Era Baru Batubara Kita

"Kalau hanya sekedar gali dan jual, orang tak sekolahan juga bisa," kata Jonan

YUSWARDI A SUUD | Selasa, 05 Maret 2019 - 13:24 WIB

TIGA  menteri berkumpul di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, pada Minggu, 3 Maret 2019. Mereka adalah Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Ketiganya berkumpul di sana untuk mencanangkan pembangunan industri hilirisasi batubara oleh PT Bukit Asam Tbk, perusahaan plat merah yang bergerak di industri tambang batubara.

Ada tiga BUMN yang terlibat di sana. Selain PT Bukit Asam, ada juga PT Pertamina dan dan PT Pupuk Swirijaya. Mereka menggandeng  perusahaan swasta Chandra Asri Petrochemical Tbk untuk hilirisasi batubara.   

Nantinya ada empat pabrik yang akan dibangun di kawasan seluas 300 hektare di kawasan ekonomi khusus PTA di Tanjung Enim.

Pertama pabrik gasifikasi batubara yang mengubah batubara kalori rendah menjadi gas sintetik (syngas). Tiga pabrik lainnya akan mengubah syngas menjadi dimethyl ether (dme) untuk pengganti elpiji bekerja sama dengan PT Pertamina.

Lalu, pabrik pengolahan syngas menjadi urea untuk menghasilkan pupuk berkerja sama dengan PT Pupuk Sriwijaya, dan pabrik pengolahan syngas menjadi polypropylene sebagai bahan baku plastik bekerja sama dengan perusahaan swasta Chandra Asri Petrochemical

Sebelumnya, pada 7 Februari lalu, PT Bukit Asam telah mencanangkan hal serupa di Riau. Di sana, perusahaan dengan kode emiten PTBA itu menggandeng PT Pertamina dan perusahaan Amerika Air Products and Chemicals Inc untuk mengubah batubara berkalori rendah menjadi dimethyl ether di tambang Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau.

Air Products and Chemicals Inc dinilai punya teknologi mumpuni untuk mengubah batubara menjadi gas sintetik (syngas), lalu diproses lagi menjadi dimethyl ether sebagai pengganti gas elpiji. Sebelumnya, kedua pihak telah meneken kerjasama di Allentown, Amerika Serikat pada 7 November 2018.  
 
Untuk tambang Peranap, pembangunan pabrik akan dimulai pada 2020 dan direncanakan beroperasi tahun 2022.

Menteri Jonan tampak sumringah dengan pencanangan itu. Maklum, sudah lama ia mendorong perusahan tambang agar masuk ke industri hilirisasi. Tak hanya menggali dan menjual, tapi mengubahnya menjadi produk turunan yang punya nilai tambah.

"Kalau hanya sekedar menggali dan jual, orang tak sekolahan juga bisa," kata Jonan di lain waktu.

Yang terjadi selama ini, mayoritas perusahaan tambang di Indonesia masih sekedar menggali, lalu barang tambang dikirim keluar negeri mentah-mentah.

"Jika cuma gali, tidak perlu ada Arviyan (Dirut PTBA) yang pintar, cukup anak buah saya saja," kata Ignasius saat menyampaikan sambutannya.

Sekedar informasi, PT Bukit Asam baru memutuskan hilirisasi setelah 100 tahun beroperasi menggali batu bara di kawasan Tanjung Enim.

Menurut Jonan, seharusnya hal itu sudah dilakukan sejak dulu. Namun, lantaran PTBA terlalu khawatir untuk menjadi pelopor, hal itu baru bisa dilakukan sekarang.

"Jika banyak khawatirnya maka tidak akan jadi," kata Jonan.

Kata Jonan, untuk produk  dimethyl ether  saja, akan dapat mengurangi impor elpiji setidaknya sekitar 1 juta ton pada tahun pertama.  Selama ini, setiap tahun negara mengeluarkan sekitar Rp40 triliun hingga Rp50 triliun untuk mendapatkan 4,5-4,7 juta ton elpiji.

Begitu pula dengan impor bahan kimia yang tergolong masih tinggi seperti plastik dan bahan plastik mencapai 94,4 juta dolar AS pada Januari 2019.

"Ini sangat mungkin karena deposit tambang batubara ini untuk lapisan 1 (B1) ada 4 miliar ton, dan B2 mencapai 6 miliar ton, ini artinya bisa bertahan hingga 250 tahun ke depan," Jonan.

Direktur PTBA Arviyan Arifin bilang, hilirisasi akan memberi dampak terhadap perekonomian nasional dengan berkurangnya impor terhadap produk yang dihasilkan, seperti LPG dan naphtha. Serta memproduksi pupuk urea dengan ongkos produksi yang diharapkan lebih efisien.

“Kami ingin menciptakan nilai tambah, mentransformasi batu bara menjadi ke arah hilir dengan teknologi gasifikasi,  menciptakan produk akhir yang memiliki kesempatan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan sekadar produk batu bara. Dengan demikian, hal ini diharapkan akan semakin menguntungkan perusahaan,” ujar Arviyan Arifin.

Menteri Perindustrian Airlangga juga menyampaikan hal senada. Hilirisasi batubara, kata Airlangga, perlu terus didorong untuk menekan laju impor.

“Sektor industri inilah yang sekarang diperlukan sesuai dengan arahan Presiden, karena merupakan substitusi impor dan dapat memperkuat cadangan devisa kita. Maka itu, klaster Tanjung Enim dengan luas 300 hektare ini akan menjadi kawasan industri baru yang terintegrasi,” kata Airlangga.

Pembangunan pabrik pengolahan gasifikasi batubara yang nilai investasinya diperkirakan mencapai USD1,2 miliar dan menciptakan lapangan kerja sebanyak 1.400 orang ini akan mulai beroperasi pada November tahun 2022.

“Produksinya nanti dapat memenuhi kebutuhan sebesar 500 ribu ton urea per tahun, 400 ribu ton DME per tahun, dan 450 ton polypropylene per tahun,” ungkap Airlangga.


Data Produksi

Sumatera Selatan, tempat pencanangan hilirisasi dilakukan adalah salah satu kantung batubara terbesar di Indonesia. Dua tempat lainnya adalah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Pada 2017, produksi batubara sebanyak 461 juta ton, naik 1 persen dibanding tahun sebelumnya.  

Sebagian besar produksi batubara masih untuk pasar ekspor yang diperkirakan antara 70 - 80 persen dari total produksi.  Namun, disesuaikan juga untuk kebutuhan dalam negeri, terutama menjamin ketersediaan pasokan untuk pembangkit listrik.

Pada 2017, pemanfaatan batubara domestik mencapai 97 juta ton atau naik 7,2 persen dari tahun sebelumnya.

Ketua Indonesian Mining Association Ido Hutabarat dalam sebuah kesempatan akhir tahun lalu  mengatakan penggunaan batubara di Indonesia akan meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun ke depan.

“Saat ini kebutuhan 100 juta ton, akan meningkat 200 - 250 juta ton per tahun dalam 10 tahun ke depan,” kata Ido.  

Adapun volume ekspor batubara Indonesia Januari - November 2018 tumbuh 7,22 persen menjadi 312,3 juta ton. Peningkatan terjadi karena pertambahan pengiriman ke Thailand (tumbuh 26,5%), Filipina (19,14%) dan Vietnam yang melonjak hingga 87,5 persen.

NIlai ekspor pada periode yang sama tumbuh 16,71 persen menjadi US$ 18,9 miliar atau setara Rp265 triliun.

Angka itu menempatkan batubara di urutan teratas sebagai komoditas ekpor andalan nonmigas pada periode yang sama. Disusul minyak kelapa sawit, pakaian jadi, dan besi/baja di bawahnya.  

Pasar ekspor terbesar batubara Indonesia adalah India yang mencapai 99,14 juta ton, disusul China sebesar Rp44,8 juta ton, dan Korea sebanyak 33,3 juta ton.   

Hingga Juni 2018, negara memperoleh Rp20,1 triliun yang berasal dari royalti, penjualan hasil tambang, dan iuran tetap minerba.

Kurangi Beban Negara

Pernyataan Menteri Jonan yang menyebut setiap tahun negara mengeluarkan sekitar Rp40 triliun hingga Rp50 triliun untuk mendapatkan 4,5-4,7 juta ton elpiji adalah fakta tak terbantahkan.

Selama ini  60 persen kebutuhan LPG Indonesia dipenuhi dari luar negeri atau impor. Walhasil, keuangan negara pun terbebani. Belum lagi dengan subsidi yang tiap tahun juga terus membengkak.

Data Pertamina menunjukkan pertumbuhan konsumsi LPG  diperkirakan rata-rata sebesar 5% setiap tahun. Akhir 2017, konsumsi LPG PSO atau penugasan yang didistribusikan Pertamina sudah mencapai 6,3 juta metrik ton (MT). Padahal kuota yang diterapkan pemerintah hanya 6,199 juta MT. Pada 2018, konsumsi diperkirakan meningkat menjadi 6,7 juta MT.

Nilai Tambah

Gasifikasi batu bara merupakan metode pembuatan gas hidrogen tertua. Biaya produksinya hampir dua kali lipat dibandingkan dengan metode steam reforming gas alam pada umumnya. Selain itu, cara ini pula menghasilkan emisi gas buang yang lebih signifikan. Karena selain CO2 juga dihasilkan senyawa sulfur dan karbon monoksida.

Melalui cara ini, batu bara pertama-tama dipanaskan pada suhu tinggi dalam sebuah reaktor untuk mengubahnya menjadi fasa gas. Selanjutnya, batu bara direaksikan dengan steam dan oksigen, yang kemudian menghasilkan gas hidrogen, karbon monoksida dan karbon dioksida

Irwandi Arif, Ketua Indonesia Mining Institute (IMI), menyatakan inisiatif sinergi untuk mengembangkan gasifikasi batu bara adalah langkah maju. Ini juga sebenarnya dorongan pemerintah untuk memulai nilai tambah batu bara.

“Ke depan yang kita tunggu apakah proyek gasifikasi batu bara ini sudah economic proven,” ujar kata Irwandi seperti dikutip dari Dunia Energi.

Lebih lanjut dia berharap besar ada babak baru dalam pengembangan gasifikasi kali ini. Tentunya tantangan teknologi dan skala kapasitas juga masih menjadi tantangan yang pasti akan dihadapi para pelaku usaha. “Diharapkan ada yang akan berhasil dalam skala ekonomi untuk memulai era baru batu bara,” kata Irwandy.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berharap sinergi pemgembangan gasifikasi batu bara kali ini sebagai pelecut untuk menambahkan added value pengelolaan batu bara. Keekonomian gasifikasi memang masih diragukan, tapi dengan modal sumber daya pada sinergi kali ini, keekonomian tersebut bisa dibuktikan.

Bambang Gatot Ariyono, Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara (Minerba), mengatakan pengembangan gasifikasi wajar dilakukan melalui kerja sama beberapa perusahaan. Ini juga bisa jadi jalan untuk membagi risiko yang dianggap masih tinggi.

Kalau begitu, selamat datang era baru batubara Indonesia.[]

Hilirisasi batubara menghasilkan urea untuk pupuk, Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti gas LPG, serta polypropylene untuk bahan baku plastik.
Menperin Airlangga: Hilirisasi Batubara Sesuai Arahan Presiden

Hilirisasi batubara menghasilkan urea untuk pupuk, Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti gas LPG, serta polypropylene untuk bahan baku plastik.

ARDI ALI | Senin, 04 Maret 2019 - 14:15 WIB

KEMENTERIAN Perindustrian  mendorong tumbuhnya industri hilirisasi batubara agar dapat menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan substistusi impor seperti urea untuk pupuk, Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti gas LPG, serta polypropylene untuk bahan baku pembuatan plastik.

“Undang-Undang No 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian mengamanatkan, pengembangan industri pengolahan difokuskan pada penguatan rantai pasok untuk menjamin ketersediaan bahan baku dan energi yang berkesinambungan dan terjangkau,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis, Senin, 4 Maret 2019.

Airlangga menyampaikan hal itu pada Pencanangan Industri Hilirisasi Batubara di Tanjung Enim sehari sebelumnya.

Hadir dalam pencabangan itu antara lain Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri ESDM Ignasius Jonan. Dalam rangkaian acara, Menteri Airlangga juga berkesempatan menandatangani prasasti pencanangan Bukit Asam Coal Based Special Economic Zone (BACBSEZ).

“Sektor industri inilah yang sekarang diperlukan sesuai dengan arahan Presiden, karena merupakan substitusi impor dan dapat memperkuat cadangan devisa kita. Maka itu, klaster Tanjung Enim dengan luas 300 hektare ini akan menjadi kawasan industri baru yang terintegrasi,” kata Airlangga.

Menperin memberikan apresiasi kepada PT Bukit Asam Tbk, PT. Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk yang sedang mengembangkan industri hilirisasi batubara di mulut tambang Tanjung Enim.

Pada Desember 2017, keempat perusahaan tersebut menandatangani perjanjian kerja sama untuk mengolah batubara kalori rendah dengan teknologi gasifikasi sehingga menghasilkan produk akhir yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Teknologi gasifikasi memungkinkan konversi batubara kalori rendah menjadi synthetic gas (syngas) yang merupakan bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi DME sebagai bahan bakar dan substitusi impor LPG, urea sebagai pupuk, serta polypropylene sebagai bahan baku plastik,” paparnya.

Pembangunan pabrik pengolahan gasifikasi batubara yang nilai investasinya diperkirakan mencapai USD1,2 miliar dan menciptakan lapangan kerja sebanyak 1.400 orang ini akan mulai beroperasi pada November tahun 2022.

“Produksinya nanti dapat memenuhi kebutuhan sebesar 500 ribu ton urea per tahun, 400 ribu ton DME per tahun, dan 450 ton polypropylene per tahun,” ungkap Airlangga.

Dengan target pemenuhan pasar tersebut, diproyeksi kebutuhan batubara sebagai bahan baku sebesar 7-9 juta ton per tahun, termasuk untuk mendukung kebutuhan batubara bagi pembangkit listrik.

Hilirisasi yang akan dilakukan ini diperkuat dengan total sumber daya batubara sebesar 8,3 miliar ton dan total cadangan batubara sebesar 3,3 miliar ton.[]

Empat pabrik direncanakan di kawasan seluas 300 hektare Tanjung Enim dengan target selesai November 2022.
Menteri ESDM Sindir PTBA Baru Berani Hilirisasi Batubara Setelah 100 Tahun

Empat pabrik direncanakan di kawasan seluas 300 hektare Tanjung Enim dengan target selesai November 2022.

ARDI ALI | Minggu, 03 Maret 2019 - 18:15 WIB

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menyindir jajaran direksi PT Bukit Asam (PTBA) jika hanya mampu menggali batubara untuk dijual tanpa adanya upaya melahirkan produk turunan atau hilirisasi.

"Jika cuma gali, tidak perlu ada Arviyan (Dirut PTBA) yang pintar, cukup anak buah saya saja," kata Ignasius dalam sambutannya pada acara Pencanangan Hilirisasi Batubara di Kawasan Ekonomi Khusus PTBA "BACBSEZ" Tanjung Enim, Sumatera Selatan, seperti dilansir Antara, Minggu, 3 Maret 2019.

PT Bukit Asam baru memutuskan hilirisasi setelah 100 tahun beroperasi menggali batu bara di kawasan Tanjung Enim.

Pada acara yang juga dihadiri Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto itu Ignasius mengakui bahwa tidak banyak kegiatan pertambangan di Indonesia yang memiliki semangat untuk hilirisasi.

Menurutnya, kondisi ini disebabkan PTBA terlalu khawatir untuk menjadi pelopor. "Jika banyak khawatirnya maka tidak akan jadi," kata dia.

Dengan diluncurkannya pencanangan hilirisasi batubara maka menjadi tonggak sejarah baru hilirisasi batubara di Indonesia. PT Bukit Asam beserta dua BUMN lainnya PT Pertamina dan PT Pupuk Sriwijaya beserta perusahaan swasta Chandra ASN sepakat melakukan hilirisasi batubara.

Empat pabrik direncanakan di kawasan seluas 300 hektare Tanjung Enim dengan target selesai November 2022. Pertama pabrik gasifikasi batubara yang mengubah batubara kalori rendah menjadi syngas.

Tiga pabrik lainnya yakni pabrik hilirisasi produk batubara, yaitu pabrik pengolahan syngas menjadi dimethyl ether (dme) untuk menghasilkan elpiji bekerja sama dengan PT Pertamina.

Selanjutnya, pabrik pengolahan syngas menjadi urea untuk menghasilkan pupuk berkerja sama dengan PT Pupuk Sriwijaya, dan pabrik pengolahan syngas menjadi polypropylene sebagai bahan baku plastik bekerja sama dengan perusahaan swasta Chandra ASN.

Ia berharap dengan lahirnya hilirisasi, terutama produk dme diharapkan dapat mengurangi impor elpiji karena setiap tahun negara mengeluarkan sekitar Rp40 triliun hingga Rp50 triliun untuk mendapatkan 4,5-4,7 juta ton elpiji. Begitupula dengan impor bahan kimia yang tergolong masih tinggi seperti plastik dan bahan plastik mencapai 94,4 juta dolar AS pada Januari 2019.

Setidaknya, melalui proyek bersama ini juga bisa dikurangi impor elpiji, setidaknya sekitar 1 juta ton pada tahun pertama dengan cara mencampurkan dme dari produk hilirisasi batubara.

"Ini sangat mungkin karena deposit tambang batubara ini untuk lapisan 1 (B1) ada 4 miliar ton, dan B2 mencapai 6 miliar ton, ini artinya bisa 250 tahun bertahan," kata dia.[]

Dalam proses hilirisasi ini diharapkan dapat dihasilkan 500.000 ton urea per tahun, 400.000 dme per tahun dan 450.000 polypropylene per tahun.
Bangun Pabrik Ubah Batubara Jadi Gas, PTBA Target Rampung 2022

Dalam proses hilirisasi ini diharapkan dapat dihasilkan 500.000 ton urea per tahun, 400.000 dme per tahun dan 450.000 polypropylene per tahun.

ARDI ALI | Minggu, 03 Maret 2019 - 23:00 WIB

PT Bukit Asam memastikan membangun empat pabrik untuk hilirisasi batubara di kawasan ekonomi khusus Bukit Asam Coal Based Special Economic Zone/BACBSEZ), di areal seluas 300 hektare Tanjung Enim, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan. Pabrik itu ditargetkan selesai November 2022.

Dikutip dari Antara, Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Arviyan Arifin di Tanjung Enim, Minggu, mengatakan empat pabrik itu yakni pabrik gasifikasi batubara yang mengubah batubara kalori rendah menjadi syngas, dan tiga pabrik lainnya yakni pabrik hilirisasi produk batubara.

Tiga pabrik itu yakni pabrik pengolahan syngas menjadi dimethyl ether (dme) untuk menghasilkan elpiji bekerja sama dengan PT Pertamina, pabrik pengolahan syngas menjadi urea untuk menghasilkan pupuk berkerja sama dengan PT Pupuk Sriwijaya, dan pabrik pengolahan syngas menjadi polypropylene sebagai bahan baku plastik bekerja sama dengan perusahaan swasta Chandra Asn.

Arviyan mengatakan hal tersebut dalam sambutannya dalam acara pencanangan hilirisasi batubara di kawasan KEK batubara (BACBSEZ) Tanjung Enim yang dihadiri tiga menteri sekaligus. Ketiganya, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto

Arviyan mengatakan pencanangan ini merupakan tindak lanjut "head of agreement" tiga perusahaan pada 2018 yang bersepakat untuk memulai hilirisasi batubara. Uniknya, pencanangan hari ini tepat dengan peringatan 100 tahun keberadaan PT Bukit Asam di Tanjung Enim, kata dia.

Dalam proses hilirisasi ini diharapkan dapat dihasilkan 500.000 ton urea per tahun, 400.000 dme per tahun dan 450.000 polypropylene per tahun.

Menurutnya, target ini sangat mungkin dicapai karena hanya membutuhkan sekitar 7 juta ton batubara kalori rendah, sementara ketersediaan di Tanjung Enim mencapai 8 miliar ton.

Oleh karena itu, proyek peningkatan nilai tambah batubara ini suatu keniscayaan yang sangat layak diperjuangkan meski kali pertama di Tanah Air.

Bahkan, dengan adanya kegiatan ini, PTBA berharap dapat terus eksis hingga 100 tahun ke depan. Apalagi sudah memiliki strategi pengembangan bisnis "beyond coal" yakni perusahan terus berupaya untuk melakukan hilirisasi batubara.

Melalui hilirisasi batubara ini, PTBA berharap dapat terus meningkatkan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan PTBA sehingga dapat terus berkontribusi untuk perekonomian Indonesia melalui penerimaan devisa serta Penerimaan Negara Bukan Pajak.


Kurangi Impor

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengatakan apa yang dilakukan PT Bukit Asam bekerja sama dengan BUMN lainnya serta perusahaan swasta nasional patut diapresasi.

Menurutnya, semangat hilirisasi khususnya di kegiatan pertambangan masih sangat minim. Karena, semua pihak kerap terlalu khawatir ketika menjadi pioner.

"Jika cuma gali kemudian jual, tidak perlu orang seperti Arviyan (Dirut PT BA, red), anak buah saya saja," kata Ignasius yang disambut gelak tawa para audiens.

Ia berharap dengan lahirnya hilirisasi, terutama produk dme diharapkan dapat mengurangi impor elpiji karena setiap tahun negara mengeluarkan sekitar Rp40 triliun hingga Rp50 triliun untuk mendapatkan 4,5-4,7 juta ton elpiji. Begitupula dengan impor bahan kimia yang tergolong masih tinggi seperti plastik dan bahan plastik mencapai 94,4 juta dolar AS pada Januari 2019.

Setidaknya, melalui proyek bersama ini juga bisa dikurangi impor elpiji, setidaknya sekitar 1 juta ton pada tahun pertama dengan cara mencampurkan dme dari produk hilirisasi batubara. "Ini sangat mungkin karena defosit tambang batubara ini untuk lapisan 1 (B1) ada 4 miliar ton, dan B2 mencapai 6 miliar ton, ini artinya bisa 250 tahun bertahan," kata dia.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan pemerintah akan memberikan dukungan penuh atas berdirinya kawasan ekonomi khusus industri batubara ini. Bukan hanya berupa fasilitas sarana dan prasana tapi juga, fasilitas tax holiday dan kemudahan perizinan.

"Pemerintah sangat memperhatikan hilirisasi batubara ini karena ingin mengurangi impor," kata dia.

Proyek pembangunan empat pabrik hilirisasi batubara ini membukukan nilai investasi yang cukup fantastis yakni 1,2 miliar dolar AS dengan memberikan kesempatan lapangan kerja bagi 1.400 orang.

Berikut adalah sejumlah manfaat batubara bagi kehidupan manusia, termasuk obat Aspirin
Aneka Manfaat Batubara, dari Energi Hingga Obat-Obatan

Berikut adalah sejumlah manfaat batubara bagi kehidupan manusia, termasuk obat Aspirin

ARDI ALI | Selasa, 05 Maret 2019 - 12:15 WIB

TIGA Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni  PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk/PTBA, PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Pertamina (Persero) bekerja sama dengan PT Chandra Asri Petrochemical membangun industri hilirisasi batu bara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Pencanangan hilirisasi batu bara dilakukan pada Minggu, 3 Maret 2019 lalu.

Nantinya, empat pabrik yang dibangun akan  mengolah batu bara menjadi gas sintetik, lalu mengubahnya menjadi pupuk urea, dimethyl ether  (DME) sebagai pengganti gas LPG, dan polypropylene sebagai bahan pembuat plastik.  Pabrik-pabrik itu diperkirakan dapat beroperasi 3 tahun lagi.

Selama ini, Indonesia lebih banyak menjual batubara mentah ke luar negeri. Padahal, jika diolah, batubara punya banyak manfaat lain dan bisa dijual dengan harga lebih tinggi.

Seperti diketahui, batubara terbentuk dari sisa dari fosil tanaman yang terbentuk selama  jutaan tahun lalu. Tanaman dari beberapa jenis tumbuhan seperti pakis dan pakis ekor kuda yang telah mati selama jutaan tahun akan bercampur dengan berbagai media tanah seperti tanah gambut dan berbagai lapisan tanah yang digerakkan oleh lempengan tektonik.

Ketika tumbuhan ini masih hidup maka mereka menyerap energi dari sinar matahari melalui proses fotosintesa. Namun ketika tanaman mati dan terpendam dalam tanah maka akan bercampur dengan beberapa unsur hara seperti karbon, oksigen, sulfur, hidrogen dan nitrogen.  Berbagai  zat itulah  yang membentuk fosil tumbuhan menjadi batu bara.

Di sejumlah negara, batubara dipakai sebagai sumber energi murah. Pembangkit Listrik Tenaga Uap, misalnya, menggunakan batubara sebagai media pembakaran. Pabrik-pabrik semen juga banyak menggunakan batubara sebagai penghasil energi.
 
Berikut adalah sejumlah manfaat batubara bagi kehidupan manusia seperti dikutip dari berbagai sumber.

Sumber Tenaga Pembangkit Listrik
Batubara menjadi salah satu bahan bakar utama pada pembangkit listrik di beberapa negara seperti China, India, Australia, Jepang, Jerman dan beberapa negara lain. Batubara menjadi bahan bakar yang dikonversikan ke dalam bentuk uap panas dan menjadi sumber tenaga pembangkit listrik.

Batubara akan dihancurkan dengan mesin penggiling dan berubah menjadi bubuk halus kemudian akan dibakar dalam sebuah mesin dengan sistem ketel uap. Uap akan ditampung dalam sebuah tempat khusus dan disalurkan ke turbin yang berisi kumparan magnet. Selanjutnya kumparan magnet yang bergerak cepat akan menghasilkan listrik.

Produksi Baja
Industri  baja amat bergantung pada batubara. Produksi baja melibatkan karbon dan bahan besi. Karbon diperlukan untuk memanaskan bahan besi dan mengolahnya menjadi baja. Karbon dari batubara menghasilkan panas tinggi sehingga mendukung produksi baja.

Bahan Bakar Cair
Batubara ternyata juga bisa dirubah dalam bentuk bahan bakar cair dan sangat efektif untuk menggantikan bahan bakar minyak. Pada dasarnya pengolahan batubara menjadi bahan bakar cair akan mengubah batubara bubuk atau bongkahan yang dilarutkan dalam suhu tinggi.

Produk batubara cair dapat dimurnikan dengan proses ulang dan bisa menghasilkan bahan bakar minyak dengan kualitas yang lebih baik dari bahan bakar minyak yang didapatkan dari kilang minyak secara langsung. Negara yang sudah memakai sistem ini adalah Afrika. Afrika bisa mengatasi kekurangan sumber minyak dengan memanfaatkan batubara.

Industri Produksi Semen
Batubara menjadi salah satu bahan bakar utama dalam produksi semen.  Semen yang dipakai untuk membangun gedung itu  terbuat dari campuran antara kalsium karbonat, oksida besi, oksida aluminum dan silica. Batubara menjadi bahan bakar untuk mengolah berbagai bahan mentah tersebut dan mengubahnya menjadi semen. Batubara  bisa menghasilkan suhu tinggi hingga 1500 derajat Celcius.

Menghasilkan Produk Gas
Batubara yang masih berada dalam tanah ternyata juga bisa menghasilkan gas secara langsung. Proses ini memakai sebuah teknologi canggih untuk mengambil gas yang dihasilkan oleh batubara murni. Selanjutnya produk gas yang dihasilkan akan diolah di tempat pertambangan dan bisa menjadi beberapa produl seperti untuk bahan bakar industri, pembangkit listrik tenaga gas, produk gas hidrogen dan solar. China, Australia, India, Jepang dan Indonesia menjadi negara yang menggunakan metode teknologi perubahan gas batubara murni ke beberapa aplikasi industri.

Industri Pabrik Kertas
Batubara juga menjadi bahan bakar utama untuk menjalankan sebuah industri kertas. Kertas terbuat dari komponen utama berupa sel serat dari kayu. Sel serat dari kayu hanya bisa didapatkan dari proses rumit yang mampu memisahkan bagian serat dengan ukuran tertentu. Batubara menghasilkan panas yang stabil dalam sebuah mesin pengolahan serat untuk industri bahan baku kertas. Jadi tanpa batubara mungkin beberapa produk dari kertas tidak akan bisa kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

 Industri Farmasi
Batubara ternyata juga memiliki peran yang sangat penting dalam industri farmasi. Berbagai macam produk kimia yang dihasilkan dari olahan sampingan batubara bisa menjadi bahan utama dalam produksi obat-obatan. Berbagai macam bentuk bahan kimia telah melewati proses pemurnian dengan teknologi canggih sehingga bisa dimanfaatkan menjadi obat-obatan. Industri ini telah melewati berbagai macam sertifikasi sehingga sangat aman untuk mendukung produks farmasi.

Produksi Bahan Metanol
Metanol merupakan salah satu bahan bakar cair yang sangat penting untuk menggerakkan berbagai macam industri. Hasil dari metanol sebenarnya didapatkan dari proses pemurnian batubara yang masih berada dalam tanah menjadi gas. Hasil sampingan berupa zat cair tertentu kemudian akan dimurnikan kembali hingga mampu membuat produk metanol.

Benzena
Benzena menjadi salah satu komponen bahan bakar cair yang sangat penting dalam menggerakkan transportasi dunia. Benzena didapatkan dari hasil pengolahan ulang batubara yang bisa menghasilkan bubuk halus. Pengolahan benzena biasanya akan didaur ulang dari batubara yang didapatkan dari pertambangan atau pembangkit listrik.

Garam Amoniak
Garam amoniak dihasilkan dari sebuah industri pengolahan batubara. Uap atau gas yang dikeluarkan dari oven untuk menampung kokas menghasilkan garam amoniak. Produk ini penting untuk menjadi bahan khusus dari beberapa industri kimia seperti pupuk pertanian atau produk bahan kimia lain. Jadi uap pembakaran batubara sangat berperan untuk menghasilkan produk garam amoniak.

Pupuk
Produksi pupuk pertanian selalu membutuhkan gas khusus atau pembakaran khusus dari batubara. Bahkan beberapa macam produk kimia yang digunakan untuk membuat pupuk pertanian adalah hasil olahan sampingan dari sisa pembakaran batubara. Berbagai produk olahan sampingan akan dimurnikan dengan perlengkapan khusus sehingga bisa membentuk produk atau bahan pembuatan pupuk kimia. Beberapa zat penting seperti asam nitrat dan garam amoniak.

Bahan Sabun
Pabrik yang mengolah produk sabun juga membutuhkan bahan khusus yang didapatkan dari hasil olahan sampingan batubara. Produk ini didapatkan dari hasil sampingan olahan batubara yang telah melewati proses pembakaran, pemurnian hingga produk akhir. Proses ini memang tidak secara langsung menghasilkan produk khusus komponen sabun. Beberapa produk ini juga penting untuk produksi beberapa zat pelarut dan pengikat aroma pada produk sabun.

Produk Aspirin
Aspirin menjadi salah satu jenis produk farmasi yang sangat penting dalam dunia medis. Berbagai jenis obat yang mengandung aspirin mampu meredakan rasa sakit dan meringankan berbagai keluhan terhadap penyakit. Dalam proses pengolahan aspirin ternyata memerlukan beberapa komponen yang didapatkan dari hasil pembakaran batubara. Proses pengolahan produk khusus ini biasanya dilakukan oleh pabrik bahan kimia dan bukan oleh pabrik farmasi.

Zat Pewarna
Zat pewarna sintetis yang digunakan oleh beberapa industri seperti garmen, bahan kimia dan pewarna khusus untuk produk kimia ternyata juga didapatkan dari hasil pengolahan batubara.

Zat pewarna didapatkan dari proses batubara yang telah digiling hingga menjadi bubuk berukuran kecil. Bubuk ini  diolah kembali dan dicampur dengan beberapa bahan pembuat warna khusus. Bubuk pewarna yang digunakan oleh produksi zat pewarna sintetis dan didapatkan dari pengolahan batubara terbukti memiliki tingkat keamanan dan kualitas yang lebih tinggi dibandingkan bahan komponen lain.

Plastik
Batubara memiliki peran yang sangat penting untuk mendukung industri plastik. Batubara menjadi bahan khusus yang digunakan untuk pembakaran beberapa komponen biji plastik. Bahan bakar dari batubara memiliki panas khusus sehingga sangat baik untuk mendukung produk dan kualitas plastik. Beberapa pewarna untuk plastik juga didapatkan secara langsung dari produk olahan batubara.

Karbon Aktif
Karbon aktif merupakan produk yang didapatkan dari sisa hasil pembakaran batubara dalam industri pembangkit listrik, produk pembakaran untuk menjalankan industri dan sisa bahan bakar batubara. Karbon aktif yang dihasilkan dalam pengolahan ini berguna untuk mendukung sistem kerja filter yang digunakan pada mesin pengolah kualitas udara dan juga mesin untuk cuci darah.

Logam Silikon
Logam silikon merupakan salah satu hasil sampingan dari pengolahan baja oleh batubara. Produk ini bisa menghasilkan beberapa jenis komponen yang berperan untuk mendukung industri produksi bahan bakar cair seperti pelumas mesin, resin dan berbagai macam produk kosmetik. Proses pengolahan silikon untuk membuat produk tertentu harus diolah dengan proses pemurnian sehingga tidak bisa digunakan secara langsung.