Negara-negara Teluk adalah tujuan utama bagi pekerja luar negeri India, terhitung 8,7 juta dari total 13,5 juta di seluruh dunia. Mereka juga importir besar produk dari India dan tempat lain. Kuwait mengimpor 95 persen makanannya menurut menteri perdagangan
Politisi Partai Penguasa Hina Nabi Muhammad, Negara Timur Tengah Ramai-ramai Boikot Produk India! Bagaimana Sikap Indonesia?

Negara-negara Teluk adalah tujuan utama bagi pekerja luar negeri India, terhitung 8,7 juta dari total 13,5 juta di seluruh dunia. Mereka juga importir besar produk dari India dan tempat lain. Kuwait mengimpor 95 persen makanannya menurut menteri perdagangan

Rayu | Rabu, 08 Juni 2022 - 16:05 WIB

Sebuah supermarket di Kuwait menarik produk-produk India sebagai protes penghinaan Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam oleh dua politisi Partai Bharatiya Janata (BJP) sayap kanan yang berkuasa di India. 

Pekerja di toko Al Ardiya Co-Operative Society menumpuk teh India dan produk lainnya ke dalam troli belum lama ini.

Di supermarket di luar Kota Kuwait, karung beras dan rak rempah-rempah dan cabai ditutupi dengan lembaran plastik. Tanda-tanda tercetak dalam bahasa Arab berbunyi: "Kami telah menghapus produk India".

"Kami, sebagai orang Muslim Kuwait, tidak menerima penghinaan terhadap Nabi," kata Nasser al Mutairi, CEO toko tersebut seperti dikutip laman TRT World, Rabu (08/06/2022).  

Seorang pejabat di bidang rantai pasokan mengatakan boikot seluruh perusahaan tengah dipertimbangkan. Arab Saudi, Qatar dan negara-negara lain di kawasan itu, serta Universitas Al Azhar yang berpengaruh di Kairo, telah mengutuk pernyataan penghinaan terhadap Nabi dan istrinya Aisyah dalam debat TV oleh juru bicara partai Perdana Menteri India Narendra Modi, Nupur Sharma. 

Sejak itu ia dinonaktifkan dari jabatannya. Juru bicara BJP lainnya dan kepala media partai Delhi Naveen Kumal Jindal dikeluarkan dari partai sayap kanan atas komentar yang dia buat tentang Nabi Muhammad di Twitter. Uni Emirat Arab (UEA) menjadi negara terbaru yang menyuarakan kecamannya atas pernyataan tersebut. 

Pihak UEA mengatakan bahwa pernyataan itu bertentangan dengan nilai dan prinsip moral dan kemanusiaan. Kementerian luar negeri UEA menggarisbawahi perlunya menghormati simbol-simbol agama dan melawan ujaran kebencian.

Dalam kritik lebih lanjut terhadap pejabat India, Dewan Kerjasama Teluk, sebuah kelompok payung untuk enam negara Teluk, mengutuk, menolak dan mencela komentar politisi India itu.

Negara-negara Teluk adalah tujuan utama bagi pekerja luar negeri India, terhitung 8,7 juta dari total 13,5 juta di seluruh dunia. Mereka juga importir besar produk dari India dan tempat lain. Kuwait mengimpor 95 persen makanannya menurut menteri perdagangan.

Pernyataan kontroversial itu menyusul meningkatnya kekerasan yang menargetkan minoritas Muslim India yang dilakukan oleh nasionalis Hindu. Ini telah dikuatkan oleh sikap diam Modi tentang serangan semacam itu sejak ia pertama kali terpilih pada tahun 2014.

Selama bertahun-tahun, Muslim India sering menjadi sasaran dalam segala hal, mulai dari gaya makanan dan pakaian mereka hingga pernikahan antaragama.  Kelompok hak asasi manusia seperti Human Rights Watch dan Amnesty International telah memperingatkan bahwa serangan dapat meningkat.

Mereka juga menuduh partai pemerintahan Narendra Modi melihat ke arah lain dan terkadang memungkinkan ujaran kebencian terhadap Muslim. 

Tercatat terdiri dari 14 persen dari 1,4 miliar penduduk India tetapi masih cukup banyak untuk menjadi populasi Muslim terbesar kedua di negara mana pun. Kendati begitu Partai Modi membantah tuduhan itu, tetapi Muslim India mengatakan serangan terhadap mereka dan keyakinan mereka meningkat tajam.

Ulama Minta Negara Islam Bersikap

Ulama Afrika, Syekh Muhammad al-Hassan Walid al-Didu al-Shanqiti menyerukan umat untuk menunjukkan sikap atas penghinaan pejabat India kepada Nabi Muhammad dan Ummul Mukminin Aisyah. Sikap ini jelas dikatakannya menjadi kewajiban atas penghinaan kepada Nabi dan Islam. 

"Kewajiban umat Islam terhadap orang-orang yang menghina Islam dan Nabinya yang mulia SAW, adalah memboikotnya secara politik dan ekonomi untuk mendukung Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslimin. Tidak ada kebaikan dalam hubungan diplomatik yang tidak menjaga harkat dan martabat bangsa,"kata Syekh al-Didu di Twitter, Ahad (5/6/2022).

Kepala pengembangan cendekiawan Muslim Afrika ini mengutip ayat Alquran terkait balasan Allah SWT atas orang-orang yang menghina Rasulullah. Karena itu, sebagai umat Nabi, setiap Muslim perlu mengambil sikap. 

"إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلْأَبْتَرُ (Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus), sebuah ayat abadi dari Kitab Allah yang berbicara tentang orang-orang yang berani menghina Rasulullah. Jadi tidak ada gunanya kita jika kita tidak mendukungnya dan memboikot orang-orang yang menyinggungnya sampai mereka menyadari kesalahan yang mereka lakukan dan meminta maaf," tambahnya. 

Syekh Hassan al-Didu mengutip surat Al Kautsar ayat tiga yang menjelaskan tentang orang-orang yang membenci Nabi. Dalam tafsir Al-Muyassar dijelaskan, "Sesungguhnya orang yang membencimu dan membenci apa yang kamu bawa, dari hidayah dan cahaya,adalah orang yang tidak meninggalkan jejak kebaikan, terputus dari segala kebaikan." 

Dalam tafsir as-Sa'di, Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan, “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, yaitu orang yang tidak suka, mencela dan menghinamu, “dialah yang terputus,” yakni terputus dari semua kebaikan, terputus amal dan reputasi (nama) baiknya. Sementara Muhammad adalah sosok yang benar-benar sempurna yang memiliki kesempurnaan yang membuat manusia mengagungkan sebutannya dan banyak penolong serta pengikutnya."

Mufti Besar Oman juga menyerukan boikot massal terhadap produk India di negara-negara Timur Tengah. Beberapa toko dilaporkan telah menarik produk India setelah kontroversi tersebut. Banyak pengguna kemudian mengaitkan kontroversi ini dengan Perdana Menteri Narendra Modi.

"Rencana yang kurang ajar dari juru bicara resmi untuk partai ekstremis yang berkuasa di India melawan Rasulullah SAW dan Ibu kaum beriman Aisyah RA adalah perang melawan setiap Muslim di Timur dan Barat bumi. Dan ini adalah masalah yang melibatkan semua Muslim untuk bangkit sebagai satu bangsa," tulis Mufti Besar Oman Syekh Al-Khalili di Twitter. 

Kemenlu RI Panggil Dubes India

Sementara Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemenku RI) memanggil Duta Besar India untuk RI terkait pernyataan juru bicara (Jubir) Partai Bharatiya Janata yang berkuasa di India, Nupur Sharma. Pada pertemuan itu Kemlu RI mengutuk keras pernyataan politikus India itu.

Jubir Kemlu RI, Teuku Faizasyah mengatakan Dubes India untuk RI Manoj Kumar Bharti diterima langsung oleh Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Abdul Kadir Jailani. Pertemuan digelar pada Senin (06/06/2022) sore.

"Memang Dirjen Aspasaf menerima Dubes India sore ini di Kemlu terkait komentar tersebut," kata Jubir Kemlu RI Teuku Faizasyah.

Faizasyah tidak menjelaskan lebih rinci isi pertemuan itu. Faizasyah kemudian mengungkap sikap Kemenlu terhadap pernyataan politikus India itu yang telah disampaikan melalui Twitter Kemlu.

"Indonesia mengutuk keras pernyataan yang merendahkan Nabi Muhammad SAW oleh dua orang politisi India. Pesan ini telah disampaikan kepada Duta Besar India di Jakarta," tulis Kemlu dalam akun Twitter resminya.

BJP merupakan partai berkuasa di India yang juga merupakan partai dari Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi. Seperti dilansir Times of India dan India Today, Senin (06/06/2022), komentar bernada menghina Nabi Muhammad yang dilontarkan Nupur Sharma, yang juga menjabat juru bicara BJP ini, telah memicu kerusuhan sarat kekerasan di Kanpur, Uttar Pradesh. 


 

Muhammad Salallaahu Alaihi Wassalam, lanjut Zakir Naik, adalah kekasih yang dicintai oleh lebih dari dua miliar Muslim di dunia dan dia juga dicintai oleh jutaan non-Muslim
Politisi India Hina Islam, Zakir Naik: Pagi Mereka Dimulai dengan Menghina Nabi Muhammad, Malam Menyebarkan Kebencian pada Quran!

Muhammad Salallaahu Alaihi Wassalam, lanjut Zakir Naik, adalah kekasih yang dicintai oleh lebih dari dua miliar Muslim di dunia dan dia juga dicintai oleh jutaan non-Muslim

Rayu | Rabu, 08 Juni 2022 - 14:05 WIB

Tokoh Islam dunia, Dr. Zakir Naik ikut berkomentar tentang fenomena Islamphobia di India pasca penghinaan yang dilakukan Juru Bicara Partai Bharatiya Janata (BJP) India, Nupur Sharma terhadap Nabi Muhammad Salallaahu Alaihi Wassalam dan Ummul Mukminin, Aisyah Radhiallaahuanha.

"Pagi mereka dimulai dengan menghina Nabi Muhammad Salallaahu Alaihi Wassalam dan malam mereka diakhiri dengan menyebarkan kebencian terhadap Quran," tulis Zakir Naik di akun media sosial pribadinya, Selasa (07/06/2022) yang dikutip bizlaw.id Rabu (08/06/2022).

Zakir Naik memang tidak menyebut siapa yang dia maksud, namun tokoh Islam asal India yang kini menetap di Malaysia tersebut secara tegas menunjukkan bahwa yang dia maksud adalah masyarakat India yang membenci Islam.

"Itulah hidup mereka dan begitulah cara mereka bersantai mencari ketenangan. Tujuan hidup mereka adalah untuk menyebarkan kebencian dan propaganda kekerasan," lanjur Zakir Naik penceramah yang kerap dianggap kontroversial.

 Muhammad Salallaahu Alaihi Wassalam, lanjut Zakir Naik, adalah kekasih yang dicintai oleh lebih dari dua miliar Muslim di dunia dan dia juga dicintai oleh jutaan non-Muslim. 

"Dialah yang menghadirkan perdamaian di Arab. Pembenci bisa melanjutkan kebenciannya, itu tidak akan mempengaruhi kecintaan kita terhadap Muhammad Salallaahu Alaihi Wassalam. Dia tetap akan menjadi makhluk terbaik Allaah Subhanahu Wataala. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam beserta keluarganya," pungkas Zakir Naik.

Sebagai informasi, Zakir Naik pindah ke Malaysia dari India pada tahun 2016. Di negara asalnya, ia masuk daftar buron terkait dugaan memicu ekstremisme dan pencucian uang. Namun, Zakir telah menyangkal tuduhan tersebut.

Pada tahun 2010, Zakir Naik yang membuat saluran Peace TV dan memiliki banyak pendukung di dunia, dilarang memasuki wilayah Inggris. Pada bulan Juli 2008, penceramah yang disebut radikal ini mengatakan bahwa serangkaian serangan 9/11 di Amerika Serikat (AS) dilakukan oleh 'orang dalam'.

Sebelumnya, Jubir BJP India, Nupur Sharma menghina Islam, Nabi Muhammad, dan mengolok-olok Alquran dalam acara debat di TV pada 26 Mei 2022 lalu.

Selama diskusi itu, Nupur Sharma diduga mengolok-olok Alquran dengan mengatakan 'Bumi itu datar'. Sharma bahkan mengolok Nabi Muhammad karena menikahi gadis yang masih kecil dan menyebut bahwa Nabi Muhammad sudah memperkosa Siti Aisyah. 

"Nabi Muhammad menikahi seorang gadis berusia enam tahun dan kemudian berhubungan dengannya pada usia sembilan tahun," ujar Sharma dalam sebuah video yang kini telah dihapus oleh saluran televisi tersebut.

Kelompok Muslim India merespons dengan menyerukan penangkapan terhadap politisi dari partai pendukung utama Perdana Menteri Narendra Modi tersebut.

Bahkan Gubernur Aceh, Nova Iriansyah meminta Duta Besar India untuk Indonesia Manoj Kumar Bharti yang sedang berkunjung ke provinsi tersebut untuk menghentikan kegiatannya terkait investasi
Buntut Ulah Jubir Partai BJP, Gubernur Nova Iriansyah Usir Dubes India dari Aceh!

Bahkan Gubernur Aceh, Nova Iriansyah meminta Duta Besar India untuk Indonesia Manoj Kumar Bharti yang sedang berkunjung ke provinsi tersebut untuk menghentikan kegiatannya terkait investasi

Rayu | Kamis, 09 Juni 2022 - 08:05 WIB

Akibat ulah Juru Bicara Partai Hindu Bharatiya Janata (BJP) Nupur Sharma yang menghina Nabi Muhammad Salallaahua Alaihi Wassalam, Ummul Mukminin Siti Aisyah, dan Islam berbuntut panjang. 

Bahkan Gubernur Aceh, Nova Iriansyah meminta Duta Besar India untuk Indonesia Manoj Kumar Bharti yang sedang berkunjung ke provinsi tersebut untuk menghentikan kegiatannya terkait investasi.

"Saya sudah minta Dinas Teknis dan Staf khusus untuk mengakhiri kegiatan Dubes India di Banda Aceh. Kita keberatan sekali terhadap pernyataan dua politisi India dari partai penguasanya," tulis Nova Iriansyah di akun Twitter resmi miliknya yang dikutip, Rabu (08/06/2022).

Nova mengatakan, sikap itu dilakukannya karena Aceh merupakan daerah yang menerapkan syariat Islam, sehingga pernyataan dua politisi di India itu juga melukai hati rakyatnya.

Sementara itu Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh, Marthunis menyebutkan kedatangan Dubes India ke Aceh untuk menghadiri forum bisnis. 

Menindaklanjuti pernyataan gubernur, pihaknya juga sudah memberi tahu kepada Dubes India untuk segera mengakhiri kegiatannya di Aceh.

"Tindak lanjut dari pernyataan Pak Gubernur adalah kami segera memberitahu pernyataan tersebut kepada Dubes India, mempersingkat dan mengakhiri acara formal yang melibatkan kegiatan duta besar," kata Marthunis.

Marthunis mengklaim Dubes India itu bisa memahami pernyataan gubernur dan langkah yang kemudian diambil pihaknya.

"Duta Besar, Manoj Kumar Bharti memahami dan memaklumi statement Bapak Gubernur," ucapnya.

Sebagai informasi, Nupur Sharma dan Naveen Kumar Jindal--kader partai berkuasa India,BJP--telah diskors dari parpol masing-masing. Polisi juga telah menahan pemimpin sayap pemuda partai BJP, Harshit Srivastava, karena mengunggah komentar anti-Muslim di media sosial.

Kementerian Luar Negeri Indonesia mengecam dua politikus India karena dilaporkan mengejek Nabi Muhammad Salallaahua Alaihi Wassalam, Senin (06/06/2022). 

Kementerian Luar Negeri mengaku juga telah menyampaikan pesan tersebut kepada Duta Besar India di Jakarta.

"Indonesia sangat mengecam pernyataan penghinaan yang tak dapat diterima terhadap Nabi Muhammad SAW oleh dua politisi India," demikian pernyataan Kemlu RI dalam Twitter mereka, Senin (06/06/2022).


 

Polisi di India utara menangkap seorang pemimpin pemuda BJP karena mengunggah komentar anti Muslim di media sosial, bersama dengan 50 orang lainnya yang ambil bagian dalam kerusuhan sporadis di kalangan minoritas Muslim di beberapa bagian India atas pernyataan Nupur Sharma
Akibat Ulah Rasis Nupur Sharma, Gerilyawan Islam Akan Balas Dendam, India Mencekam, Keamanan Diperketat!

Polisi di India utara menangkap seorang pemimpin pemuda BJP karena mengunggah komentar anti Muslim di media sosial, bersama dengan 50 orang lainnya yang ambil bagian dalam kerusuhan sporadis di kalangan minoritas Muslim di beberapa bagian India atas pernyataan Nupur Sharma

Rayu | Kamis, 09 Juni 2022 - 06:05 WIB

Otoritas India memperketat keamanan publik setelah beredarnya surat peringatan serangan gerilyawan Islam untuk membalas pernyataan yang menghina Nabi Muhammad Salallaahua Alaihi Wassalam oleh Juru Bicara Partai Hindu Bharatiya Janata (BJP), Nupur Sharma.

Beberapa kelompok media India membagikan surat yang dikaitkan dengan cabang Al Qaeda di anak benua India (AQIS), yang berisi ancaman bom bunuh diri di negara-negara bagian India untuk membela kehormatan Nabi Muhammad Salallaahua Alaihi Wassalam yang telah dihina Nupur Sharma dalam sebuah debat di sebuah program televisi. 

Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri India mengatakan, badan-badan intelijen sedang memeriksa keaslian ancaman yang dikeluarkan oleh AQIS tersebut.

"Kami juga telah memerintahkan polisi negara bagian untuk memastikan pertemuan publik atau unjuk rasa tidak diperbolehkan karena dapat menjadi sasaran kelompok militan," kata seorang pejabat senior Kementerian Dalam Negeri di New Delhi, Rabu (08/06/2022). 

Ancaman keamanan muncul beberapa hari setelah Nupur Sharma dari Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Perdana Menteri, Narendra Modi berkomentar tentang Nabi Muhammad Salallaahua Alaihi Wassalam . 

Pernyataan Nupur Sharma memicu kegemparan di antara Muslim di India dan memicu protes diplomatik dari negara-negara Islam yang menuntut permintaan maaf dari pemerintah India.

Sementara Nupur Sharma sendiri telah diskors dari partai, sementara juru bicara lain yaitu Naveen Kumar Jindal dikeluarkan karena komentarnya tentang Islam di media sosial. 

Polisi di India utara menangkap seorang pemimpin pemuda BJP karena mengunggah komentar anti Muslim di media sosial, bersama dengan 50 orang lainnya yang ambil bagian dalam kerusuhan sporadis di kalangan minoritas Muslim di beberapa bagian India atas pernyataan Nupur Sharma.

Pada Senin (06/06/2022), Kementerian Luar Negeri India mengatakan, cuitan dan komentar menghina sama sekali tidak mencerminkan pandangan pemerintah. Instruksi telah dikeluarkan kepada beberapa anggota senior BJP untuk 'sangat berhati-hati' ketika berbicara tentang agama di ruang publik. 

Sejumlah pemimpin dari negara Islam termasuk Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Iran, dan Afghanistan menuntut permintaan maaf dari India dan memanggil diplomat untuk memprotes pernyataan anti Islam tersebut. 

Sebanyak 57 anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang berpengaruh mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penghinaan itu datang dalam konteks suasana kebencian yang semakin intens terhadap Islam di India dan pelecehan sistematis terhadap umat Islam. 

Muslim minoritas India telah merasakan lebih banyak tekanan dalam berbagai hal mulai dari kebebasan beribadah hingga jilbab di bawah pemerintahan BJP. Baru-baru ini juga terjadi bentrokan antara umat Hindu dan Muslim selama prosesi keagamaan, menyusul kerusuhan mematikan pada 2019 dan 2020. 

Kontroversi baru telah menjadi tantangan diplomatik bagi Modi yang dalam beberapa tahun terakhir telah mempererat hubungan kuat dengan negara-negara Islam yang kaya energi. 

Kelompok hak asasi Islam di India mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya para pemimpin asing yang berpengaruh berbicara untuk menentang apa yang mereka sebut penghinaan yang dialami oleh kelompok minoritas. 

"Suara kami akhirnya didengar, hanya para pemimpin dunia yang dapat mendorong pemerintah Modi dan partainya untuk mengubah sikap mereka terhadap Muslim," kata Ali Asghar Mohammed, yang menjalankan kelompok hak sukarela untuk Muslim di ibu kota komersial India, Mumbai. 

Kelompok Muslim India merespons dengan menyerukan penangkapan juru bicara dari partai Perdana Menteri Narendra Modi itu.
Nupur Sharma, Jubir Partai Berkuasa di India yang Menghina Alquran dan Nabi Muhammad SAW

Kelompok Muslim India merespons dengan menyerukan penangkapan juru bicara dari partai Perdana Menteri Narendra Modi itu.

Ind | Senin, 06 Juni 2022 - 13:40 WIB

Juru bicara Partai Bharatiya Janata (BJP) India, Nupur Sharma, tengah menjadi sorotan dunia. Ia menghina Islam, Nabi Muhammad dan mengolok-olok Alquran dalam acara debat di TV pada Mei lalu.

Selama diskusi pada 26 Mei lalu, Nupur Sharma diduga mengolok-olok Alquran dengan mengatakan ‘Bumi itu datar’. Sharma bahkan mengolok Nabi Muhammad karena menikahi gadis yang masih kecil. 

"Nabi Muhammad menikahi seorang gadis berusia enam tahun dan kemudian berhubungan dengannya pada usia sembilan tahun," ujar Sharma dalam sebuah video yang kini telah dihapus oleh saluran televisi tersebut.

Kelompok Muslim India merespons dengan menyerukan penangkapan juru bicara dari partai Perdana Menteri Narendra Modi itu.

Organisasi pendidikan dan budaya Islam, Raza Academy mengatakan, pihaknya mendatangi Komisaris Polisi Mumbai pada Sabtu. Mereka menuntut penangkapan terhadap Sharma atas pernyataan menghinanya terhadap Nabi umat muslim.

"Komisaris Polisi yang Terhormat segera memerintahkan kantor Polisi Pydhonie untuk mengajukan Laporan Informasi Pertama (FIR) di bawah Bagian 295A KUHP India, 153A aur 505B terhadapnya di bawah bagian ketat yang diajukan larut malam hari ini," Raza Academy memposting di media sosial, dilansir dari Sputnik News, Senin (06/06).

Sementara Bagian 295A dari hukum India menyangkut dirinya sendiri dengan sentimen agama yang keterlaluan, Bagian 153A berurusan dengan orang-orang yang dituduh mempromosikan permusuhan di antara kelompok atau komunitas agama yang berbeda. 

Bagian 505B dari IPC mendakwa orang-orang yang dituduh menghasut pelanggaran terhadap keadaan ketenangan masyarakat.

Dalam pengaduan yang diajukan ke Kantor Polisi Ambajogai di negara bagian Maharashtra, Partai Tipu Sultan (TSP) mengklaim komentar Nupur Sharma berpotensi menimbulkan kerusuhan di masyarakat.

"Tindakan Nupur Sharma mempromosikan perasaan permusuhan, kebencian atau niat buruk antara kelompok atau komunitas agama dan regional yang berbeda, menyebabkan kerusuhan dan gangguan sipil," tulis pengaduan tersebut.

TSP bahkan menganggap, ujaran dari juru bicara partai BJP tersebut sebagai ancaman internal terhadap perdamaian dan harmoni negara. Sharma juga menghadapi kemarahan dan kecaman dari komunitas Muslim India atas pernyataan kontroversialnya.

Salah satunya dari anggota parlemen negara bagian dari Uttar Pradesh, Mukhtar Ansari, yang meminta pihak berwenang segera mengambil tindakan tegas terhadap Sharma.

"Penyebar kebencian ini harus berada di balik jeruji besi," ujar Sadaf Jafar, seorang politikus dari partai oposisi federal Kongres.

Jafar juga menolak argumen Sharma yang mengatakan bahwa video pernyataannya yang beredar di media sosial telah diedit secara besar-besaran oleh Mohammed Zubair, salah satu pendiri situs pemeriksa fakta Alt News.

Zubair adalah salah satu orang pertama yang memposting kliping pernyataan kontroversial Sharma dan menuntut penangkapannya.

Setelah posting Zubair, Sharma mengklaim dia mulai menerima ancaman pembunuhan dan pemerkosaan, termasuk ancaman pemenggalan kepala.

Sharma lebih lanjut menuduh Zubair menciptakan narasi palsu dan menghasut gairah komunal. Zubair menolak tuduhan dia mengedit video tersebut.

Belakangan, Sharma sudah menyampaikan klarifikasi terkait pernyataannya itu. Ia mengatakan, pernyataannya merupakan tanggapan atas komentar yang disampaikan terhadap dewa Hindu. Ia juga menekankan, tidak ada niat untuk menghina dan menyakiti agama apa pun.

"Jika kata-kata saya telah menyebabkan ketidaknyamanan atau menyakiti perasaan keagamaan siapa pun, saya dengan ini menarik pernyataan saya tanpa syarat," kata Sharma dalam pernyataannya di Twitter.

Selain itu, Sharma telah mendapat sanksi dari BJP. Statusnya sebagai jubir ditangguhkan hingga batas waktu tidak ditentukan.