Ismail menjelaskan bahwa tren menghitung popularitas merupakan gabungan percakapan yang bernada positif, negatif, dan netral di media sosial maupun media online. Popularitas itu, kata dia, tidak peduli akan sentimen yang diungkapkan oleh netizen, baik sentimen positif, negatif maupun netral
Strategi Puan Tebar Baliho Membuahkan Hasil, Popularitasnya Berhasil Samai Ridwan Kamil

Ismail menjelaskan bahwa tren menghitung popularitas merupakan gabungan percakapan yang bernada positif, negatif, dan netral di media sosial maupun media online. Popularitas itu, kata dia, tidak peduli akan sentimen yang diungkapkan oleh netizen, baik sentimen positif, negatif maupun netral

Rayu | Selasa, 10 Agustus 2021 - 08:05 WIB

Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi mengatakan, berdasarkan hasil analisanya, popularitas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI sekaligus Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Puan Maharani meningkat sejak baliho dan billboard bergambar dirinya di sejumlah ruang publik ditebar.

Bahkan, masih berdasarkan analisa Drone Emprit, popularitas Puan kini setara dengan popularitas Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. 

"Tren Puan setara dengan tren Ridwan Kamil, setelah dikatrol dengan kampanye baliho. Respons netizen terhadap baliho turut meningkatkan tren Puan," kata Ismail dalam akun Twitternya @ismailfahmi, Minggu (08/08/2021). 

Ismail memberikan sejumlah tambahan penjelasan mengenai cuitan di Twitter. Hasil analisis Drone Emprit mengungkapkan, total penyebutan nama Puan Maharani dalam percakapan di semua media pada Sabtu (07/08/2021) hampir mencapai 5.000 kali. Capaian tersebut juga sempat diperoleh Ridwan Kamil pada 12 Juli 2021 yang sama-sama hampir 5.000 kali penyebutan.

Bahkan, pada 7 Agustus itu, nama Ridwan Kamil justru tergeser turun menjadi kurang dari 1.000 kali penyebutan. 

"Tren Puan awalnya paling rendah, perlahan naik setara RK, lalu mengejar Ganjar," ujarnya. 

Sementara itu, tren Puan Maharani juga diketahui hampir mengejar Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Berdasarkan grafik analisis Drone Emprit, pada 7 Agustus 2021, nama Ganjar Pranowo justru lebih sedikit disebut daripada Puan.

Nama Ganjar Pranowo pada periode itu hanya sedikit di atas 2.500 kali penyebutan, sedangkan Puan hampir 5.000 kali. Akan tetapi, Puan masih jauh jika ingin mengejar Ganjar Pranowo seperti pada 8 Juli 2021. Pada saat itu, nama Ganjar telah disebut lebih dari 7.500 kali, sedangkan Puan kurang dari 2.500 kali. 

Ismail berpendapat, baliho Puan yang bertebaran sejak beberapa minggu terakhir disinyalir guna menggeser popularitas Ganjar. 

"Baliho Puan yang bertebaran disinyalir untuk menggeser atau mengimbangi popularitas Ganjar Pranowo," imbuh dia. 

Selain nama dua tokoh yang dibandingkan dengan Puan, Drone Emprit juga menampilkan grafik perbandingan antara Puan dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Namun, pada grafik tersebut nama Puan masih jauh berada di bawah Anies Baswedan. Hal itu terlihat pada 7 Agustus, nama Anies disebut hampir 15.000 kali, sedangkan Puan hanya hampir 5.000 kali.

"Dibandingkan dengan tren Anies Baswedan, tren Puan jauh di bawahnya," tutur Ismail. 
Adapun tren popularitas itu dihitung Drone Emprit berdasarkan periode 7 Juli 2021 hingga 7 Agustus 2021 atau dalam arti satu bulan. Ismail melanjutkan, jika digabungkan, tren keempat tokoh tersebut dalam satu bulan terakhir di semua media masih dimenangkan oleh Anies Baswedan. 

"Tren Anies selalu tertinggi, diikuti oleh tren Ganjar Pranowo, lalu Ridwan Kamil," terangnya. 

Lebih lanjut, Drone Emprit juga menghitung analisis percakapan di sejumlah media mulai dari Twitter, Facebook, Instagram, Youtube dan media massa online. Hasilnya yaitu share of voices 4 tokoh dalam satu bulan terakhir, Anies 49 persen, Ganjar 27 persen, Ridwan Kamil 13 persen, dan Puan 12 persen. 

"Share of voices berdasarkan kanal, berita online, Anies 43 persen, Ganjar 25 persen, Ridwan Kamil 19 persen, dan Puan 13 persen. Lalu Twitter, Anies 50 persen, Ganjar 27 persen, Ridwan Kamil 12 persen, dan Puan 12 persen," ungkap Ismail.

Ismail menjelaskan bahwa tren menghitung popularitas merupakan gabungan percakapan yang bernada positif, negatif, dan netral di media sosial maupun media online. Popularitas itu, kata dia, tidak peduli akan sentimen yang diungkapkan oleh netizen, baik sentimen positif, negatif maupun netral. 

Oleh karena itu, Ismail menilai bahwa popularitas saja tidak cukup untuk digunakan meraih suara masyarakat. Terlebih, tambah dia, meningkatnya popularitas Puan justru lebih banyak berisi percakapan atau sentimen negatif terkait baliho. 

"Populer saja tidak cukup, apalagi populer karena hal yang negatif dan tidak ada positifnya. Harus ada bukti kerja dan prestasi yang bisa digunakan untuk menaikkan tren positif," pungkas Ismail.
 

Mereka perlu menyusun kerja politik guna memenangkan Capres-Cawapresnya. Apalagi, nama-nama yang mentereng di baliho sebenarnya kurang berkilau elektabilitasnya
Pilpres 2024 Masih Jauh, Elite Partai Sudah 'Perang Baliho', Pengamat: Mereka Sadar Namanya tak Sementereng Anies!

Mereka perlu menyusun kerja politik guna memenangkan Capres-Cawapresnya. Apalagi, nama-nama yang mentereng di baliho sebenarnya kurang berkilau elektabilitasnya

Rayu | Sabtu, 07 Agustus 2021 - 21:25 WIB

Sejak beberapa minggu terakhir, bermunculan baliho dengan gambar para elite partai, bagai jamur di musim hujan. Fenomena ini melahirkan berbagai komentar di tengah masyarakat.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menyindir Puan Maharani, Airlangga Hartanto, dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang sudah memasang baliho, meski Pilpres 2024 masih kurang lebih tiga tahun lagi. 

Adi Prayitno menganggap, mereka yang memasang baliho sebenarnya mengakui dirinya tak terkenal di tengah masyarakat.

Adi Prayitno mengamati, Puan, Airlangga, dan Cak Imin memilih memasang baliho dengan disertai pernyataan normatif saja. Langkah ini diambil semata demi memperkenalkan diri.

"Mereka sadar untuk dipilih itu harus dikenal orang dulu, nggak mungkin orang milih kalau nggak kenal. Ini cara kenalkan diri dengan baliho berisi statement normatif terkait isu kondisi kekininian dan COVID-19," kata Adi Prayitno, Sabtu (07/08/2021).

Adi Prayitno menilai, wajar jika bursa politik akan kian panas mendekati Pilpres 2024. Salah satu tandanya ialah kemunculan baliho para politisi yang akan bertarung.

"Menurut kalkulasi politik, Pilpres sudah dekat. Baliho-baliho itu yang bicara. Baliho nggak mungkin banyak bertebaran kalau nggak menanggap Pilpres dekat," ujar Adi.

Adi Prayitno juga menyampaikan mesin parpol sudah seharusnya mulai bergerak dari sekarang. Mereka perlu menyusun kerja politik guna memenangkan Capres-Cawapresnya. Apalagi, nama-nama yang mentereng di baliho sebenarnya kurang berkilau elektabilitasnya.

"Kerja politik harus mulai dari sekarang. Baliho kenalkan diri untuk tingkatkan popularitas. Karena nama-nama di baliho nggak sementereng Anies (Baswedan), Prabowo (Subianto), Gandjar (Pranowo)," ucap Adi Prayitno.
 
Sebelumnya, salah satu senior dan pendiri Partai Amanat Nasional (PAN), Abdillah Toha menyindir pemasangan baliho Ketua DPP PDIP Puan Maharani, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Padahal, rakyat tengah menderita akibat pandemi COVID-19.

"Halo Puan, Erlangga (Ketum Golkar), Muhaimin, AHY, apa tidak risih dan malu memajang gambar diri besar-besar di sekujur Indonesia bersaing untuk pilpres yang masih 3 tahun lagi," cuit Abdillah lewat akun Twitter pribadinya yang sudah dikonfirmasi, Jumat (06/08/2021).
 

republika

Isinya: pintu PDIP sudah tertutup rapat untuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk Pilpres 2024.
Baliho Puan Itu Sinyal dari Megawati, PDIP Tutup Pintu untuk Ganjar

Isinya: pintu PDIP sudah tertutup rapat untuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk Pilpres 2024.

Triaji | Kamis, 12 Agustus 2021 - 19:21 WIB

Baliho Puan Maharani yang berteberannya, khususnya di Pulau Jawa mengandung pesan. Isinya: pintu PDIP sudah tertutup rapat untuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk Pilpres 2024.

Sebab, Ganjar yang juga politikus PDIP dituding memiliki ambisi untuk maju sebagai capres 2024. Terlebih, namanya selalu berada di posisi 3 besar survei politik.

Begitu bacaan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno dalam program Tanya Jawab Cak Ulung bertajuk "Utak-atik Pilpres 2024", Kamis (12/8).

"Terkait baliho Puan, selain menaikan elektabilitas, juga adalah pesan bahwa Capres PDIP adalah hanya satu, yakni Puan Maharani," tandas Adi.

Menurut Adi, di balik sikap PDIP yang demikian itu, sebetulnya bisa dimanfaatkan oleh Ganjar Pranowo untuk mengeruk keuntungan. Karena di Indonesia, kata Adi, orang yang terdzalmi biasanya sangat cepat mendapat simpati rakyat.

"Hati-hati orang yang dizalimi ini biasanya bisa mengeruk keuntungan," tandas Adi.

Disisi lain, Adi dikutip RMOL menilai Puan Maharani yang sengaja disebar saat ini tidak memiliki dampak yang signifikan, tanpa diiringi dengan kerja-kerja politik dalam kerangka pengendalian pandemi Covid-19. Menurutnya, akan lebih berdampak jika Puan mampu mengkapitalisasi dirinya sebagai Ketua DPR RI.

"Misalnya Puan, melobi seluruh anggota DPR RI untuk dipotong gajinya salama satu bulan atau dua bulan untuk membantu rakyat terdampak pandemi Covid. Jadi baliho itu gak penting, yang diinget ya (kerja-kerja politik) itu. Intinya Puan bisa mengkapitalisasi dirinya sebagai ketua DPR," kata Adi.

Wakil Ketua Dewan Syuro PKS ini juga mewanti-wanti pihak-pihak yang hendak membuat baliho atau poster gambar Anies dengan pasangan siapapun di media sosial, untuk terlebih dahulu meminta izin. Sehingga dampaknya tidak negatif bagi orang yang berada dalam gambar poster tersebut
Elite Partai Tebar Pesona di Baliho, PKS Ingatkan Pendukung Anies Agar Jangan Ikut-ikutan!

Wakil Ketua Dewan Syuro PKS ini juga mewanti-wanti pihak-pihak yang hendak membuat baliho atau poster gambar Anies dengan pasangan siapapun di media sosial, untuk terlebih dahulu meminta izin. Sehingga dampaknya tidak negatif bagi orang yang berada dalam gambar poster tersebut

Rayu | Rabu, 11 Agustus 2021 - 12:15 WIB

Petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid (HNW) mengingatkan pendukung Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan agar tidak ikut-ikutan dengan para pendukung politisi yang saat ini baliho-nya bertebaran di berbagai penjuru.

Seperti diketahui, baliho para politisi yang bertebaran di sudut-sudut jalan telah mendapat sorotan negatif dari publik. Terutama baliho-baliho politisi yang berniat maju di Pilpres 2024.

Oleh sebab itu, HNW mewanti-wanti agar pendukung Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan tidak melakukan hal serupa. Anies memang tidak pernah memasang baliho seperti politisi lain yang berkeinginan untuk menjadi capres di Pilpres 2024.

“Selama ini 'kan enggak ada tuh balihonya Mas Anies. Jadi jangan juga diseret-seret Pak Anies untuk menjadi bagian dari yang dinyinyirin oleh publik,” ujar HNW di Jakarta, Rabu (11/08/2021).

Wakil Ketua Dewan Syuro PKS ini juga mewanti-wanti pihak-pihak yang hendak membuat baliho atau poster gambar Anies dengan pasangan siapapun di media sosial, untuk terlebih dahulu meminta izin. Sehingga dampaknya tidak negatif bagi orang yang berada dalam gambar poster tersebut.

“Jangan menyeret Pak Anies untuk dinyinyiri dan disikapi negatif oleh publik,” pungkas HNW.

Elektabilitas Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungguli Puan Maharani dan Airlangga Hartarto.
Modal Baliho, Kartu Mati di Pilpres 2024, Puan Maharani dan Airlangga Selalu Kandas di Survei

Elektabilitas Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungguli Puan Maharani dan Airlangga Hartarto.

Triaji | Minggu, 08 Agustus 2021 - 15:49 WIB

Nama Puan Maharani dan Airlangga Hartarto kembali tenggelam di survei. Kali ini, survei yang dilakukan oleh New Indonesia Research & Consulting mengungkapkan elektabilitas Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungguli Puan Maharani dan Airlangga Hartarto.

"Survei menunjukan di tengah perang baliho politisi, elektabilitas Puan Maharani dan Airlangga masih jauh tertinggal, justru AHY yang paling berkibar," kata Direktur Eksekutif New Indonesia Research & Consulting Andreas Nuryono di Jakarta, Minggu (8/8).

Hasil survei menunjukkan ada peningkatan elektabilitas tiga politisi tersebut, tetapi kenaikan signifikan paling banyak dialami oleh Ketua Umum Demokrat AHY.

Tren kenaikan elektabilitas AHY diketahui sejak survei dilakukan pada Mei 2021. Awalnya, elektabilitas anak sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut hanya sekitar dua persen. Namun, angka itu naik menjadi lima persen.

Sedangkan Puan Maharani yang juga Ketua DPR RI naik sedikit dari 1,1 persen menjadi 1,4 persen, demikian pula dengan Airlangga Hartarto Ketua Umum Partai Golkar dengan elektabilitas 1,3 persen.

Masih pada survei yang sama, posisi pertama ditempati oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Sedangkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersaing ketat pada urutan kedua dan ketiga.

Pada Juni 2020, berdasarkan hasil survei, Prabowo Subianto masih unggul dan berada di urutan pertama, namun disalip Ganjar Pranowo pada Oktober 2020. Saat ini elektabilitas Prabowo sebesar 16,7 persen, terpaut tipis dari Ridwan Kamil 16,1 persen.

Andreas menjelaskan, dengan makin kuatnya elektabilitas Ganjar sebagai calon presiden, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang masih bersikukuh mengusung Puan, sebaiknya mempertimbangkan kembali calon yang nantinya diusung pada Pemilihan Presiden 2024.

Selain itu, survei New Indonesia juga memaparkan tokoh papan tengah yang berpotensi menjadi presiden pada pemilihan selanjutnya. Untuk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperoleh elektabilitas 6,0 persen, ditempel ketat AHY sebesar 5,8 persen.

Seperti dilansir dari Antara, Sandiaga Uno 5,2 persen, Tri Rismaharini 4,7 persen, dan Erick Thohir 4,5 persen. Kemudian, Giring Ganesha memperoleh elektabilitas 2,6 persen, dan Khofifah Indar Parawansa 2,1 persen.

Selanjutnya, Moeldoko 1,1 persen, dan Mahfud MD 1,0 persen. Nama-nama lainnya masih di bawah satu persen, dan tidak tahu atau tidak menjawab 10,2 persen.

Survei New Indonesia Research & Consulting dilakukan pada 21 hingga 30 Juli 2021 dengan sambungan telepon kepada 1.200 orang responden yang dipilih secara acak dari survei sebelumnya sejak 2019, dengan "margin of error" sekitar 2,89 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.