memutuskan untuk menetapkan saudara FS (Irjen Ferdy Sambo) sebagai tersangka,” kata Sigit. 

Akan tetapi, dari penyidikan, timnya belum menemukan fakta baru yang mengarah apakah Irjen Sambo, turut melakukan penembakan terhadap Brigadir J. Pun, tim penyidik, belum dapat memastikan apa motif dari peristiwa yang melatarbelakangi aksi pembunuhan terhadap Brigadir J itu. 

“Terkait apakah motif, dan terkait apakah saudara FS turut melakukan (penembakan terhadap Brigadir J), masih terus berproses dan didalami,” ujar Sigit. 

Kepala Bareskrim Polri, Komjen Agus Andrianto mengatakan, dalam penyidikan berjalan, sudah ada empat tersangka dalam kasus pembunuhan itu. Selain Irjen Sambo, Drektorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum), bersama Tim Gabungan Khusus sudah menetapkan Bharada RE sebagai tersangka, Rabu (03/08/2022). 

Juga menetapkan Bripka RR, sebagai tersangka, Minggu (07/08/2022), dan pada Selasa (09/08/2022) juga menetapkan inisial KM, orang sipil, sebagai tersangka. Para tersangka tersebut, dijerat dengan sangkaan utama Pasal 340 KUH Pidana, subsider Pasal 340 KUH Pidana, juncto Pasal 55, dan Pasal 56 KUH Pidana.

Sangkaan utamanya, terkait dengan pembunuhan berencana, subsider pembunuhan, juncto penyertaan dalam melakukan pembunuhan bersama-sama, dan memberikan sarana dalam kejahatan penghilangan nyawa. “Ancaman hukumannya, maksimal hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara selama 20 tahun,” kata Agus, Selasa (09/08/2022).
 

Presiden mengharapkan untuk ini bisa terselesaikan supaya citra polisi tidak babak belur seperti saat ini
Presiden Berharap Kasus Brigadir J Selesai: Jangan Sampai Citra Polri Babak Belur

Presiden mengharapkan untuk ini bisa terselesaikan supaya citra polisi tidak babak belur seperti saat ini

Ind | Senin, 08 Agustus 2022 - 18:40 WIB

Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sangat berharap agar kasus kematian Brigadir J atau Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat segera terungkap dan terselesaikan agar citra Kepolisian RI tidak babak belur di mata masyarakat.

"Presiden mengharapkan untuk ini bisa terselesaikan supaya citra polisi tidak babak belur seperti saat ini," ujar Pramono Anung di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.

Pramono mengatakan Presiden Jokowi sudah berkali-kali memerintahkan agar pengungkapan kasus ini dilakukan secara terbuka dan tak ditutup-tutupi.

"Kan Presiden sudah tiga kali menyampaikan dan penyampaian-nya sudah sangat terbuka. Jangan ada yang ditutup-tutupi, buka apa adanya. Itu arahan Presiden," tutur dia.

Sejauh ini, Markas Besar Kepolisian RI (Polri) telah menetapkan dua tersangka, yakni Bharada E sebagai tersangka kasus pembunuhan terhadap Brigadir J yang terjadi di rumah Irjen Ferdy Sambo. Seperti dilansir antaranews, Bharada E dijerat dengan Pasal 338 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 56 KUHP.

Kemudian, Polri juga menetapkan tersangka baru yakni Brigadir Ricky Rizal (RR) yang merupakan ajudan dari istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. Terhadap Brigadir RR, polisi menjerat dengan Pasal 340 KUHP terkait pembunuhan berencana terhadap Brigadir Yosua.

Dalam perkembangan terbaru, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, menyampaikan sudah ada tiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kematian Brigadir J.

"Kan tersangka-nya sudah tiga, itu bisa berkembang dan pasalnya 338, 340, pembunuhan berencana," kata Mahfud.

Menurut Mahfud, penyelidikan kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J cukup cepat, mengingat kasus tersebut yang memiliki kode senyap atau code of silence.

"Perkembangannya sebenarnya cepat, kasus yang seperti itu yang punya 'code of silence' itu sekarang sudah tersangka, kemudian pejabat-pejabat tingginya sudah 'bedol deso'. Saya kira yang dilakukan Polri itu tahapan-tahapan-nya dan kecepatannya cukup lumayan tidak jelek banget," ujar Mahfud.

Soal motif biar nanti dikonstruksi hukumnya karena itu sensitif
Motif Ferdy Sambo di Kasus Brigadir J Sensitif, Mahfud Md: Hanya Boleh Didengar Orang Dewasa

Soal motif biar nanti dikonstruksi hukumnya karena itu sensitif

Jyg | Rabu, 10 Agustus 2022 - 08:40 WIB

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud Md menyinggung soal motif eks Kadiv Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo di balik penembakan Brigadir J. Polri akan melakukan konstruksi perkara untuk mengetahui motif penembakan tersebut.

"Soal motif biar nanti dikonstruksi hukumnya karena itu sensitif. Mungkin hanya boleh didengar oleh orang-orang dewasa. Biar nanti dikonstruksi oleh polisi apa sih motifnya kan sudah banyak di tengah masyarakat," kata Mahfud.

Lebih lanjut, Mahfud kembali menegaskan Kapolri sudah menjelaskan soal masih ada 28 anggota polisi lagi yang akan diperiksa terkait pelanggaran etik dari total 31 orang di kasus penembakan Brigadir J.

"Kalau ditemukan etik itu berhimpitan dengan pidana. Misalnya ketika dia mencopot CCTV, itu bukan sekadar tidak profesional tapi sengaja agar terjadi hilangnya jejak ya, bisa dipidana juga. Kita tunggu. Yang penting sekarang telur pecah dulu," tegasnya.

Sementara Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan polisi masih mendalami motif pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Sigit menegaskan Brigadir J meninggal karena ditembak dan bukan dalam aksi tembak-menembak. Salah satu penembak adalah Bharada E yang bergerak atas perintah Mantan Kadiv Propan Irjen Ferdy Sambo.

Sigit menyebut mendalami kasus dengan meminta keterangan saksi-saksi, termasuk ke istri Sambo, Putri Candrawathi.

"Motif, saat ini sedang dilakukan pendalaman terhadap saksi-saksi dan juga terhadap Ibu Putri. Jadi saat ini belum bisa kita simpulkan," kata Sigit dalam konferensi pers, Selasa (9/8).

Polisi total telah menetapkan empat orang sebagai tersangka. Yakni Irjen Ferdy Sambo, Bharada E, Brigadir RR, serta KM.

Keempat tersangka memiliki peran berbeda. Bharada RE berperan menembak korban atas perintah Ferdy. Brigadir RR berperan turut membantu dan menyaksikan penembakan terhadap Brigadir J.

Lalu, tersangka ketiga yakni KM juga berperan turut membantu dan menyaksikan penembakan Brigadir J. Dan Ferdy berperan menyuruh melakukan dan menskenario peristiwa seolah-olah terjadi peristiwa tembak menembak di rumahnya.

Para tersangka dijerat Pasal 340 KUHP Subsider Pasal 338 KUHP Juncto Pasal 55 KUHP dan Pasal 56 KUHP.

Anggota Komisi Hukum DPR ini mengimbau semua pihak agar memantau terus proses hukum yang berjalan. Dia meminta masyarakat mendukung penuh penyidik untuk mengungkap tuntas kasus ini walaupun melibatkan petinggi Polri
Ferdy Sambo Tersangka Pembunuhan Brigadir Yoshua, Legislator PKB Apresiasi Tindakan Tegas Kapolri!

Anggota Komisi Hukum DPR ini mengimbau semua pihak agar memantau terus proses hukum yang berjalan. Dia meminta masyarakat mendukung penuh penyidik untuk mengungkap tuntas kasus ini walaupun melibatkan petinggi Polri

Rayu | Rabu, 10 Agustus 2022 - 14:05 WIB

Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jazilul Fawaid mengapresiasi langkah terkini Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam pengusutan kasus kematian Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J. 

Irjen Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka kematian Yoshua di rumah dinas Kadiv Propam.

"Kami menyampaikan apresiasi kepada Kapolri yang telah bertindak tegas membongkar kasus ini," kata Jazilul kepada wartawan, Rabu (10/08/2022).

Anggota Komisi Hukum DPR ini mengimbau semua pihak agar memantau terus proses hukum yang berjalan. Dia meminta masyarakat mendukung penuh penyidik untuk mengungkap tuntas kasus ini walaupun melibatkan petinggi Polri.

"Kita pantau saja proses hukum yang berkembang, sekaligus berikan dukungan penuh kepada penyidik untuk bekerja, ungkap tuntas meskipun pelakunya petinggi Polri," katanya.

Menurut Jazilul, rentetan langkah yang diambil Polri membuat tabir misteri kasus ini pelan-pelan mulai terbuka. Terlebih, kata dia, sejumlah nama sudah ditetapkan sebagai tersangka.

"Tabir misteri kasus ini pelan pelan sudah mulai terbuka dengan beberapa nama yang menjadi tersangka," ujar Wakil Ketua Umum PKB itu.

Jazilul meyakini penyidik bakal melengkapi bukti dan keterangan dari para pelaku untuk dilanjutkan dalam proses penuntutan dan persidangan.

"Kami yakin semua akan segera terungkap terang benderang dan jelas. Di negeri ini, tidak ada yang kebal hukum, siapa pun yang melakukan kejahatan pasti akan terjerat hukum," katanya.

Untuk diketahui, Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumumkan Irjen Ferdy Sambo merupakan tersangka kasus penembakan terhadap Brigadir J atau Yoshua Hutabarat. Kapolri menyebut tidak ada peristiwa tembak menembak seperti laporan awal kasus.

"Ditemukan perkembangan baru bahwa tidak ditemukan fakta peristiwa tembak menembak seperti yang dilaporkan. Saya ulangi, tidak ditemukan peristiwa fakta tembak menembak," kata Kapolri dalam konferensi pers di Rupatama Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel), Selasa (09/08/2022).

Kapolri menyebut Irjen Ferdy Sambo memerintahkan penembakan.

"Timsus menemukan bahwa peristiwa yang terjadi adalah peristiwa penembakan terhadap Saudara J yang menyebabkan Saudara J meninggal dunia yang dilakukan Saudara RE atas perintah Saudara FS," kata Kapolri.