Beberapa anak juga dilaporkan membutuhkan transplantasi hati. Pasien tersebut berusia antara 1 bulan hingga 16 tahun
WHO Laporkan 228 Anak di Dunia Terjangkit Hepatitis Misterius, Beberapa Butuh Transplantasi Hati!

Beberapa anak juga dilaporkan membutuhkan transplantasi hati. Pasien tersebut berusia antara 1 bulan hingga 16 tahun

Rayu | Sabtu, 07 Mei 2022 - 18:25 WIB

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) melaporkan, setidaknya ada 228 anak di dunia yang diduga terjangkit kasus infeksi hepatitis misterius. Atas dasar itu, Tim WHO kini sedang menyelidiki kasus tersebut.

"Pada 1 Mei, setidaknya 228 kasus yang dilaporkan ke WHO dari 20 negara, dengan lebih dari 50 kasus tambahan sedang diselidiki," kata Juru Bicara WHO, Tarik Jasarevic dalam jumpa pers di Jenewa, dikutip dari Reuters, Jumat (06/05/2022).

Otoritas kesehatan di seluruh dunia sedang menyelidiki peningkatan misterius dalam kasus hepatitis parah, radang hati pada anak kecil yang telah mengakibatkan setidaknya beberapa pasien meninggal dunia.

Beberapa anak juga dilaporkan membutuhkan transplantasi hati. Pasien tersebut berusia antara 1 bulan hingga 16 tahun.

Penyakit ini disebut hepatitis yang tidak diketahui asalnya. Kasus-kasus tersebut tidak memiliki hubungan yang diketahui dengan tipe hepatitis sebelumnya, meskipun hubungan dengan adenovirus yang dapat menyebabkan pilek sedang diselidiki sebagai kemungkinan penyebabnya.

Sementara di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah melaporkan tiga anak berusia 2, 8, dan 11 tahun meninggal akibat hepatitis akut misterius tersebut.

Menurut dia, khususnya anak yang terkena hepatitis misterius sebagian besar tidak menerima vaksin COVID-19
Pakar Tegaskan, Vaksin COVID-19 Bukan Penyebab Hepatitis Misterius!

Menurut dia, khususnya anak yang terkena hepatitis misterius sebagian besar tidak menerima vaksin COVID-19

Rayu | Jumat, 13 Mei 2022 - 06:05 WIB

Sampai sekarang, apa yang menjadi penyebab hepatitis akut misterius menyerang anak-anak di sejumlah negara termasuk RI belum juga terungkap. Salah satu dugaan yang beredar, penyakit misterius ini berkaitan dengan efek vaksin Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

Akan tetapi, hal itu dibantah oleh Spesialis Mikrobiologi Klinik Konsultan dari Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr dr Budiman Bela, SpMK (K), yang menyebutkan bahwa hal tersebut tak benar lantaran sebagian besar pasien hepatitis misterius adalah anak berusia lima tahun ke bawah yang belum bisa divaksin COVID-19.

"Sampai saat ini kita melihat bahwa kasus hepatitis akut dengan gejala berat yang tidak diketahui penyebabnya ini tidak berhubungan dengan vaksin COVID-19," tegas Budiman Bela dalam webinar 'Kesehatan Infeksi Emerging: Hepatitis Akut Berat yang Belum Diketahui Penyebabnya', Kamis (12/05/2022).

Menurut dia, khususnya anak yang terkena hepatitis misterius sebagian besar tidak menerima vaksin COVID-19. 

"Usianya sebagian besar di bawah lima tahun, dan ini tidak memenuhi persyaratan untuk vaksin COVID-19, jadi tidak eligible," tegasnya.

Terdapat juga dugaan bahwa penyakit misterius ini disebabkan oleh adenovirus strain 41. Mengingat sejumlah vaksin COVID-19 yakni Johnson & Johnson dan AstraZeneca berbasis adenovirus, dr Budiman meluruskan kedua vaksin tersebut menggunakan jenis adenovirus berbeda dengan strain 41.

"Adenovirus yang dikaitkan dengan sebagian besar kasus hepatitis berat dengan penyebab tidak diketahui ini adalah adenovirus tipe 41 dan ini berbeda dari vektor adenovirus yang digunakan dalam beberapa vaksin COVID-19 yaitu Johnson & Johnson merupakan adenovirus tipe 26 dan AstraZeneca berbasis ChAdox1," pungkas Budiman Bela.
 

Kementerian Kesehatan saat ini tengah melakukan koordinasi dan diskusi dengan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) dan beberapa negara di Eropa untuk mencari tahu penyebab penyakit misterius tersebut.
Menkes: Terdeteksi 15 kasus Hepatitis Akut Misterius di Indonesia

Kementerian Kesehatan saat ini tengah melakukan koordinasi dan diskusi dengan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) dan beberapa negara di Eropa untuk mencari tahu penyebab penyakit misterius tersebut.

Rayu | Rabu, 11 Mei 2022 - 11:05 WIB

Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mencatat 15 kasus hepatisis akut misterius di temukan di Indonesia. Kasus tersebut ditemukan sejak 27 April 2022.

"Tanggal 27 April, Indonesia menemukan tiga kasus di Jakarta dan kita keluarkan edaran agar semua rumah sakit dan dinsos melakukan surveillance. Sampai sekarang di Indonesia ada 15 kasus," kata Budi dalam keterangan resmi, Senin (09/05/2022).

Kementerian Kesehatan saat ini tengah melakukan koordinasi dan diskusi dengan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) dan beberapa negara di Eropa untuk mencari tahu penyebab penyakit misterius tersebut. 

"Kesimpulannya belum bisa dipastikan virus apa yang 100 persen menyebabkan adanya hepatitis akut ini. Penelitian dilakukan bersama-sama agar bisa dideteksi cepat penyakit ini. Kemungkinan besar adalah Adenovirus 41 tapi ada juga banyak kasus yang tak ada Adenovirus 41 ini. Masih dicari penyebabnya" urainya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy menunjuk Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara, sebagai fasilitas kesehatan rujukan untuk kasus infeksi hepatitis akut misterius.

Muhadjir sekaligus memastikan seluruh biaya penanganan rumah sakit terhadap pasien anak bergejala Ichterus (penyakit kuning) dan Hepatitis akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Hal itu lantaran kasus hepatitis misterius sejauh ini menunjukkan gejala mirip penyakit kuning.

Muhadjir juga menginstruksikan agar pasien hepatitis maupun gejala kuning segera dirujuk ke fasilitas rumah sakit tipe A untuk percepatan penanganan. Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa gejala kuning pada area mata maupun badan serta kondisi pasien hilang sadar merupakan gejala yang timbul saat penyakit hepatitis sudah berat.
 

Dikonfirmasi terpisah, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan kemungkinan hepatitis akut menjadi pandemi perlu melalui kajian pendahuluan WHO
Kabar Buruk, Ditemukan 21 Kasus di Jakarta! Kabar Baik, Hepatitis Misterius tidak Berpeluang Jadi Pandemi!

Dikonfirmasi terpisah, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan kemungkinan hepatitis akut menjadi pandemi perlu melalui kajian pendahuluan WHO

Rayu | Kamis, 12 Mei 2022 - 06:05 WIB

Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenekes) dr Siti Nadia Tarmizi menyampaikan penyakit hepatitis akut misterius yang belakangan membuat heboh tidak berpeluang menjadi pandemi. Sebab, kata dia, sebaran kasus hepatitis akut secara global bergerak lambat. 

"Sampai saat ini hanya enam negara yang melaporkan hepatitis akut dengan jumlah kasus lebih dari enam pasien," kata Siti Nadia, Rabu (11/05/2022).

Lebih jauh Siti Nadia mengatakan, seluruh kasus tersebut bersifat "probable" hepatitis akut misterius. 

"Sementara total kasus probable hepatitis akut secara global berjumlah 348 dengan 70 kasus tambahan yang masih dalam penyelidikan," sebutnya.

Dikonfirmasi terpisah, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan kemungkinan hepatitis akut menjadi pandemi perlu melalui kajian pendahuluan WHO.

"Tentang kemungkinan penyakit apapun jadi pandemi, maka akan melalui proses ditentukan dulu sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC)," jelasnya. 

Dia mengatakan PHEIC akan mengukur sejumlah barometer status pandemi, di antaranya sebaran penyakit lintas benua, menimbulkan masalah kesehatan yang berarti serta merupakan jenis penyakit yang baru.

"Lalu sesudah itu dilihat lagi perkembangannya, kalau terus meluas maka baru akan disebut pandemi," kata Prof Tjandra.

Jika melihat pengalaman COVID-19, kata dia, pertama kali dilaporkan WHO pada 5 Januari 2020, dinyatakan PHEIC 31 Januari 2020 dan pandemi pada 11 Maret 2020. Terkait kasus dugaan hepatitis akut di Indonesia, ia mengatakan perlu dijelaskan apakah kasus itu termasuk klasifikasi WHO "probable", "epi-linked" atau masih "pending" yang memerlukan investigasi lebih lanjut. 

"Setidaknya akan baik kalau disebutkan bagaimana hasil pemeriksaan virus hepatitis A sampai E pada 15 kasus itu," jelasnya. 

Dia juga mendorong hasil tes laboratorium terkait kemungkinan adanya virus lain, seperti SARS-COV-2, Adenovirus, Epstein Barr dan lainnya, atau mungkin juga toksin dan ada tidaknya autoimun. 

"Kalau memang sudah ada 15 kasus, tentu sudah dilakukan penyelidikan epidemiologis mendalam sehingga pola penularan dapat mulai diidentifikasi, baik antarkasus maupun juga dengan lingkungan dan lainnya," pungkasnya. 

Di Jakarta Capai 21 Kasus, Termasuk Orang Dewasa

Terpisah, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria (Ariza) mengatakan, jumlah orang yang terjangkit hepatitis akut misterius mengalami penambahan. Saat ini, sudah ada 21 kasus hepatitis akut di Jakarta.

Ariza mengatakan, pihaknya melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dari 21 kasus tersebut, diketahui tiga anak meninggal dunia.

"Seperti yang disampaikan kemarin data sementara ada 21 kasus yang diduga terkait hepatitis akut. Namun demikian ini masih dalam proses penyelidikan epidemiologi," ujar Ariza di Balai Kota Jakarta, Rabu (11/05/2022).

Ariza menyebut, rentang usia pasien hepatitis akut misterius tersebut beragam. Bahkan, ada juga orang dewasa yang terpapar.

"Yang harus diketahui ternyata hepatitis akut ini tidak hanya untuk anak-anak bahkan juga orang dewasa," jelasnya.

Karena itu, Ariza meminta agar masyarakat tetap waspada dengan merebaknya hepatitis akut misterius itu. Protokol kesehatan seperti yang sudah diterapkan selama masa pandemi masih harus dijalankan secara disiplin.

"Tetap laksanakan prokes sekalipun pandemi sudah menurun gejalanya sudah berkurang dan sebagainya, tetap laksanakan protokol kesehatan," ucapnya.

Selain itu, bagi anak-anak yang dianggap lebih rentan terpapar juga diminta waspada.

Para orangtua diminta menghindari fasilitas umum yang digunakan secara bersama-sama seperti kolam renang, taman bermain, dan sejenisnya.

"Tempat atau benda-benda yang digunakan bersama itu tolong dihindari termasuk makan, ke tempat makan bersama juga dihindari," pungkas Ariza.

Kemenkes sudah tingkatkan kesiagaan dalam dua minggu paling akhir sesudah Tubuh Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan Peristiwa Luar Biasa (KLB) pada kasus hepatitis kronis.
Kemenkes Keluarkan SE Siaga Kasus Hepatitis

Kemenkes sudah tingkatkan kesiagaan dalam dua minggu paling akhir sesudah Tubuh Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan Peristiwa Luar Biasa (KLB) pada kasus hepatitis kronis.

Nissa | Kamis, 05 Mei 2022 - 17:23 WIB

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) keluarkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/C/2515/2022 mengenai Kesiagaan pada Penemuan Kasus Hepatitis Kronis yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology).

Dikutip dariSetkab.go.id, SE itu ditandatangani oleh Direktur Jenderal Penangkalan dan Pengaturan Penyakit Maxi Rein Rondonuwu di tanggal 27 April 2022.

"Surat Selebaran ini ditujukan untuk tingkatkan support pemda, sarana pelayanan kesehatan, Kantor Kesehatan Dermaga, sumber daya manusia kesehatan, dan beberapa penopang kebutuhan berkaitan kesiagaan awal penemuan kasus Hepatitis Kronis yang Tidak Dijumpai Etiologinya," isi pada surat selebaran yang dilihat Harian Terbit, Kamis (5/5/2022).

Dalam surat selebaran itu Kemenkes minta dinas kesehatan propinsi dan kabupaten/kota, Kantor Kesehatan Dermaga (KKP), laboratorium kesehatan warga, dan rumah sakit diantaranya untuk mengawasi dan memberikan laporan kasus sindrom penyakit kuning kronis di Mekanisme Kesiagaan Awal dan Tanggapan (SKDR).

Tanda-tandanya diikuti dengan kulit dan sklera warna ikterik atau kuning dan urin warna gelap yang muncul secara tiba-tiba dan memberi Komunikasi, Info, dan pembelajaran ke warga dan usaha penangkalannya lewat implementasi Sikap Hidup Bersih dan Sehat.

Kemenkes minta faksi berkaitan untuk memberitahukan ke warga untuk selekasnya berkunjung sarana service kesehatan paling dekat jika alami sindrom penyakit kuning, dan membuat dan perkuat jaringan kerja surveylans dengan lintasi program dan lintasi bidang.

Dinas Kesehatan, KKP, dan Rumah Sakit diperintah selekasnya memberi pemberitahuan/laporan jika terjadi kenaikan kasus sindrom jaundice kronis atau mendapati kasus sama sesuai pengertian operasional ke Dirjen P2P lewat Public Health Emergensi Operation Centre lewat Telephone/WhatsApp 0877-7759-1097 atau surat elektroknik [email protected]

Juru Berbicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi sampaikan jika Kemenkes sudah tingkatkan kesiagaan dalam dua minggu paling akhir sesudah Tubuh Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan Peristiwa Luar Biasa (KLB) pada kasus hepatitis kronis yang serang anak-anak di Eropa, Amerika, dan Asia, dan belumlah diketahui pemicunya semenjak 15 April 2022.

"Kami kerjakan pengokohan surveylans lewat lintasi program dan lintasi bidang, agar selekasnya dilaksanakan perlakuan jika diketemukan kasus sindrom jaundice kronis atau yang mempunyai beberapa ciri seperti tanda-tanda hepatitis," sebut Nadia, diambil dari situs sah Kemenkes, Kamis (5/5/2022).

Kesiagaan itu bertambah sesudah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta dengan sangkaan hepatitis kronis yang belum dijumpai pemicunya wafat, dalam waktu yang lain dengan bentang dua pekan terakhir sampai 30 April 2022.

Ke-3 pasien ini sebagai referensi dari rumah sakit yang ada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Tanda-tanda yang diketemukan pada beberapa pasien ini ialah mual, muntah, diare berat, demam, kuning, kejang dan pengurangan kesadaran.

Nadia memperjelas, Kemenkes lakukan interograsi pemicu peristiwa hepatitis kronis ini lewat pengecekan panel virus selengkapnya. Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta melakukan penyidikan pandemiologi selanjutnya

"Selama saat interograsi, kami menghimbau warga untuk waspada dan masih tetap tenang. Bertindak penangkalan seperti membersihkan tangan, pastikan makanan pada kondisi masak dan bersih, tidak berganti-gantian alat makan, menghindar contact sama orang sakit dan masih tetap melakukan prosedur kesehatan," tutur Nadia.

Nadia minta, bila ada anak-anak yang mempunyai tanda-tanda kuning, sakit di perut, muntah-muntah dan diare tiba-tiba, buang air kecil warna teh tua, bab warna pucat, kejang, pengurangan kesadaran supaya selekasnya dibawa ke fasyankes paling dekat.

Untuk dipahami, WHO pertama kalinya terima laporan pada 5 April 2022 dari Inggris Raya berkenaan sepuluh kasus hepatitis kronis yang tidak dikenali etiologinya pada anak-anak umur 11 bulan-5 tahun pada masa Januari sampai Maret 2022 di Skotlandia tengah. Sejak dengan cara resmi dipublikasi sebagai KLB oleh WHO, jumlah laporan semakin bertambah. Terdaftar lebih dari 170 kasus disampaikan oleh lebih dari 12 negara

Range kasus terjadi pada anak umur 1 bulan s/d 16 tahun. Tujuh belas anak salah satunya atau 10 % membutuhkan transplantasi hati dan satu kasus disampaikan wafat. Tanda-tanda medis pada kasus yang terdeteksi ialah hepatitis kronis dengan kenaikan enzim hati, sindrom jaundice (penyakit kuning) kronis, dan tanda-tanda gastrointestinal (ngilu abdomen, diare, dan muntah-muntah). Mayoritas kasus tidak diketemukan ada tanda-tanda demam.

Pemicu dari penyakit itu belum juga dijumpai. Adapun pengecekan laboratorium di luar negeri sudah dilaksanakan dan virus hepatitis type A, B, C, D dan E tidak diketemukan sebagai pemicu dari penyakit itu.

Adenovirus teridentifikasi pada 74 kasus dil luar negeri yang sesudah dilaksanakan test molekuler, terdeteksi sebagai F tipe 41. SARS-CoV-2 diketemukan pada 20 kasus, dan 19 kasus teridentifikasi ada ko-infeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus.

Meski Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah melaporkan tiga kasus kematian anak terkait hepatitis akut, namun hal tersebut masih dikonfirmasi lebih dalam. Walau memang di negara lain, kasusnya terkonfirmasi terus bertambah
Hepatitis Misterius Merebak, Ada Kemungkinan PTM Ditunda Lagi!

Meski Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah melaporkan tiga kasus kematian anak terkait hepatitis akut, namun hal tersebut masih dikonfirmasi lebih dalam. Walau memang di negara lain, kasusnya terkonfirmasi terus bertambah

Rayu | Sabtu, 07 Mei 2022 - 15:25 WIB

Pemerintah bersama-sama pemerintah daerah sudah memberlakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara bertahap sejak dua bulan yang lalu menyusul kondisi pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 yang berangsur membaik. 

Akan tetapi, siapa yang menyangka, ada penyakit misterius lain muncul dan sedang menyebar di dunia, yaitu hepatitis akut yang memicu kematian. Di Jakarta sudah tercatat tiga kasus hepatitis misterius yang merenggut tiga balita.

Ketua UKK Gastro-Hepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Muzal Kazim SpA(K), menuturkan, hingga saat ini pihaknya masih memantau perkembangan hepatitis misterius tersebut. 

Meski Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah melaporkan tiga kasus kematian anak terkait hepatitis akut, namun hal tersebut masih dikonfirmasi lebih dalam. Walau memang di negara lain, kasusnya terkonfirmasi terus bertambah.

"Sampai saat ini belum ada keputusan IDAI dalam PTM. Kita masih investigasi. Apakah benar-benar masuk ke indonesia atau itu kasus-kasus sporadis. Kita belum memutuskan itu (PTM)," ujarnya dalam temu media virtual, Sabtu (07/05/2022).

Diakui dokter Muzal, jika kasusnya memang terkonfirmasi dan meningkat, tak menutup kemungkinan PTM akan ditunda lagi. IDAI sendiri sejauh ini sudah membuat protokol kesehatan yang fokus pada tenaga kesehatan di tiap fasilitas kesehatan di Indonesia.  

"Bisa saja berpotensi meningkat kasusnya. Ini masih perkembangan terus menerus. Kebijaksanaan akan berubah setiap saat. Bisa saja PTM ditunda," jelasnya. 

Dijelaskan dokter Muzal, penyakit hepatitis ini pada dasarnya belum diketahui penyebabnya, meski diduga kuat adalah adenovirus. Menurutnya, adenovirus sebenarnya adalah virus yang sebabkan diare dan kerap ditemukan pada anak.

Biasanya, adenovirus yang ditemui hanya menimbulkan gejala ringan berupa diare ringan, sakit perut dan muntah yang sebentar serta demam ringan. 
Sifatnya sendiri serupa dengan virus rotavirus yang memicu diare atau dikenal dengan mencret atau muntaber pada anak. Dokter Muzal menyarankan agar melakukan isolasi kontak jika anak terjangkit diare. 

"Karena penyebabnya sebagian besar di saluran pencernaan, sebaiknya isolasi. Terutama isolasi kontak. Bukan isolasi seperti COVID. Tapi kontak lebih ke diri sendiri supaya kontak lewat tangan, alat makan yang berkaitan dengan fekal-oral. Di rs pun akan isolasi yang prinsipnya untuk cegah penularan langsung," jelasnya.