Tak hanya itu, Arsul juga meminta Yasonna melakukan audit keamanan secara menyeluruh terhadap kondisi Lapas di seluruh Indonesia. Hal itu bertujuan agar peristiwa serupa tak terulang kembali di kemudian hari
Kebakaran Lapas Tangerang, Yasonna Bilang Over Kapasitas, Politisi Senayan Tanya, Ada Unsur Kesengajaan? Mana Tanggapannya Pak Jokowi?

Tak hanya itu, Arsul juga meminta Yasonna melakukan audit keamanan secara menyeluruh terhadap kondisi Lapas di seluruh Indonesia. Hal itu bertujuan agar peristiwa serupa tak terulang kembali di kemudian hari

Rayu | Kamis, 09 September 2021 - 08:05 WIB

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Yasonna Hamonangan Laoly mengatakan masalah over kapasitas di Lapas Kelas I Tangerang perlu ada penambahan petugas dan anggaran. 

Hal ini disampaikan Yasonna Laoly terkait kelebihan kapasitas lapas yang mengalami kebakaran hingga menewaskan 41 dan belakangan bertambah 2 orang lagi narapidana pada Rabu (08/09/2021).

Yasonna Laoly menilai, petugas lapas sejatinya sudah cukup ideal. Hanya saja, banyaknya warga binaan Narkotika menjadi penyebab sejumlah Lapas di Indonesia over kapasitas. Hal ini berimplikasi pada beban kerja petugas Lapas.

Jumlah petugas di Lapas Kelas I Tangerang sekitar 182 orang. Sementara jumlah narapidana mencapai 2.072 orang dengan kapasitas lapas sejatinya hanya untuk 600 orang. Yasonna mengakui lapas tersebut over kapasitas hingga 400 persen.

"Jadi kalau over kapasitas harus menambah personel, tapi kan ini menyangkut anggaran. Itu kenapa saya mengatakan, hulunya yang harus dikoreksi, apa itu? Narkotika," kata Yasonna dalam acara Newsroom, Rabu (08/09/2021).

Yasonna Laoly juga mengungkapkan, mayoritas penghuni lapas Indonesia adalah narapidana kasus narkotika. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat seluruh lapas di Indonesia over kapasitas dalam menampung warga binaan.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Yasonna Hamonangan Laoly Saat Meninjau Lapas Kelas 1 Tangerang Usai Peristiwa Kebakaran - Foto: IG YasonnaLaoly

Oleh sebab itu, Yasonna kembali menyoroti implementasi UU tentang Narkotika dan Psikotropika di Indonesia. Ia menilai, pengguna narkotika seharusnya ditampung di tempat rehabilitasi alih-alih lapas.

"Biang kerok di lapas kami adalah over kapasitas, karena warga binaan narapidana narkotika. Selalu saya katakan sangat aneh sekali satu jenis crime yaitu kejahatan narkotika mendominasi lebih dari 50 persen isi lapas. Padahal ada jenis kejahatan pembunuhan, pencurian, korupsi, penganiayaan, perkosaan semuanya itu digabung tapi masih kalah dengan narkotika, something wrong," jelasnya.

Yasonna Laoly juga telah menginstruksikan kepada jajarannya untuk mulai melakukan evaluasi terhadap usia bangunan lapas, selain pada bagian lainnya seperti instalasi listrik. Upaya itu menurutnya sebagai langkah mitigasi dalam mencegah kejadian nahas serupa terjadi kembali.

Dia menambahkan, pihaknya bakal memperbaiki sistem alarm atau peringatan kebakaran, memperbaiki instalasi listrik, serta merombak SOP pengawasan, agar mitigasi saat kejadian kebakaran dapat tertangani dengan cepat, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

"Bahkan di Tangerang sendiri ada Lapas yang isinya 3.000, lapas pemuda yang jaman Belanda. Jadi tadi saya sudah katakan, coba cek itu semua. Tentunya kami harus berusaha meyakinkan dan kondisi pandemi kan barat, anggaran kita masih refocusing, tetapi saya minta yang berkaitan dengan keamanan menjadi perhatian kita," ujar Yasonna.

Kebakaran hebat terjadi di Lapas Kelas I Tangerang, tepatnya di Blok C2 pada Rabu (8/9) dini hari pukul 01.45 WIB. Peristiwa ini mengakibatkan 41 orang meninggal dunia, delapan orang luka berat, dan 73 lainnya luka ringan.

Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran menyampaikan kebakaran diduga disebabkan hubungan arus pendek listrik. Namun, tim Puslabfor Mabes Polri, Ditreskrimum Polda Metro Jaya, dan Satreskrim Polres Tangerang masih mendalami lebih lanjut soal penyebab kebakaran ini.

Sementera Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Demokrat, Hinca Panjaitan meminta agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengalokasikan anggaran dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membangun Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia.

Hinca Panjaitam meyampaikan hal itu menyusul peristiwa kebakaran Lapas Kelas I Kota Tangerang yang terjadi Rabu (08/09/2021).

"Pimpinan, saya kira bisa suarakan hari ini agar presiden mengalokasikan budget-nya dari pembangunan infrastruktur lainnya untuk Lapas-Lapas kita ini," kata Hinca dalam agenda Rapat Kerja antara Komisi III dengan LPSK di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (08/09/2021).

Hinca menilai langkah itu bertujuan untuk mencegah agar peristiwa serupa tak terulang di Lapas lainnya di kemudian hari. Ia juga mengatakan Lapas di Indonesia harus memiliki aspek kemanusiaan untuk membina para tahanan.

"Ini memang untuk kemanusiaan dan mencegah untuk tak terulang lagi peristiwa tadi pagi," kata Hinca.

Terpisah, Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PPP Arsul Sani meminta Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly untuk menyelidiki apakah ada unsur kesengajaan atau kelalaian atas insiden kebakaran tersebut.

"Jadi dalam hal ini biarkan Bareskrim Polri melakukan penyelidikan untuk menuntaskannya, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi," kata Arsul dalam keterangan resminya, Rabu (08/09/2021).

Tak hanya itu, Arsul juga meminta Yasonna melakukan audit keamanan secara menyeluruh terhadap kondisi Lapas di seluruh Indonesia. Hal itu bertujuan agar peristiwa serupa tak terulang kembali di kemudian hari.

"Ini tragedi yg sangat menyedihkan. Komisi III tidak ingin terburu-buru menyalahkan atas peristiwa kebakaran ini," kata Arsul.

Diketahui, kebakaran terjadi di Blok C2 Lapas Kelas I Kota Tangerang yang dihuni oleh 122 orang. Sedangkan secara keseluruhan Lapas Kelas I Tangerang diisi oleh 2.072 orang.

Terdapat 41 korban tewas atas insiden tersebut. Terdapat 8 orang luka berat yang saat ini mendapat perawatan di RSUD Tangerang, dan 73 orang menjalani perawatan luka ringan di Poliklinik Lapas.

Sebanyak 41 orang tewas rincian 40 orang ditemukan di lokasi serta telah dievakuasi oleh petugas Pemadam Kebakaran, Tim SAR, dan Petugas Lapas Tangerang. Sementara itu, satu orang meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Delapan orang dirujuk ke RSUD Kota Tangerang. Sembilan orang mengalami luka ringan yang dirawat di klinik Lapas Tangerang dan 64 orang ditempatkan sementara di Masjid Lapas Kelas 1 Tangerang.

Api dilaporkan padam sekitar pukul 03.30 WIB. Lapas Tangerang terus berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait kebakaran tersebut.

Api dilaporkan padam sekitar pukul 03.30 WIB. Lapas Tangerang terus berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait kebakaran tersebut.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan Lapas Kelas I Tangerang yang terbakar mengalami kelebihan kapasitas 400 persen. Ada 2.072 orang yang menghuni Lapas Tangerang.

"Nah, Lapas Tangerang ini overkapasitas 400 persen. Penghuni ada 2.072 orang," kata Yasonna dalam jumpa pers, Rabu (08/09/2021).
 

Sudding menilai Yasonna seharusnya dapat dievaluasi kerjanya sebagai Menteri Hukum dan HAM. Pasalnya, sudah banyak persoalan di Lapas yang terjadi ketika dia menjabat sampai saat ini
Kebakaran Lapas Tangerang Tewaskan 41 Orang, DPR: Jangan Salahkan Kalapas, Pak Yasonna Harus Tanggungjawab Penuh!

Sudding menilai Yasonna seharusnya dapat dievaluasi kerjanya sebagai Menteri Hukum dan HAM. Pasalnya, sudah banyak persoalan di Lapas yang terjadi ketika dia menjabat sampai saat ini

Rayu | Rabu, 08 September 2021 - 14:05 WIB

Menteri Hukum dan Ham (Menkumham) Yasonna Laoly dan Wamenkumham, Edward Omar Sharif Hiariej meninjau langsung lokasi kebakaran di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Tangerang, Banten, Rabu (08/09/2021).

Sekitar 40 menit berselang, Yasonna tiba di lokasi dan langsung masuk ke dalam Lapas. 

"Rasa duka mendalam saya sampaikan atas jatuhnya korban dalam kebakaran ini. Saya sudah menginstruksikan jajaran untuk secepatnya melakukan evakuasi dan fokus memberikan penanganan terbaik untuk memulihkan korban luka. Ini musibah yang memprihatikan bagi kita semua," ujar Yasonna kepada wartawan, Rabu (08/09/2021). 

Diberitakan sebelumnya, puluhan narapidana meninggal dunia akibat peristiwa kebakaran yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Tangerang, Kota Tangerang, pada Rabu (08/09/2021) dini hari tadi.

Data yang diperoleh redaksi, 41 orang narapidana meninggal sementara puluhan lainnya mengalami luka dan dibawa ke rumah sakit.

"Luka berat ada delapan orang. Kemudian, yang luka ringan ada 72 orang," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran kepada wartawan.

Kabar meninggalnya Napi juga dikonfirmasi oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) yang memastikan ada korban meninggal dunia akibat kebakaran di Lembaga Permasyarakat (Lapas) Tangerang.

"Yang pasti saat ini memang ada korban yang meninggal dan juga ada yang dalam perawatan di RSUD Tangerang," kata Kabag Humas dan Publikasi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM Rika Aprianti saat dikonfirmasi Kantor Berita RMOLJakarta, Rabu (08/09/2021).

Terpisah, Anggota Komisi III DPR, Syarifuddin Sudding meminta Yasonna Laoly bertanggungjawab penuh terkait insiden mengenaskan tersebut.

"Saya kira ini Pak Yasonna yang harus tanggung jawab penuh. Bukan cuma di tingkat Ditjen dan Kalapas. Jangan menyalahkan Kalapas, kan kebijakannya di Menkumham," kata Sudding, Rabu (08/09/2021).

Sudding mengkritik banyak masalah kompleks terkait kondisi Lapas di Indonesia saat ini. Mulai dari isu kelebihan kapasitas, peredaran narkoba hingga tak manusiawinya perlakuan terhadap warga binaan.

Lebih jauh Sudding juga menilai, kebakaran di Lapas Kelas I Tangerang menjadi salah satu akumulasi persoalan yang kerap menimpa Lapas Indonesia saat ini. Padahal, kata dia, Komisi III DPR kerap kali menyuarakan desakan kepada Yasonna untuk membenahi persoalan Lapas.

"Kita minta tak hanya retorikalah, tapi harus ada tindakan riil di lapangan," kata Sudding.

Selain itu, Sudding menilai Yasonna seharusnya dapat dievaluasi kerjanya sebagai Menteri Hukum dan HAM. Pasalnya, sudah banyak persoalan di Lapas yang terjadi ketika dia menjabat sampai saat ini.

"Saya rasa cukup banyak persoalan di lapas dan di bawah kendalinya dia [Yasonna]. Saya kira perlu evaluasi. Presiden evaluasi terhadap menterinya, saya kira terlalu lama nyaman di situ," kata Sudding.

Sudding juga mendorong agar Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Pemasyarakatan bisa disahkan dalam waktu dekat oleh Yasonna. Sebab rancangan aturan itu mengatur banyak mengenai hak-hak narapidana yang seharusnya dijamin pemerintah.

Sebelumnya, Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI, Willy Aditya mengungkapkan bahwa RUU Pemasyarakatan bakal masuk ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2021.

"DPR saat ini mengingatkan Yasonna segera bahas tentang RUU Pemasyarakatan. Supaya di sahkan. Itu ada hak-hak warga binaan yang harus dipenuhi UU," pungkas Sudding.
 

Dugaan sementara, penyebab kebakaran hebat ini karena arus listrik. Namun, kasus ini masih dalam proses penyelidikan
41 Napi Tewas, Puslabfor Bareskrim Polri Olah TKP Kebakaran di Lapas Tangerang

Dugaan sementara, penyebab kebakaran hebat ini karena arus listrik. Namun, kasus ini masih dalam proses penyelidikan

Viozzy PC | Rabu, 08 September 2021 - 13:15 WIB

Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Bareskrim Polri akan diterjunkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, Banten yang terjadi pada Rabu dini hari, 8 September 2021.

“Ya tim Labfor dikerahkan olah TKP,” terang Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono.

Menurut Jenderal Bintang Dua tersebut Tim Labfor Bareskrim ini nantinya akan melakukan olah TKP guna mengetahui penyebab terjadinya kebakaran yang menewaskan puluhan orang didalam Lapas Tangerang tersebut.

Sementara itu ditempat yang berbeda, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Yusri Yunus enggan menduga penyebab kebakaran yang menewaskan puluhan narapidana tersebut. Memang dugaan awal dari arus pendek listrik. Tapi, Yusri mengatakan, pihaknya saat ini masih menyelidikinya. Sebab, itu hasil dari Puslabfor sangatlah penting.

"Diduga arus pendek listrik, tapi masih kami dalami, tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya "

Sebelumnya, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pemuda Kelas 1A Tangerang dikabarkan terbakar pada Rabu dini hari, 8 September 2021. Kabarnya, kebakaran terjadi di Blok G Lapas.

Berdasarkan data informasi sementara, sebanyak 41 narapidana ditemukan meninggal dunia di dalam sel.

"Korban meninggal ada 41 orang, saat ini sudah dievakuasi ke RSUD Kabupaten Tangerang," tutur Kombes Pol. Yusri Yunus

Polisi juga mendata sebanyak 8 narapidana yang mengalami luka-luka dan dibawa ke RSUD Kabupaten Tangerang dan Rumah Sakit Sintanala.

"Ada 8 orang yang luka berat kita evakuasi ke RSUD Kabupaten Tangerang dan Sintanala, mereka mendapat perawatan di ICU. Sementara ada 72 orang lainnya yang luka ringan dirawat di lapas," tegas Kabid Humas Polda Metro Jaya

Saat ini, situasi sudah terkendali, sementara sejumlah mobil ambulans masih bersiaga di Lapas Kelas I Tangerang. Dugaan sementara, penyebab kebakaran hebat ini karena arus listrik. Namun, kasus ini masih dalam proses penyelidikan.

Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Bareskrim Polri juga telah dikerahkan untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) terkait kebakaran tersebut
Polri Terjunkan Tim DVI, Bantu Identifikasi 41 Korban Kebakaran Lapas Tangerang

Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Bareskrim Polri juga telah dikerahkan untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) terkait kebakaran tersebut

Viozzy PC | Rabu, 08 September 2021 - 18:15 WIB

Tim Disaster Victim Indetification (DVI) Mabes Polri dikerahkan untuk mengidentifikasi 41 korban kebakaran Lapas Kelas I Tangerang, Banten.

“DVI juga diturunkan,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono, Rabu (8/9/2021).

Nantinya, Tim DVI bakal melakukan identifikasi terhadap korban-korban yang diduga meninggal dunia akibat terbakar.

“Ya (identifikasi korban),” ujar Argo.

Selain itu, tim Laboratorium Forensik (Labfor) Bareskrim Polri juga telah dikerahkan untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) terkait kebakaran tersebut.

Tim Labfor nantinya akan melakukan olah TKP untuk mencari penyebab terjadinya amuk si jago merah tersebut.

“Ya (tim Labfor dikerahkan olah TKP),” ucap Argo.

Diketahui, kebakaran hebat melanda Lapas Kelas I Tangerang, sekira pukul 01.50 WIB, dini hari tadi. Sebanyak 41 orang menjadi korban tewas akibat kebakaran tersebut.

Sementara sejumlah orang yang mengalami luka-luka telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

pihaknya mendalami dugaan unsur kelalaian dalam kebakaran di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang
Periksa 22 Saksi, Polisi Dalami Unsur Kelalaian dalam Kasus Kebakaran Lapas Tangerang

pihaknya mendalami dugaan unsur kelalaian dalam kebakaran di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang

Ind | Kamis, 09 September 2021 - 18:40 WIB

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, pihaknya mendalami dugaan unsur kelalaian dalam kebakaran di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang yang terjadi pada Rabu (8/9/2021).

"Ini yang kita lakukan pendalaman, Pasal 187 dan 188 KUHP dan Pasal 359 KUHP tentang kelalaian. Apakah ada unsur kesengajaan atau tidak atau ada unsur kelalaian di (pasal) 359," kata Yusri dalam keterangannya, Kamis (09/09).

Yusri mengatakan, saat ini sudah memeriksa 22 orang saksi terkait insiden kebakaran hingga menewaskan 44 narapidana Lapas Tangerang

Sebanyak 22 orang saksi tersebut terdiri dari petugas jaga lapas, sejumlah napi yang selamat dan pendamping napi di blok kamar yang terbakar.

"Jadi tolong jangan berasumsi. Ada beberapa media yang sudah memprediksi sendiri. Sampai saat ini Puslabfor Inafis masih bekerja melakukan olah TKP," kata Yusri.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Adi Hidayat sebelumnya berujar, pihaknya menyimpulkan bahwa kebakaran itu bermula dari satu titik api.

Adapun kesimpulan tersebut berdasarkan olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan kepolisian.

"Kemudian, dari olah TKP, disimpulkan bahwa titik api hanyalah satu, titik api bersumber dari satu titik," ungkap Tubagus kepada awak media, Rabu.

Api lantas mengenai atap di balik sebuah plafon. Lantaran plafon terbuat dari tripleks, kebakaran kemudian menyebar dengan cepat.

"Titik api mengenai atap di balik plafon. Plafonnya terbuat dari tripleks yang mudah terbakar," tutur dia.

Tubagus menduga, titik api itu muncul karena ada hubungan arus pendek alias korsleting listrik.

Oleh karena itu, pihaknya mengumpulkan beberapa kabel, alat listrik, dan saluran instalasi listrik. Seluruh alat bukti itu akan diperiksa oleh Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor).

"Pemeriksaan lebih lanjut dari hasil barang-barang yang dikumpulkan itu akan dianalisa di Laboratorium Forensik," ucapnya.