Beberapa ekonomi besar, termasuk China dan Rusia, telah mengalami kontraksi pada kuartal kedua. Tercatat risikonya bahkan lebih tinggi pada tahun 2023.
IMF Keluarkan Peringatan, Kemungkinan Datangnya Resesi Global, Ini Indikatornya

Beberapa ekonomi besar, termasuk China dan Rusia, telah mengalami kontraksi pada kuartal kedua. Tercatat risikonya bahkan lebih tinggi pada tahun 2023.

Nissa | Jumat, 08 Juli 2022 - 08:21 WIB

Ketua Dana Moneter Internasional (IMF) pada Rabu, 6 Juli 2022, mengatakan prospek ekonomi global telah "suram secara signifikan" sejak April dan dia tidak dapat mengesampingkan kemungkinan resesi global tahun depan mengingat risiko-risiko yang meningkat.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya dalam beberapa minggu mendatang akan menurunkan perkiraan 2022 untuk pertumbuhan ekonomi global 3,6 persen buat ketiga kalinya tahun ini, menambahkan bahwa para ekonom IMF masih menyelesaikan angka-angka baru.

IMF diperkirakan akan merilis perkiraan terbarunya untuk 2022 dan 2023 pada akhir Juli, setelah memangkas perkiraannya hampir satu poin persentase penuh pada April. Ekonomi global tumbuh sebesar 6,1 persen pada tahun 2021.

"Prospek sejak pembaruan terakhir kami pada April telah menjadi suram secara signifikan," katanya kepada Reuters dalam sebuah wawancara, mengutip penyebaran inflasi yang lebih universal, kenaikan suku bunga yang lebih substansial, perlambatan pertumbuhan ekonomi China, dan meningkatnya sanksi terkait dengan perang Rusia di Rusia. Ukraina.

"Kami berada di perairan yang sangat berombak," katanya dikutip Antara. 

Ditanya apakah dia dapat mengesampingkan resesi global, dia berkata, "Risikonya telah meningkat sehingga kami tidak dapat mengesampingkannya."

Data ekonomi baru-baru ini menunjukkan beberapa ekonomi besar, termasuk China dan Rusia, telah mengalami kontraksi pada kuartal kedua, katanya, mencatat risikonya bahkan lebih tinggi pada tahun 2023.

"Ini akan menjadi 2022 yang sulit, tetapi mungkin bahkan 2023 yang lebih sulit," katanya. "Risiko resesi meningkat pada 2023."

Investor semakin khawatir tentang risiko resesi, dengan bagian penting dari kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS terbalik untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu (6/7/2022), dalam apa yang telah menjadi indikator yang dapat diandalkan bahwa resesi kian dekat.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell bulan lalu mengatakan bank sentral AS tidak mencoba untuk merekayasa resesi, tetapi berkomitmen penuh untuk mengendalikan harga-harga sekalipun hal itu berisiko penurunan ekonomi.

Georgieva mengatakan pengetatan kondisi keuangan yang lebih lama akan memperumit prospek ekonomi global, tetapi menambahkan sangat penting untuk mengendalikan lonjakan harga-harga.

Prospek global sekarang lebih heterogen daripada hanya dua tahun lalu, dengan eksportir energi, termasuk Amerika Serikat, pada pijakan yang lebih baik, sementara importir sedang kesulitan, katanya.

Pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat mungkin merupakan "harga yang harus dibayar" mengingat kebutuhan urgen dan mendesak untuk memulihkan stabilitas harga, katanya.

Georgieva mengutip meningkatnya risiko divergensi antara kebijakan fiskal dan moneter, dan mendesak negara-negara untuk secara hati-hati mengkalibrasi tindakan tersebut guna mencegah kemungkinan dukungan fiskal yang merusak upaya bank sentral untuk mengendalikan inflasi.

"Kita perlu menciptakan tingkat koordinasi yang sama kuat antara bank sentral dan kementerian keuangan sehingga mereka memberikan dukungan dengan cara yang sangat tepat sasaran ... dan tidak melemahkan apa yang ingin dicapai oleh kebijakan moneter," katanya.

Kenaikan harga pangan global ini juga semakin diperparah dengan adanya lonjakan harga energi di waktu bersamaan. Kondisi ini bisa mengancam beberapa negara ke jurang krisis.
Dunia Dilanda Krisis Pangan, Jokowi Minta Pekarangan Kosong Ditanami

Kenaikan harga pangan global ini juga semakin diperparah dengan adanya lonjakan harga energi di waktu bersamaan. Kondisi ini bisa mengancam beberapa negara ke jurang krisis.

Triaji | Jumat, 08 Juli 2022 - 22:05 WIB

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut saat ini harga pangan dunia sudah mengalami lonjakan tinggi sejak beberapa bulan terakhir. Kondisi ini diakibatkan bentrok militer antara Rusia dan Ukraina.

Selain itu, menurut Jokowi, kenaikan harga pangan dunia juga disebabkan karena efek perubahan iklim hingga pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya normal. Hal ini pula yang juga terjadi di Indonesia.

Kenaikan harga pangan global ini juga semakin diperparah dengan adanya lonjakan harga energi di waktu bersamaan. Kondisi ini bisa mengancam beberapa negara ke jurang krisis.

"(Harga) pangan seluruh dunia naik. Ada yang naik 30 persen, ada yang naiknya 50 persen," ucap Jokowi dalam acara Hari Keluarga Nasional ke-29 di Medan seperti dikutip dari YouTube Sekretariat Negara pada Jumat (8/7/2022).

Kenaikan sejumlah bahan kebutuhan pokok di Indonesia sudah mulai terasa. Jokowi pun menyarankan agar masyarakat bisa memanfaatkan lahan kosong untuk bercocok tanam sehingga bisa menghasilkan panganan sendiri untuk kebutuhan dapur sendiri.

"Mau semua Bapak Ibu harganya naik? Ada yang mau coba ngacung, senang kalau harga pangan naik? Tunjuk jari, maju ke depan, saya beri sepeda, silakan maju ke depan," kata Jokowi di hadapan masyarakat Kota Medan.

"Oleh sebab itu, namanya kemandirian pangan penting, saya ajak bupati wali kota manfaatkan lahan-lahan sekecil apa pun nanam. Untuk memproduksi kebutuhan pangan sehari-hari. Penting, jangan sampai ada lahan kosong," kata Jokow dikutip kompas.com.

Tren kenaikan tren kenaikan harga pangan global ini juga merembet ke Indonesia. Dia mencontohkan, Indonesia yang merupakan salah satu importir gandum terbesar dunia juga harus menanggung beban.

Indonesia sangat bergantung pada impor gandum asal Rusia dan Ukraina. Konflik kedua negara itu akan berdampak pada produk yang mengandalkan bahan baku tepung terigu.

“Ini hati-hati, yang suka makan roti, yang suka makan mi (instan), bisa harganya naik. Karena apa? Ada perang di Ukraina," kata Jokowi.

Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta itu, berbeda dengan komoditas seperti minyak goreng, gandum bukan merupakan produk Indonesia, sehingga pemerintah tak bisa mengendalikan kenaikan harganya.

"Kenapa perang di Ukraina mempengaruhi harga gandum? Karena produksi gandum itu 30-40 persen berada di negara itu, Ukraina, Rusia, Belarus, semua ada di situ,” jelas Jokowi.

Bahkan, kata Jokowi, beberapa negara sudah mengalami kekurangan pangan dan kelaparan karena terhambatnya pasokan pangan akibat perang Ukraina dan Rusia.

“Bayangkan, berapa ratus juta orang ketergantungan kepada gandum Ukraina dan Rusia? dan sekarang ini sudah mulai karena barang itu tidak bisa keluar dari Ukraina, tidak bisa keluar dari Rusia,” kata Jokowi.

Sektor keuangan Indonesia relatif lebih kuat semenjak krisis global tahun 2008-2009. Dengan demikian daya tahan Indonesia membaik dan risiko kredit macet perbankan pun terjaga.
Sri Mulyani Kirim Sinyal Bahaya Potensi Resesi yang Menghantui Indonesia

Sektor keuangan Indonesia relatif lebih kuat semenjak krisis global tahun 2008-2009. Dengan demikian daya tahan Indonesia membaik dan risiko kredit macet perbankan pun terjaga.

Triaji | Rabu, 13 Juli 2022 - 16:21 WIB

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mewaspadai potensi resesi yang menghantui Indonesia. Berdasarkan survei Bloomberg terbaru, RI masuk ke dalam peringkat 14 dari 15 negara di Asia yang kemungkinan mengalami resesi ekonomi.
 
"Kami tidak akan terlena, kami tetap waspada," ungkap Menkeu Sri Mulyani dalam Konferensi Pers Kegiatan Sampingan G20 Indonesia 2022 di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu, 13 Juli 2022.
 
Maka dari itu Bendahara Negara menekankan seluruh instrumen kebijakan akan digunakan, baik kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, hingga regulasi lain untuk mengawasi kemungkinan resesi tersebut, terutama regulasi dari korporasi di Tanah Air.
 
Adapun dalam survei tersebut Indonesia menempati peringkat 14 dengan kemungkinan resesi sebesar tiga persen, jauh dari Sri Langka yang menempati posisi pertama dengan potensi resesi 85 persen.
 
Di bawah Sri Langka masih ada pula Selandia Baru dengan persentase 33 persen, Korea Selatan 25 persen, Jepang 25 persen, dan China 20 persen.
 
Meski tak akan terlena, Sri Mulyani berpendapat persentase potensi resesi Indonesia yang sangat rendah tersebut menggambarkan ketahanan pertumbuhan ekonomi domestik, indikator neraca pembayaran, hingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang kuat.
 
"Dari sisi korporasi maupun dari rumah tangga kita juga relatif baik," tambah Menteri Keuangan RI itu.
 
Menurut Sri Mulyani, sektor keuangan Indonesia relatif lebih kuat semenjak krisis global tahun 2008-2009. Dengan demikian daya tahan Indonesia membaik dan risiko kredit macet perbankan pun terjaga. Hal tersebut menggambarkan seluruh sektor belajar dari krisis global pada 2008-2009.
 
"Namun kita tetap harus waspada karena ini akan berlangsung sampai tahun depan. Risiko global mengenai inflasi dan resesi atau stagflasi sangat nyata dan akan menjadi salah satu topik penting pembahasan di G20 Indonesia," tutur Sri Mulyani.

Jokowi meminta OJK menjalankan peranannya untuk mengawasi sektor perbankan secara detail dan menyeluruh.
Sinyal Resesi Makin Kuat, Jokowi Peringatkan OJK: Jangan Ada Bank Bermasalah

Jokowi meminta OJK menjalankan peranannya untuk mengawasi sektor perbankan secara detail dan menyeluruh.

Triaji | Rabu, 13 Juli 2022 - 19:55 WIB

Ancaman resesi ekonomi dan gejolak sektor keuangan di banyak negara semakin nyata. Tidak terkecuali, menghantui Indonesia.

Biang keroknya adalah Perang Rusia dan Ukraina yang menyebabkan lonjakan harga energi dan menimbulkan krisis pangan. Kondisi ini menyebabkan sejumlah negara, termasuk negara-negara besar di Eropa dan Amerika Serikat, mengalami kenaikan inflasi. Sedangkan perekonomian melambat hingga terancam masuk ke jurang resesi.

Demi meredam laju inflasi, sejumlah negara besar mengerek tingkat suku bunga. Yang paling mencolok adalah Amerika Serikat (AS). Pada Juni lalu, bank sentral di negara itu, The Fed, menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin (bps), yang merupakan kenaikan tertinggi sejak 1994 silam.

Alhasil, bunga The Fed saat ini berkisar 1,5 – 1,75%, yang merupakan angka tertinggi sejak sebelum pandemi. Bank sentral AS itu masih berencana mengerek terus suku bunga hingga diperkirakan mencapai 3,4% pada akhirn tahun ini.

Kebijakan moneter AS tersebut mengguncang pasar keuangan dunia. Indonesia pun tak imun dari gejolak tersebut. Nilai tukar rupiah terus melemah hingga menembus level Rp15.000 per dolar AS.

Presiden Joko Widodo mewaspadai masalah tersebut karena berpotensi mengganggu kestabilan sektor keuangan di dalam negeri.

Mencermati kondisi tersebut, Jokowi seperti dilansir katadata.co.id melihat pentingnya menjaga stabilitas sistem keuangan di dalam negeri. Caranya terutama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengawasi setiap penyelenggara jasa keuangan agar tetap berjalan baik dan dalam kondisi sehat.

“Stabilitas industri keuangan itu penting. Saya juga sudah sampaikan ke KSSK (Komite Stabilitas Sektor Keuangan), jangan ada lagi asuransi bermasalah,” kata Jokowi dalam pertemuan dengan para pemimpin redaksi media massa di Istana Negara, Jakarta, Rabu (13/7).

Khusus untuk OJK, Jokowi meminta peranannya untuk mengawasi sektor perbankan secara detail dan menyeluruh. Meski selama ini OJK melaporkan kondisi makro sektor keuangan cukup baik dan terjaga dengan indikator-indikator permodalan, simpanan dan kredit.

“OJK jangan melaporkan makronya saja bahwa perbankan baik. Tapi cek satu per satu, bank per bank,” kata Jokowi. Tujuannya agar jangan ada bank yang bermasalah karena dapat mempengaruhi kepercayaan masyarakat. “Kalau ada yang bermasalah bisa menimbulkan efek domino.”

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso sudah mewanti-wanti agar pelaku sektor keuangan di dalam negeri mewaspadai efek tumpahan (spillover) dari ketidakpastian perekonomian global.

"Ini tidak boleh kita anggap enteng, belum pernah dalam 24 tahun terakhir The Fed menaikkan suku bunga 75 basis poin," kata Wimboh, Kamis (7/7).

Ia menambahkan, potensi spillover kepada sektor keuangan masih harus terus diwaspadai dan tidak boleh dianggap enteng karena ketidakpastian ekonomi global masih berlanjut.

Moeldoko menyebut pernyataan itu tidak untuk menteri tertentu, tetapi kepada seluruh anggota Kabinet Indonesia Maju.
Jokowi Perintahkan Menteri Fokus Kerja: Situasi Saat Ini dalam Kondisi yang Luar Biasa

Moeldoko menyebut pernyataan itu tidak untuk menteri tertentu, tetapi kepada seluruh anggota Kabinet Indonesia Maju.

Triaji | Kamis, 14 Juli 2022 - 16:23 WIB

Kepala Staf Presiden Moeldoko menyebut bahwa Presiden Joko Widodo sudah menegaskan dalam kondisi yang luar biasa (extraordinary) para menteri fokus pada pelayanan publik.

"Instruksi Presiden sudah sangat jelas, bukan hanya kemarin, melainkan jauh sebelumnya Presiden selalu menegaskan bahwa situasi sekarang adalah situasi yang tidak biasa, situasi yang harus disikapi lebih dari 'extraordinary' karena memang situasi global memengaruhi kondisi dalam negeri," kata Moeldoko di Jakarta, Kamis, 14 Juli 2022.

Moeldoko menyampaikan hal tersebut saat menjawab pertanyaan wartawan apakah Presiden Jokowi sudah berkomunikasi langsung dengan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengenai pemberitaan yang mengampanyekan anaknya di Lampung.

"Untuk itu, Presiden selalu menekankan para menteri harus concern untuk memberikan pelayanan kepada publik," tambah Moeldoko.

Moeldoko menyebut pernyataan itu tidak untuk menteri tertentu, tetapi kepada seluruh anggota Kabinet Indonesia Maju.

"Saya tidak berbicara perorangan, tetapi lebih pada penekanan Presiden kepada seluruh menteri," ungkap Moeldoko dikutip Antara.

Presiden Joko Widodo pada hari Selasa, 12 Juli 2022, sudah menyatakan bahwa para menterinya fokus bekerja, termasuk Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan harus dapat menurunkan harga minyak goreng.

"Saya minta semua menteri fokus bekerja. Kalau Menteri Perdagangan, ya, urus yang paling penting seperti yang saya tugaskan kemarin bagaimana menurunkan harga minyak goreng menjadi Rp14 ribu atau di bawah Rp14 ribu. Paling penting itu, tugas dari saya itu," kata Presiden Jokowi di Pasar Sukamandi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa, 12 Juli 2022.

Sebelumnya, pada hari Sabtu, 9 Juli 2022, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengajak warga yang hadir pada acara PAN-sar Murah di Kecamatan Telukbetung Timur, Bandar Lampung, Lampung untuk memilih anaknya Futri Zulya Savitri yang maju sebagai calon anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Lampung I.

Salah satu bagian acara tersebut membagikan minyak goreng curah dalam kemasan berlabel Minyakita, minyak goreng bersubsidi yang disediakan Kementerian Perdagangan.

Dalam acara itu, Minyakita dijual Rp10 ribu untuk 2 liter. Namun, dalam sambutannya, Zulkifli menggratiskan minyak goreng curah tersebut. Ia meminta uang yang telah disiapkan ibu-ibu yang datang kembali dimasukkan ke kantong masing-masing karena semua sudah dibayarkan oleh putrinya. Namun saat masa pemilu nanti, ibu-ibu diminta pilih Futri.

Padahal, setiap warga yang ingin mendapatkan Minyakita wajib menunjukkan kartu tanda penduduk atau menggunakan aplikasi Peduli Lindungi. Minyakita juga dijual seharga Rp14 ribu per liter dengan pembelian maksimal 10 liter per hari.