Pertambangan ilegal di Sulawesi Utara memakan korban jiwa. Jauh sebelumnya, kejadian serupa terjadi di banyak tempat di negeri ini. Mengapa terus berulang?
Meregang Nyawa di Lubang Tambang, Petaka yang Terus Berulang 

Pertambangan ilegal di Sulawesi Utara memakan korban jiwa. Jauh sebelumnya, kejadian serupa terjadi di banyak tempat di negeri ini. Mengapa terus berulang?

YUSWARDI A SUUD | Kamis, 28 Februari 2019 - 19:15 WIB

TERBARING di rumah sakit Popundayan Kotamobagu, Sulawesi Utara, Deni Mamonton mengisahkan kejadian sehari sebelumnya yang hampir merenggut nyawanya pada Selasa malam, 26 Februari 2019. 

Malam itu, sekitar pukul 19.00 WITA, Deni bersama lima rekannya masih ke dalam lubang tambang emas pada kedalaman 10 meter. 

Satu jam di dalam lubang, Deni melihat ada bebatuan kecil mulai berjatuhan ke dalam lubang. Tak lama, tiba-tiba, tanah di atas kepalanya ambruk. 

"Tiba-tiba saja langsung ambruk. Ada bunyi seperti angin. Kamis semua tertimbun tanah. Kaki saya terjepit batu dan mayat penambang lain," kata Deni seperti dikutip tribunmanado.co.id. 

Dalam kalut, Deni berdoa agar nyawanya diselamatkan. Dia terjebak di satu titik berukuran sekitar 3 x 3 meter. 

Dari 5 orang, hanya dia bersama satu rekannya yang selamat. 

Sambil menahan sakit, Deni terus berusaha keluar dengan mendorong mayat di kakinya. 

"Awalnya saya dorong mayat, kemudian batu saya ketuk perlahan-lahan hingga menjadi tiga bagian. Saat itu, bebatuan kecil terus berjatuhan. Tangan kiri saya gunakan menangkis batu kecil. Namun tetap saja ada beberapa yang lolos dan kena kening saya," ujar Deni.

Satu jam bertahan, Deni berusaha merangkak keluar. Dia sempat mendengar teriakan minta tolong, namun yang ada di pikirannya saat itu adalah bagaimana menyelamatkan diri. 

Sekitar 1 jam kemudian akhirnya Deni terhindar dari baik mayat maupun batu.

"Saya kemudian berusaha merangkak keluar perlahan. Saat itu, terdengar banyak suara minta tolong. Tapi apa daya kami juga berusaha menyelamatkan diri," ujarnya.

Deni akhirnya menghirup udara segar di luar lubang tambang. "Di luar sudah banyak orang saya diselamatkan, dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit," kata dia.

Keluar dari lubang tambang pukul 21.00, tiba di rumah sakit pukul 01.00. Lokasi tambang cukup jauh.

Kata Deni, masih banyak penambang yang terjebak di dalam lubang tambang. "Ada yang sudah meninggal terjepit batu. Tulang belakangnya sampai keluar," kata dia.

Peristiwa yang menimpa Deni itu terjadi di tambang emas ilegal di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara. 

Hingga Kamis, 28 Februari, delapan orang dilaporkan meninggal dan 19 lainnya luka-luka. Diperkirakan masih ada puluhan orang yang terjebak di dalam lubang. 

Proses evakuasi memang tak berjalan mulus lantaran posisi tambang yang berada di lereng pegunungan yang disebut blok Bakan memang curam. 

Koordinator Pos SAR Kotamobagu, Rusmadi, mengatakan, proses evakuasi dilakukan dengan cara membuat jalur baru ke tambang emas. Jalur evakuasi dibuat karena pintu utama terowongan tambang emas ilegal itu tertutup material longsoran batu. 

"Untuk akses di pintu utama masih tertutup karena longsoran cukup banyak, sekitar 3 meter material batu. (Tim) membuat akses baru di sebelahnya (pintu utama) kira-kira 2 meter dari pintu utama, lalu evakuasi," ujar Rusmadi.

Evakuasi dilakukan dengan manual. Alasannya, kondisi tambang ilegal rawan longsor susulan. 

"Kesulitannya, kalau kami menggunakan alat yang menimbulkan banyak gerakan akan menyebabkan longsoran material. Makanya kami melakukan evakuasi manual, penggalian (jalur dari material batu) pelan-pelan," terangnya.

Sementara soal status tambang emas, Bupati Bolmong, Yasti, memberikan penjelasan mengenai izin resmi penambangan. Namun aktivitas warga menambang di lokasi, disebut tak berizin. 

"Wilayah itu ini kan kontrak karya dari PT J Resources, tetapi namanya penambang tanpa izin kan ada saja," kata Yasti.

Dari keterangan manajemen PT J Resources diketahui para penambang ini baru ramai sejak beberapa bulan lalu.

J Resources sendiri sudah angkat bicara. 

Direktur J Resources Asia Pasifik Edi Permadi meminta pemerintah tegas menertibkan pertambangan ilegal. 

Lokasi kecelakaan tambang itu, kata dia, terjadi di areal konse tambang anak usaha J Resource, yakni PT J Resources Bolaang Mongondow. Namun, lokasi kejadian berada di luar site operasi JRBM.

Perusahaan telah melaporkan hal tersebut sejak 2016 hingga akhir 2018 kepada pemerintah dan aparat hukum. Sepanjang tahun tersebut juga sudah beberapa kali melakukan penertiban, namun penambang ilegal kembali beroperasi.

Pada 4 Juni 2018 kecelakaan serupa juga terjadi dan menyebabkan lima orang meninggal.

Menurut Edi, dalam mengolah emas, para penambang tanpa izin menggunakan bahan kimia berbahaya seperti sianida dan merkuri, yang limbah hasil penggunaan bahan kimia berbahaya tersebut tidak dikelola dengan baik, yang secara akumulasi akan berdampak terhadap pencemaran lingkungan.

"Agar kejadian ini tidak terulang lagi, Pemerintah harus tegas untuk menertibkan penambangan tanpa izin karena dampak terhadap keselamatan dan lingkungan sangat besar," kata  Edi.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan pihaknya telah mengirim surat kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk menertibkan pertambangan ilegal di wilayah itu.

"Itu sebenarnya tanggung jawab pemda, tapi dari sisi kami adalah perhatian kami bagaimana melakukan imbauan. Kami sudah mengirimkan surat atas nama Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara agar masalah ilegal tambang cepat selesai," kata Agung dalam keterangan pada hari yang sama. 

***

Kisah para penambang emas yang meregang nyawa di lubang galian seperti kaset lama yang terus diputar. Kejadiannya terus berulang, tapi pihak terkait seperti tak kuasa menuntaskannya. 

Penambangan emas perorangan memang menjadi momok di Indonesia. Pada tahun 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat ada 850 titik penambangan emas skal kecil (PESK) yang tersebar di 197 kabupaten/kota di Indonesia. Mereka menggunakan merkuri untuk memisahkan kandungan emas dari bebatuan. 

Direktur Jenderal Pengendalian dan Pencemaran LHK Karliansyah memperkirakan kegiatan PESK di Indonesia tersebar di 197 kota dari 32 provinsi. Diperkirakan, dari seluruh PEKS tersebut ada sekitar 250 ribu penambang. "Dampak pengolahan emas menggunakan merkuri merugikan baik dari segi lingkungan, kesehatan, ekonomi dan sosial," kata Karliansyah di Jakarta kala itu.

Ia mencatat dari produksi PEKS sebanyak 80 ton emas/tahun, negara kehilangan royalti kurang lebih sebesar Rp 157 miliar per tahun. Selain itu, untuk biaya pemulihan sebesar Rp 12 juta per ton. Itu belum lagi kerugian yang timbul akibat rusaknya permukaan lahan untuk penambangan.

Berikut adalah sejumlah kejadian yang berujung pada maut di lubang tambang. 


Gunung Pongkor Bogor 

Gunung Pongkor di Kecamatan Nanggung, Bogor, barangkali adalah gunung impian yang menjanjikan kekayaan. Bagaimana tidak, bebatuan di gunung itu menyimpan kandungan emas yang menjadi daya tarik bagi masyarakat sekitar untuk mendulang fulus dari taburan emas. 

Namun, bagi sebagian orang, alih-alih memperoleh kekayaan, justru nyawanya yang melayang.

Pada 16 Maret 2016, lima warga Kampung Ciemas, Desa Banyuasih, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tewas dalam lubang galian. Polisi menyebut mereka adalah penambang ilegal alias gurandil yang menggali lubang untuk mencari emas di wilayah Pongkor. 

Dua tahun sebelumnya, pada 2 April 2014, delapan gurandil juga tewas tertimbun longsoran tanah dan bebatuan di Gunung Pongkor. Mereka tertimbun longsoran di kedalaman 40 meter. Menurut polisi, air masuk ke lubang yang mereka gali dan terus meninggi. Saat mereka berusaha keluar dari lubang dengan memanjat ke atas, tanah mendadak ambrol dan menutup lubang.  Jasad mereka baru bisa dievakuas sehari kemudian. 

Sebelumnya, dalam sebuah laporan pada September 2015, PT Antam merilis 352 orang dilaporkan meninggal dunia lantaran menambang emas secara ilegal di areal konsesi milik PT Antam, perusahaan tambang milik negara. Sebanyak 166 orang luka berat dan 98 lainnya luka ringan. 

Para penambang liar itu masuk ke sana pada malam hari lewat jalur-jalur tikus yang berbatasan dengan perkampungan warga. Posisi lubang galian yang berada di tempat tersembunyi, membuat kehadiran mereka tak terdeteksi oleh petugas keamanan perusahaan. 

Dalam sebuah laporan, PT Antam mengatakan telah menutup 117 lubang galian seperti di wilayah Gunung Butak sebanyak 12 lubang, di Gunung Awi sebanyak 6 lubang, di daerah Keuyeup, Geslo dan Ciguha 19 lubang, lokasi Ciurug 43 lubang, lokasi Cepu 31 lubang dan di lokasi longsoran 6 lubang.

PT Antam mulai menggarap tambang emas Pongkor yang dimulai dengan tahap eksplorasi sejak 1974 hingga 1981. Sempat terhenti antara 1983 dan 1988, pada 1988 hingga 1991 upaya mendulang emas kembali dilakukan. 

Mulai 1991, Antam mendapat hak ekploitasi di lahan seluas 4.058 hektare. Pada 1993, dibangun pabrik pertama dengan kapasitas 2,5 ton emas per tahun. 

Pada 1997, kembali dibangun pabrik pengolahan kedua di Ciurug. Kapasitas produksinya bertambah dua kali lipat. Menjadi 5 ton emas per tahun. Pabrik ini resmi beroperasi tahun 2000. 

Terhitung 1 Agustus 2000, Antam mengelola lahan pertambangan di Pongkor seluas 6.047 hektare. Antam memperoleh izin pinjam pakai kawasan hutan untuk tambang emas Pongkor sampai tahun 2021. 

Lubang Jarum Jambi 

Pada 24 Oktober 2016, 11 penambang tradisional terperangkap di dalam lubang tambang yang dipenuhi air di lokasi tambang dengan sistem luang jarum di Desa Simpang Parit, Kecamatan Renah Pembarap, Jambi. 

Pada September 2018, kejadian serupa terulang lagi. Air dari Sungai Batang Merangin merembet ke dalam lubang galian. Akibatnya, 26 orang terjebak di dalamnya. Tujuh orang segera dipastikan meninggal dunia di dalam lubang yang kedalamannya mencapai 48 meter dari permukaan tanah. Sisanya tak segera bisa dievakuasi. 

Air diperkirakan masuk karena pada kedalaman 48 meter itu, lubang galian di arahkan memanjang horizontal ke kanan sejauh 30 meter, mengarah ke pinggir sungai. 


Lombok Barat 

Pada 18 Juni 2018, belasan penambang terjebak di dalam lokasi tambang di Gunung Suge, Lombok Barat. Tujuh diantaranya meninggal dunia. 

Belasan penambang itu mengalami keracunan gas, yang  mengakibatkan para korban kekurangan oksigen. 

Kejadian bemula ketika sekelompok penambang itu sedang mencari emas ilegal di dalam lubang-lubang galian yang sudah ditinggal pemiliknya, berharap menemukan sisa-sisa kandungan emas di dalam bebatuan. 

Petaka datang sekitar pukul 8 malam. Pada kedalaman 200 meter dari permukaan tanah, mereka disergap aroma serupa bau asap. Asap diperkirakan datang dari lubang  yang lain karena lubang-lubang itu saling terhubung di dalam tanah. Lantaran lubang tambang terlalu dalam, mereka megap-megap karena kekurangan oksigen. 

Mandailing Natal 

Pada 26 Juni 2014, lima remaja tewas tertimbun di lubang tambang di tepian Sungai Batang Natal, Simarombun, Desa Simpang Gambir, Kecamatan Lingga Bayu, Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Kelima remaja itu dilaporkan kehabisan oksigen karena berada di lubang dengan kedalaman sekitar tujuh meter. Ketika di dalam lubang, air sungai meluap, menenggelamkan mereka. 

Tiga bulan berselang, pada 1 September 2014, lima penambang lagi-lagi meregang nyawa di tambang emas. Tiga meninggal di kedalaman 38 meter lantaran terhirup gas beracun saat menggali bebatuan yang diduga membawa kandungan emas. Dua lainnya meninggal saat hendak menolong. 

Di bulan yang sama, tepatnya 19 September 2014, dua penambang di kawasan hutan Taman Nasional Batang Gadis, Mandailing Natal, Sumatera Utara, kembali menjadi korban. Dari mulut mereka ditemukan busa. Kemungkinan besar keracunan saat di lubang tambang. 

Otoritas setempat mengatakan pekerja tambang itu tidak dilengkapi peralatan memadai. Oksigen sedikit, dan peralatan penyelamatan minim. 

Di tambang rakyat Mandailing Natal ini, dari catatan tim SAR, sejak 2013 hingga Juni 2014, 113 penambang dilaporkan meregang nyawa, dan 98 orang tak ditemukan.[]


 

Perusahaan telah melaporkan hal tersebut sejak 2016 hingga akhir 2018 kepada pemerintah dan aparat hukum.
J Resources Minta Pemerintah Tegas Tutup Tambang Emas Ilegal

Perusahaan telah melaporkan hal tersebut sejak 2016 hingga akhir 2018 kepada pemerintah dan aparat hukum.

ARDI ALI | Kamis, 28 Februari 2019 - 17:45 WIB

PERUSAHAAN tambang emas PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) meminta ketegasan pemerintah menertibkan pertambangan ilegal. Hal tersebut terkait kecelakaan tambang ilegal yang terjadi di area tambang milik perusahaan di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Direktur J Resources Asia Pasifik Edi Permadi menjelaskan bahwa selama ini konsesi tambang anak usahanya, yaitu PT J Resources Bolaang Mongondow, dijadikan sebagai wilayah aktivitas tambang tanpa izin atau ilegal.

Kata Edi, wilayah tambang itu memang berada di lokasi Areal Penggunaan Lahan (APL) yang berada di wilayah konsesi PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), namun wilayah tersebut berada di luar di site operasi JRBM dan tanahnya masih milik perorangan.

Perusahaan telah melaporkan hal tersebut sejak 2016 hingga akhir 2018 kepada pemerintah dan aparat hukum. Sepanjang tahun tersebut juga sudah beberapa kali melakukan penertiban, namun penambang ilegal kembali beroperasi.

Dua hari lalu, pada Selasa malam, 26 Februari 201, material bebatan tiba-tiba runtuh dan menimbun puluhan orang di dalam rongga terowongan tambang pada kedalaman antara 20 - 50 meter. Penyebabnya, tiang dan papan penyanggah lubang galian patah. Kondisi tanah di area tambang tak stabil dan banyak lubang.  Pada 4 Juni 2018 kecelakaan serupa juga terjadi dan menyebabkan lima orang meninggal.

Pada umumnya, lanjut Edi, dalam mengolah emas, para penambang tanpa izin menggunakan bahan kimia berbahaya seperti sianida dan merkuri, yang limbah hasil penggunaan bahan kimia berbahaya tersebut tidak dikelola dengan baik, yang secara akumulasi akan berdampak terhadap pencemaran lingkungan.

"Agar kejadian ini tidak terulang lagi, Pemerintah harus tegas untuk menertibkan penambangan tanpa izin karena dampak terhadap keselamatan dan lingkungan sangat besar," kata  Edi.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan pihaknya telah mengirim surat kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk menertibkan pertambangan ilegal di wilayah itu.

"Itu sebenarnya tanggung jawab pemda, tapi dari sisi kami adalah perhatian kami bagaimana melakukan imbauan. Kami sudah mengirimkan surat atas nama Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara agar masalah ilegal tambang cepat selesai," kata Agung dalam keterangan pada hari yang sama.[]

Pada 28 Agustus 2018, Kapolres Bolmong AKBP Gani Fernando Siahaan memimpin operasi penutupan menggunakan buldozer
Pernah Tewaskan 5 Orang, Mengapa Tambang Emas Liar di Bolmong Masih Dibiarkan? 

Pada 28 Agustus 2018, Kapolres Bolmong AKBP Gani Fernando Siahaan memimpin operasi penutupan menggunakan buldozer

YUSWARDI A SUUD | Rabu, 27 Februari 2019 - 13:15 WIB

SEBUAH lubang pertambangan emas liar di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara, ambruk pada Selasa malam, 26 Februaari 2019, sekitar pukul 23.00 WITA. Akibatnya, hingga Rabu pagi, empat orang dilaporkan tewas. Puluhan lainnya diperkirakan masih tertimbun longsoran.

Ini bukan kejadian pertama lubang tambang emas membawa petaka. Tahun lalu, tepatnya pada Minggu, 3 Juni 2018, longsoran menewaskan 5 orang penambang di lokasi yang sama. 

Humas SAR Manado, Feri Ariyanto ketika itu mengatakan mereka yang tertimbun terperangkap longsoran pada kedalaman 50 meter dari permukaan tanah. Upaya evakuasi sempat terkendala cuaca hujan ringan dan tanah yang labil. 

Ketika itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bolmong, Yuda Rantung, pernah mengatakan akan menghentikan seluruh aktivitas pertambangan emas di blok Bakan itu. 

"Penambangan liar di Desa Bakan itu sangat membahayakan lingkungan. Yang dikuatirkan kalau sampai hujan satu bulan, bisa habis desa Bakan itu," kata Yuda seperti dikutip dari SulutGo. 

Kata Yuda, lokasi pertambangan ilegal di kawasan yang disebut Blok Bakan itu sebenarnya termasuk dalam wilayah operasional PT J Recous Bolaang Mongondow. 

“Itu Blok JRBM yang tidak boleh di otak-atik. Walaupun ada emas, mereka tidak Mau Kore itu. Karena itu adalah penyangga yang diatas. Dan itu ada di kajian lingkungan. Di dokumen Amdal jelas tertulis dimana daerah penyangga, mana yang bisa ditambang dan mana yang tidak boleh,” ujarnya. 

Yudi juga mengatakan pemerintah akan bersikap tegas menghentikan seluruh aktivitas pertambangan liar itu. 

“Kami telah menyurati pengusaha tambang di Blok Bakan untuk menghentikan semua aktivitasnya, sebab aktifitas yang mereka lakukan sangat bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 Tentang Sungai,” ujarnya.

Namun, nyatanya aktivitas pertambangan terus berlanjut. Pada 18 September 2018, sekelompok orang menggelar aksi demonstrasi meminta pertambangan itu ditutup. Alasannya, lingkungan sudah rusak parah. Selain itu, tak sedikit penambang yang meninggal tertimbun longsoran dari lubang galian tambang. 

Namun, polisi datang membubarkan aksi demonstrasi itu. Spanduk yang dipasang di pintu masuk lokasi tambang diturunkan petugas. 

"Aneh, polisi yang seharusnya membantu warga untuk menutup tambang emas karena tak punya izin, malah justru meminta warga membuka akses ke lokasi tambang," kata seorang warga saat itu seperti dilaporkan Totabuan.co 

Sekedar informasi, demonstrasi mendesak penutupan tambang itu dilakukan setelah adanya pertemuan antara warga, Kapolres Bolmong, Dandim 1303 dan pihak pemerintah daerah setempat. 

Setelah pertemuan itu,  pada 28 Agustus 2018, Kapolres Bolmong AKBP Gani Fernando Siahaan memimpin operasi penutupan menggunakan buldozer. Namun, tak lama kemudian aktivis pertambangan kembali berlanjut. 

"Dengan penutupan ini, maka tidak ada lagi aktivitas penambangan emas di sini," kata Gani waktu itu. 

Itulah yang mendasari aksi demontrasi meminta agar pertambangan itu benar-benar ditutup tanpa kecuali. 

“Jadi kami punya alasan mengapa mendesak untuk menutup tambang liar. Karena ini hasil petemuan lalu,” ujar Arfan Podomi, salah satu demonstran.

Namun Kapolsek Lolayan IPTU Marto Dewata mengatakan, polisi melarang warga untuk menutup lokasi tambang emas ilegal ini, karena mereka kuatir jika tambang emas ilegal ini ditutup akan menimbulkan bentrok antara warga dan penambang.

“Tidak ada maksud apa-apa.Cuma kita hanya menjaga jangan sampai terjadi kontak fisik antara warga dengan pekerja tambang,” kata Marto.

Dibakar Massa 

Aksi demonstrasi itu tak menyurutkan para pemodal tambang. Beberapa diantaranya tetap beroperasi. Salah satunya adalah lubang tambang yang disebut-sebut milik pengusaha ternama di Kotamobagu bernama Samuel Porong. 

Pada Jumat malam, 4 Januari 2019, nyala api berkobar di lubang tambang milik Tole. Itu bukan kebakaran biasa. Api disulut oleh warga yang marah. Sebelumnya, seorang warga di sana sempat dianiaya oleh seorang penjaga tambang milik Om Tole. 

"Ada warga Bakan yang pergi untuk mencari sisa-sisa pengolahan material emas di lokasi milik Om Tole, kemudian didapati oleh penjaga lokasi. Bukannya disuruh pulang, malah dipukul pakai selang ait dan ditelanjangi hingga sebagaian tubuhnya mengalami memar. Hal itulah yang jadi pemicu masyarakat Desa Bakan mengamuk dan melakukan pembakaran di lokasi tambang tersebut,” kata seorang saksi mata. 

Hampir dua bulan setelah kejadian itu, petaka kembali terjadi di lubang tambang. Tanah di atasnya kembali amblas. Empat nyawa sudah dipastikan melayang. Puluhan lainnya masih belum ditemukan. 

Pertanyaan besar yang belum terjawab: mengapa pertambangan masih bisa beroperasi padahal sudah ditutup? Berapa banyak lagi korban yang harus terenggut nyawanya di lubang galian tambang? []

Lihat juga:
Foto-Foto Evakuasi Korban Ambruknya Tambang Emas Liar di Bolmong

Peristiwa itu disebabkan oleh patahnya tiang dan papan penyangga lubang galian yang dikeruk
Korban  Tewas Ambruknya Tambang Emas di Bolmong Jadi Empat, Ini Kronologisnya

Peristiwa itu disebabkan oleh patahnya tiang dan papan penyangga lubang galian yang dikeruk

ARDI ALI | Rabu, 27 Februari 2019 - 11:45 WIB

PERTAMBANGAN emas tanpa izin di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara, mengalami longsor pada Selasa malam, 26 Februari 2019, sekitar pukul 23.00 WITA. Akibatnya, hingga Rabu pagi, korban tewas bertambah menjadi empat orang, sedangkan puluhan lainnya diperkirakan masih tertimbun longsoran.

Ihwal bertambahnya jumlah korban meninggal disampaikan Kasubag Humas Polres Kotamobagu AKP Rusdin Zima, Rabu pagi menjelang siang. 

"Iya benar, sudah ada empat orang yang ditemukan telah meninggal dunia. Satu orang atas nama Rifai Mamonto usia 39 tahun, sementara tiga orang lainnya belum terindetifikasi," kata Rusdin. 

Tim dari Polre Kotamobagu, Kodim 1303/BM, Basarnas, dan masyarakat setempat masih melakukan upaya evakuasi dan pencarian korban lainnya. 

Kepala Pusat Data dan Informasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan peristiwa itu disebabkan oleh patahnya tiang dan papan penyangga lubang galian yang dikeruk. Kondisi tanah yang labil dan banyaknya lubang galian ditengarai sebagai pemicunya. 

"Korban jiwa berdasarkan data sementara diperkirakan 60 orang lebih tertimbun material longsoran tanah dan bebatuan di lokasi areal tambang rakyat," kata Sutopo. 

Setelah kejadian, dilakukan upaya evakuasi dalam kondisi cahaya yang terbatas. Namun, hingga pukul 05.00 WITA, 14 orang berhasil dievakuasi. Satu diantaranya meninggal dunia (belakangan bertambah menjadi empat). Sisanya mengalami luka-luka. Diperkirakan puluhan orang masih terjebak di reruntuhan lubang galian tambang.

"Sejak menerima informasi dari masyarakat, BPBD Bolmong langsung berkoordinasi dengan Basarnas Pos SAR Kotamobagu, Polsek Lolayan, dan Koramil Lolayan untuk melakukan evakuasi korban tertimbun material longsoran," kata Sutopo.[]

Lihat juga:
Foto-Foto Evakuasi Korban Ambruknya Tambang Emas Liar di Bolmong